Jumat, Agustus 07, 2009

MUSIM ASAP RIAU

Sumber: http://riaupos.com/main/index.php?mib=berita.detail&id=19939

Jum'at, 07 Agustus 2009 , 08:20:00
Sekolah di Lima Kabupaten dan Kota Diliburkan
Asap Bisa Sebabkan Mutu Generasi Penerus Anjlok

PARAH: Kondisi kabut asap di Pekanbaru yang makin parah terlihat, Kamis (6/8/2009) pagi.(mirshal/riau pos)
PEKANBARU (RP) - Dampak buruk akibat kabut asap semakin meluas. Kemarin, lima kabupaten/kota meliburkan sekolah akibat kabut asap yang semakin gawat dan dikhawatirkan mengganggu kesehatan peserta didik.

Sekolah diliburkan mencegah dampak buruk bagi kesehatan generasi masa depan ini akibat mengalami ancaman ganguan kesehatan yang terus menerus. Apalagi kabut asap ini terjadi hampir setiap tahun.
Rektor Universitas Riau Prof Ashaluddin Jalil dan juga pengamat pendidikan Riau Prof Dr H Samsul Nizar MA bahkan menyimpan kekhawatiran lebih ekstrem. Kejadian menahun ini bisa membuat anjlok mutu generasi penerus Riau di masa depan. “Sudah 13 tahun kita begini,” ujarnya kepada Riau Pos, Kamis (6/8).

Libur massal yang dilakukan di Provinsi akibat kabut asap meliputi lima kabupaten/kota se-Riau, yakni Siak, Pelalawan, Pekanbaru, Indragiri Hulu, dan Bengkalis. “Anak sekolah harus diliburkan. Jangan tunggu sampai bertumbangan. Kalau sudah sangat tidak sehat, berarti itu sudah membahayakan bagi anak-anak. Jangan tunggu apa-apa lagi. Jangan lalai,” ungkap Ashaluddin.

Menurut Syamsul Nizar, jika terus berlanjut maka akan berdampak pada menurunnya mutu pendidikan di Riau, karena dengan seringnya sekolah meliburkan siswa pastinya target pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak tercapai. Oleh karena itu harus ada langkah-langkah konkrit yang segera dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi hal tersebut seperti memberikan modul pembelajaran tambahan yang dapat menjadi alter­natif bagi siswa untuk mengejar ketertinggalan pelajaran karena intensitas asap yang membuat pihak sekolah berinisiatif meli­burkan sekolah.

Di Kabupaten Siak, Dinas Pendidikan setempat mengambil kebijakan dengan meliburkan sekolah, mulai dari TK, PAUD, SD, SMP, SMA. Padahal sejak Senin-Rabu (3-5/8) lalu, khusus bagi anak-anak TK, PAUD dan SD kelas 1, 2 dan 3 sudah diliburkan. Karena kondisi asap tidak menunjukan perubahan, maka libur sekolah secara mendadak ini diperpanjang hingga Sabtu (8/8). Kali ini untuk seluruh jenjang sekolah diliburkan.

“Kita sudah membuat imbauan ke UPTD Disdik se Kabupaten Siak. Sehubungan asap semakin tebal dan tifak menguntungkan bagi kesehatan anak-anak sekolah, maka sekolah diperpanjang liburnya sampai hari Sabtu 8 Agust dan kembali ke sekolah tanggal 10 Agustus,’’ ujur Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak Drs H Arfan Usman MPd kepada Riau Pos, Kamis (6/8).

Pantauan Riau Pos kemarin, sejak pagi hingga siang kabut asap tebal menutupi Kota Siak dan jarak pandang hanya berki­sar 100-300 meter. Bahkan di daerah Merempan Hulu jarak pandang pada pagi hari hanya 5 meter, sehingga warga takut untuk melakukan aktifitas diluar rumah.

Di Kabupaten Pelalawan, Dinas Pendidikan setempat meliburkan seluruh sekolah di 11 kecamatan pada Jumat dan Sabtu (7-8/8). Keputusan ini diambil setelah mendengar masukan dari seluruh kecamatan tentang kondisi lingkungan yang memburuk akibat kabut asap. Keputusan libur ini tidak berlaku di Kecamatan Kuala Kampar, satu-satunya kecamatan yang tidak terimbas kabut asap. Kepala Bidang Kurikulum Dinas Pendidikan Bandrio SPs mengungkapkan, sebelum memutuskan libur telah berkonsultasi lebih dulu dengan Plt Bupati Pelalawan Rustam Effendi.

Di Pangkalankerinci, sepanjang hari kemarin jarak pandang tidak pernah melebihi 500 meter. Bahkan pada pagi hari, jarak pandang hanya berkisar antara 100 sampai 200 meter. Sekolah akan dibuka kembali Senin (10/8) depan. Namun apabila kondisi belum memungkinkan, pihaknya akan mengeluarkan pengumuman baru.

Di Kabupaten Indragiri Hulu, kabut asap yang berlangsung sejak Juli lalu mencapai kondisi terparah Kamis (6/8). Akibatnya sekolah TK, SD, dan SMA diliburkan. Di Kota Rengat, kemarin sekitar pukul 08.00 WIB, jarak pandang normal hanya mampu menembus jarak sekitar 80 meter saja.

Kepala Dinas Pendidikan Inhu H Mazuar Feri SH MM mengatakan, akibat kabut asap semakin tebal, sejumlah sekolah terpaksa diliburkan dalam batas waktu yang tidak ditetapkan. ‘’Sejumlah sekolah terpaksa diliburkan akibat kabut asap semakin tebal’’, ujarnya.

Dikatakannya, keputusan untuk libur sekolah tersebut sudah diberikan dispensasi selama dua hari ke depan. Namun seandainya kabut asap tidak kunjung berkurang, kemungkinan libur sekolah tersebut akan diperpanjang. Daerah yang sudah diliburkan sekolahnya untuk tingkat SD hingga SMA di Kecamatan Kuala Cenaku, Kecamatan Rengat dan Kecamatan Rengat Barat.


Menyikapi kondisi ini, Pemkab Inhu meminta bantuan Pemerintah Provinsi Riau untuk mengatasi Karhutla. ‘’Kita sudah melapor ke Gubernur tentang keadaan ini dan menyatakan kita tidak mampu dan kewalahan mengatasi Karhutla. Kita juga memohon bantuan pada Puskarhutla Provinsi,’’ ujar Bupati Inhu Drs H Mujtahid Thalib saat menghadiri Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Kamis (6/8).

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Inhu Zulfikri SH mengatakan, jika melihat ketebalan kabut asap kemarin, secara kasat mata pihaknya sudah mengategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Penerbangan SSK II Kacau
Jadwal penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Kamis (6/8) kembali kacau akibat jarak pandang terbatas. Penerbangan di sempat ditutup selama dua jam mulai pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB. “Kondisi cuaca memang tidak baik untuk penerbangan, dan ini memaksa maskapai penerbangan untuk melakukan penundaan (delay) selama satu jam dari jadwal normal,’’ kata Air Port Duty Manager Bandara SSK II, Sudarno kepada Riau Pos, Kamis (6/8).

Penutupan ini akibat jarak hanya mencapai 300 meter pada pukul 06.00 WIB dan baru pukul 08.00 WIB baru normal. Dua penerbangan tujuan Jakarta tertunda. Yakni Mandala Airlines dengan nomor penerbangan MDL 071 yang seharusnya berangkat pukul 06.30 WIB. Setelah itu penerbangan Lion Air dengan nomor penerbangan LNI 393 pukul 07.00 WIB WIB juga mengalami penundaan.

Di Bandara Pinang Kampai Dumai, selama Juli 2009, setidaknya 17 kali delay dan 3 kali penerbangan dibatalkan karena kabut asap.

Keterlambatan juga menimpa helikopter yang ditumpangi Gubernur Riau HM Rusli Zainal saat menuju Teluk Kuantan, Kabupaten Kuansing untuk membuka pacu jalur. Seharusnya Gubri sudah harus mendarat di helipad di depan Kantor Bappeda Kuansing pukul 10.00 WIB dan langsung membuka kegiatan. Namun kabut asap tebal dan cuaca mendung menyebabkan Gubri mendarat pukul 12,00 WIB.

Gubri sendiri mengaku, bahwa kabut asap saat ini sudah mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, dan menghambat kedatangan wisatawan ke Riau. Permasalahan ini, sebutnya, karena Karhutla masih terjadi di Riau. Dikatakan, berbagai penanggulangan Karhutla sudah dilaksanakan Pemprov Riau dalam menanggulangi masalah Karhutla. Bukan hanya itu, dana tanggap darurat juga direalisasikan untuk penanggulangan peristiwa tahunan ini. “Masyarakat dan perusahaan saya harapkan bisa bersama penanggulangan kabut asap di Riau. Hentikan pembakaran lahan dan hutan,’’ ujarnya.

Kemarau
Musim kemarau yang terjadi di Provinsi Riau saat ini, diprediksikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru akan berlangsung hingga Oktober. Hal ini dikatakan langsung Kepala BMKG Pekanbaru Philip Mustamu kepada Riau Pos Kamis (6/8).

“Untuk Riau berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau ini akan bertahan hingga Oktober mendatang. Meskipun ada pengaruh dari badai El Nino namun tidak signifikan, sebab El Nino yang akan itu hanya bersifat sedang,’’ kata Philip menjelaskan. Sementara itu, berdasarkan monitoring satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18 pada Kamis (6/8) pukul 13.30 WIB, terdapat sebanyak 44 titik api yang terbagi di delapan kabupaten. Kondisi ini meningkat tajam dari hari sebelumnya.

Bisa Diganjar 10 Tahun Penjara
Di bagian lain, pengamat lingkungan di Riau Dr Mubarak mengatakan, dalam menanggulangi peningkatan intensitas asap, pemerintah beserta aparat terkait dapat menerapkan Undang-undang Nomor 18 tahun 2004 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 48 berbunyi setiap orang yang dengan sengaja melakukan pembakaran lahan yang menyebabkan pencemaran udara dapat dikenakan sanksi paling lama 10 tahun penjara dengan denda Rp10 Miliar. Selain itu Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 Pasal 49 juga jelas berbunyi pemegang areal lahan bertanggung jawab pada arealnya jika terjadi kebakaran hutan.(kas/rpg/ksm/bun/fat/cr9/cr1/cr6/cr8/ndi/fia)

Tidak ada komentar: