Rabu, Agustus 15, 2007

Arah Pendidikan Jangka Panjang Sulit Diprediksi

BANDUNG, (PR).-
Stabilitas politik nasional yang selalu berubah-ubah membuat penyusunan skenario pendidikan dalam jangka panjang menjadi sangat sulit dilakukan. Memprediksi arah pendidikan dalam waktu 25 tahun pun menjadi pekerjaan pelik yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Salah satu perumus Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dari Universitas Islam Nusantara, Dedi Mulyasana, mengungkapkan hal itu dalam diskusi perencanaan RPJPD bidang pendidikan dalam 25 tahun ke depan di Badan Perencanaan Daerah Provinsi Jawa Barat, Jln. Ir. H. Djuanda Bandung, Selasa (14/8). Selain aspek pendidikan, diskusi yang diselenggarakan dalam bentuk focus group discussion juga dibagi dalam aspek agama dan kebudayaan. Salah satu tujuan adalah untuk mendapatkan masukan untuk menyempurnakan Rancangan RPJPD Provinsi Jabar 2005-2025.

Menurut Dedy,dalam 25 tahun ke depan, rumusan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Barat yang disusun bersama tokoh-tokoh pendidikan Jawa Barat diharapkan dapat mengantarkan masyarakat pendidikan Jawa Barat menjadi masyarakat yang mampu bersaing di kancah nasional dan global.

Dedi membenarkan, bukan hal yang mudah untuk mencapai target tersebut. Sebab, pendidikan diselimuti berbagai masalah yang kompleks terutama kultur belajar siswa dan kinerja guru yang masih belum bagus.

"Sekarang siswa berada di kelas itu bukan karena panggilan ingin belajar, tetapi lebih karena adanya tekanan kultur yang mengharuskan mereka berada di kelas. Apakah itu orang tuanya marah jika tidak sekolah, atau diskors karena absen, atau bahkan ditangkap polisi jika berada di luar sekolah. Jadi, mereka terpaksa berada di kelas dan bukan karena ingin meningkatkan kualitas diri, tetapi lebih kepada menunggu lonceng berbunyi," tuturnya.

Ia mengatakan, kualitas di sini bukan hanya dilihat dari angka serta nilai sekolah mereka, melainkan dalam arti nilai tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.
Kinerja tenaga pengajar pun, dalam pandangan Dedy, belum sampai kepada tahap yang memuaskan. Sebab, sebagian besar guru masih bergelut dengan urusan perut. "Bagaimana mau konsentrasi mengajar kalau mereka masih dipusingkan dengan urusan keuangan," katanya.

Menurut dia, berdasarkan Kongres Guru Internasional 2007, kesejahteraan guru di Indonesia setara dengan kesejahteraan guru di Afrika. Artinya, guru di Indonesia masih masuk dalam kategori miskin.

"Harusnya guru itu dijadikan sebagai profesi sehingga mereka profesional dan tidak salah mengajar. Di Malaysia saja gaji guru itu mencapai Rp 15 juta per bulan," katanya.

Sertifikasi
Program sertifikasi guru yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan guru, menurut Dedi, menjadi salah satu upaya yang positif. Namun, yang terjadi saat ini sertifikasi malah menjadi tuntutan administrasi saja agar guru bisa mendapat tambahan gaji.

"Yang dimaksud sertifikasi kan bukan seperti itu, tetapi menjadi sebuah simbol profesionalisme seorang guru. Tapi, harus diakui memang sulit dan serba salah juga," katanya.
Dedi berpendapat, yang harus dilakukan sekarang adalah perubahan kultur dalam kegiatan belajar-mengajar. Anggaran sebesar apa pun tidak akan berbuat banyak jika kultur di masyarakat dan tenaga kependidikan masih seperti saat ini.

"Terutama yang harus menjadi fokus adalah pendidikan di usia dini, yakni setingkat TK. Usia pembentukan kepribadian itu ada di TK. Di usia ini hal-hal yang sifatnya kognitif semestinya jangan dulu diperkenalkan. Sebab, belum saatnya mereka bisa baca tulis, tetapi bagaimana caranya menumbuhkan spirit, budaya belajar, dan motivasi. Itu yang diperlukan," ungkapnya.

Masyarakat pun, menurut dia, hendaknya sadar dan mengerti bahwa sekolah TK itu bukan untuk mengajar anak-anak membaca dan menulis. Biarkan guru yang mendidik anak-anak sesuai dengan usianya. Jangan dicampuri oleh orang tua yang menginginkan anaknya pandai membaca dan menulis di bangku TK. Setelah duduk di bangku SD, anak-anak baru bisa diperkenalkan dengan yang namanya membaca dan menulis. “Yang terjadi sekarang kan salah.

Di TK anak-anak dipaksa untuk baca tulis, mau masuk SD pun harus dites baca tulis. Ini yang salah," katanya.

Ke depan, Dedi melanjutkan, semestinya jumlah sekolah TK diperbanyak terutama yang berstatus negeri. Sebab, saat ini hampir 80 persen sekolah TK dimiliki swasta. "Tapi, hal ini juga harus diikuti perubahan pengajar di SD dan sekolah menengah. Misalnya saja, guru besar harus mau turun mengajar di SD, sebab di tingkat ini anak-anak sedang dalam tahap peningkatan IQ. Bukan justru di perguruan tinggi dosennya guru besar, padahal kan IQ mereka sudah tidak bertambah lagi," tuturnya. (A-157)***

Sumber: Pikiran Rakyat Edisi Cetak, Rabu 15 Agustus 2007

Rabu, Agustus 08, 2007

Apa sih alasan kita untuk sombong

Hampir 8 hari gak kirim postingan di Blog, tiba-tiba muncul 6 postingan pada tanggal yang sama (7/08/2007) dengan katagorie sejenis tentang "takabur" alias sombong. Ceritanya lagi kesal dan dongkol, terus googling dengan keyword 2 kata tadi dan dari sekian banyak artikel yang muncul coba ditampilin 6 tulisan tadi, ada yang dari Republika-online, Pikiran Rakyat-online, MQ-DT, dsb. Tujuannya pertama untuk mengingatkan diri sendiri supaya menjauhi sifat takabur dan sombong, lumayan juga untuk bahan materi kalo tiba-tiba diminta kasih tausiyah-nasihat- "sederhana". Mudah-mudahan bagi para penulis artikel tersebut- dan semua fihak terkait- mendapatkan amal baik atas ilmu dan nasehatnya yang bisa disampaikan ke orang lain.

Sebenarnya, awal mula semangat mencari tema tersebut adalah kisah nyata yang dialami langsung oleh istri dan rekan gurunya di Sekolah -guru Playgroup binaan kami-, saya ceritakan di sini untuk mencari pelajaran dari kejadian tsb.

Kronologisnya sebagai berikut:
Istri, yang kebetulan PJS ketua HIMPAUDI kabupaten diminta mengirimkan kontingen untuk acara puncak peringatan hari anak yang diperingati tgl. 5 Agustus 2007. Selain lomba untuk anak dan guru juga ada acara karnaval dan dialog anak PAUD dengan Gubernur.
Karena harus biaya sendiri dan butuh dana besar, ditunjuklah PAUD A yang kebetulan milik Kacab Dinas Pendidikan Kecamatan. Tapi menolak dengan alasan di PAUD kami ada cucu Bupati dan Sang Kacab minta cucu Bupati yang ditunjuk.
Singkat cerita, PLS Diknas Kabupaten dan Himpaudi menyepakati anak dari PAUD kami sebagai utusan untuk dialog dengan Gubernur dan anak dari PAUD A untuk karnaval dan senam (dikeluarkan Surat Perjalanan Dinas resmi).
Singkat cerita lagi, 1 anak dari PAUD kami berangkat bersama guru pendamping plus keluarga besarnya, 1 anak lain batal karena Bad Mood sedangkan istri -Kepala Sekolah- sakit. Mereka berangkat sabtu pagi karena harus gladi resik dan lapor panitia -biasa protokoler acara pejabat-
Ini dia masalahnya, pas hari H saat anak2 dan guru sudah di lokasi acara -pasti rame dong, satu provinsi- menjelang dipanggil tiba2 oknum KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN tadi datang dan marah2, mencak2 kepada guru pendamping di depan orang ramai dan anak2 PLAYGROUP umur 2-3 tahun???? Utusan masing2 kabupaten...

KAU TAK TAU SIAPA AKU? -sampe beberapa kali- KENAPA TAK LAPOR AKU? Dsb.dsb… awalnya sang guru dengan gugup Cuma bilang "emang bapa siapa :)))"…. Pas lama2 ingat oh bapak yang di KACAB DIKNAS….dijawabnya KALAU KAU TAU KENAPA TAK BANTU AKU? AKU DITOLAK PANITIA bla..bla..bla…

Intinya, sang guru dipermalukan di depan umum dan direndahkan, nyaris menangis... sampai keluar ucapan "saya ini orang biasa, bukan siapa-siapa"….

Akhirnya ketahuan belangnya, Si oknum tadi ternyata membawa anaknya sendiri dan ingin anak dia yang dialog dengan Mr. Gubernur. Tapi panitia menolak mencantumkan namanya karena sudah tertulis resmi di agenda acara utusan Kabupaten adalah anak PAUD kami, walaupun akhirnya anaknya yang maju setelah ada insiden anak dari PAUD kami syok dan mogok -menangis tanpa suara tapi keluar air mata- karena liat gurunya dibentak-bentak di depan umum dan dia dipaksa maju oleh istri sang oknum -kompak- padahal nama yang dipanggil laki2 dan anaknya pr.

Anak dan guru dari PAUD kami akhirnya keluar ruangan, kebetulan sang ibu kandung yang ikut seorang psikolog. Dan menurut beliau saat itu situasinya murid dan guru sama2 syok!

Permasalahannya tidak berhenti sampai di situ:
Selesai acara sang KEPALA CABANG DINAS PENDIDIKAN nelpon ke HP istri saya di rumah dan marah2 juga
Guru kami stres, baru 3 hari selesai acara dia sanggup pulang dan masuk sekolah
Anak yang kami utus masih trauma dan keluarga besarnya marah, dan berencana mengadukan ke Dinas Pendidikan Kabupaten dan Provinsi.
Istri saya hari senin 6/08/2007 dipanggil oleh sang KACAB lewat sms :) -ada ceritanya nanti- dan sepertinya ada presure khusus untuk guru pendamping kami khususnya dan sekolah kami umumnya untuk ke depan.
Istri saya terpaksa lapor ke PLS Diknas Kabupaten belum tau kelanjutannya
Informasi terbaru, si KACAB tadi melakukan hal yang sama untuk acara level SD anaknya dipaksakan mengganti anak orang lain pada acara sejenis

BTW. Anak PAUD kami yang berangkat gak jadi cucu Bupati karena ibunya gak bisa mendampingi, anak orang biasa-biasa bukan "pejabat".

Entah gimana akhir ceritanya? Hari ini ada rencana "testimoni sang guru pendamping" di depan guru2 lain sebagai pembelajaran dan supaya tangguh dan siap dengan situasi sulit ke depan.


Pesan : Manusia ini serba kekurangan, apa sih yang harus disombongkan?

Harta kekayaan, uang, rumah, mobil? Seberapa banyak sih semuanya? Emang mati di bawa?
Jabatan? Seberapa tinggi sih jabatanmu? Paling 1-2 tahun selesai
Wajah? Apalagi itu dimakan usia juga keriput
Ilmu dan Gelar? Banyak yang lebih tinggi, lagian kalo gak manfaat untuk apa
Anak? Ehm… kalo nanti ternyata gak sesuai dengan harapan gimana?
Popularitas? Walah…banyak yang dulunya orang top sekarang tersuruk-suruk di pojok rumah gak ada yang mau nyapa

Terus apa dong? Cari alasan untuk kita sombong? Rasanya gak ada..

Selasa, Agustus 07, 2007

Jangan sampai amal kita hangus

daarut-tauhiid

[daarut-tauhiid] Jangan Sampai Amal Kita Hangus!
al-palagani

Mon, 16 Oct 2006 15:43:41 -0700
Jangan Sampai Amal Kita Hangus!Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAWkepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua matatertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosokorang yang luar biasa.
Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan airwudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal.Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akansosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.
Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang inisampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunyaAbdullah bin Amr bin 'Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untukmenginap tiga hari di rumahnya.
Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkanmengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa.Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain.Ibadahnya pun biasa-biasa saja.Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terangkepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkaulakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? JawabanAbu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahaisaudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadapnikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya punselalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.
Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanyaorang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surgatertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla.
Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari merekadibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidakberguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yangbersih (QS Asy Syu'araa [26]: 87).
Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikitapa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal iamemiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidakakan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.
Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar AshShiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin AbiThalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf,Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya dimata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAWmemvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinyabersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehinggasemua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.
Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harussibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percumasaja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan--wajib maupunsunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walauamal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, makanilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makansayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yangditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial dimangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusahamenghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini.
Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakanhati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. MenurutRasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.
Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya'Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengankemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakankebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya.Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, makasurga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidakakan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takaburwalaupun sebesar debu. (HR Muslim).
Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalahadanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangatberharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susahmelihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah .Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw.menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakankayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riyaadalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecilyang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidakakan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu sajaberupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanyaAllah kepada orang yang riya dalam amalnya.

Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) didunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HRAhmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Makakecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yanglalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa'un[107]: 4-6).
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati danamalan kita dari kebinasaan. Semoga.( )sumber:http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=105&kat_id1=232===================================================================Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar

Pemimpin Tengil

Pemimpin yang Tengil (1)
01 Oct 2006 10:14 PM WIB
Bismillaahirrahmanirrahiim,
Semoga Allah yang maha tahu keadaan kita yang sebenarnya, menolong diri kita agar memiliki keberanian untuk mengetahui kekurangan diri sendiri sebelum mencari kekurangan orang lain.

Memampukan diri kita menjadi contoh kebaikan sebelum menuntut orang lain berbuat kebaikan. Dan semoga Allah menjadikan diri kita semua menjadi suri tauladan yang nyata, senyata-nyatanya dalam kebenaran. Amin Ya Allah Ya Rabbal'Alamin.

Pembaca yang budiman, siapakah yang beruntung? Ada yang menganggap keberuntungan kalau mendapatkan uang. Ada yang menganggap beruntung kalau punya jabatan. Ada juga yang menganggap beruntung kalau jadi populer. Ada juga yang menyangka beruntung kalau menjadi orang yang berkuasa.

Nabi mengisyaratkan orang yang beruntung adalah "Man kaana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa raakihun" Barang siapa yang hari ini berubah menjadi lebih baik daripada hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Andaikata sama hari ini dengan hari kemarin, rugi. Andaikata hari ini lebih buruk dari hari kemarin, celaka. Bangsa kita akan disebut bangsa beruntung kalau setiap hari berubah menjadi lebih baik. Kalau sama bangsa ini rugi, kalau lebih buruk bangsa ini celaka.

Jangan ukur kesuksesan dengan aksesoris duniawi. Sebelum punya jabatan, dia bagus. Sesudah punya jabatan kelakuannya jadi buruk, maka jabatan pangkal celaka. Sebelum jadi anggota titik-titik, dia rendah hati. Sesudah jadi anggota titik-titik dia tinggi hati. Maka jabatan itu mencelakakan dirinya dan mencelakakan orang lain. Sebelum populer di bersahaja. Sesudah populer dia bermegah, bermewah, dan jadi sombong. Maka popularitas adalah pangkal kecelakaan. Maka jangan anggap sukses orang yang berharta, jangan anggap sukses orang yang bergelar, berjabatan, berkuasa, jangan anggap sukses orang yang berhaji, kalau apa yang didapatkan tidak mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Maka kunci kesuksesan tidak dilihat dari aksesoris, tapi sanggupkah dia berubah dari hari ke hari "Khairan min amsihi" setiap hari menjadi lebih baik. Jadi kalau suami ibu terpilih menjadi seorang yang memiliki jabatan lihat sesudah memiliki jabatan dia semakin baik tidak akhlaknya, semakin lembut tidak kepada keluarganya, semakin bagus tidak ibadahnya. Kalau dengan jabatan menjadi turun, maka dia tidak beruntung. Ada orang yang katanya sebelum populer sangat rendah hati, bersahaja. Ketika sudah populer, dia tidak siap dengan popularitasnya. Menjadi angkuh, menjadi sombong, menjadi rewel.

Nah, dia rugi oleh popularitasnya. Sebentar lagi Indonesia memasuki era baru yaitu adanya Pilkada. Era di mana rakyat boleh memillih kepala daerahnya langsung. Kalau dulu dewan yang memilih, sekarang rakyat yang memilih. Ini penting, jangan sampai salah pilih. Karena salah pilih maka nanti keputusan-keputusannya akan mencelakakan.

Andaikata kita memilih walikota, atau bupati, atau kepala daerah dan dia tidak memiliki kemampuan memimpin yang baik, maka yang rugi kita sendiri.

Pemimpin yang buruk itu cirinya TENGIL. Yang bagaimana tolong rakyat Indonesia, kalau nanti melihat calon pemimpin jangan dilihat menjelang pemilu saja Karena kalau menjelang pemilu rajin silaturahmi, biasanya tidak silaturahmi, sesudah terpilih tidak akan silaturahmi lagi. Jadi ada yang soleh mendadak. Jadi rajin ke mesjid mendadak, jadi khotib. Ada yang jadi dermawan mendadak. Kalau serba dermawan ini tidak asli.

Pemimpin apa yang kita butuhkan? Sederhana saja, kita ingin berubah harus dipimpin oleh orang yang bisa merubah. Siapa pemimpin yang bisa merubah adalah pemimpin yang bisa merubah dirinya. Sederhana kan... Jadi kunci kehebatan seorang pemimpin adalah bisakah dia memimpin dirinya. Bagaimana memimpin orang lain kalau memimpin diri sendiri saja tidak sanggup.

Jadi rahasia pemimpin adalah Cuma tiga kuncinya. Satu keteladanan, dua keteladanan, tiga keteladanan. Selebihnya bonus. Apa yang bisa dilakukan kalau dia memimpin dirinya saja tidak bisa. Dia akan gunakan jabatannya untuk memperkaya diri, dia akan gunakan jabatannya untuk nyolong. Dan terus. Padahal pemimpin itu pelayan. Bukan perampok kaumnya.

Harusnya pemimpin itu kalau jadi pemimpin, minimal sama. Syukur kalau makin miskin, karena habis hartanya untuk dipakai memimpin, Nabi Muhammad kan begitu. Sebelumnya diberitahu dulu, kalau pemimpin tidak berhasil menjadi tauladan biasanya memiliki penyakit TENGIL.

T-nya adalah Takabur. Jadi orang yang petantang-petenteng sombong, dia nggak ngerti tuh, bahwa dia pasti mati.

E-nya itu Egois. Pemimpin egois jangan dipilih, celaka.

N-nya Norak. Norak ini pemimpinnya norak. Pokoknya nggak pantes, gitu. Over acting, apa sih bahasa Indonesianya?

G-nya adalah Galak. Pemimpin galak, nggak bisa aman. Semua dimarahi terus.

I-nya Iri dengki. Celaka punya pemimpin iri.

Dan L-nya adalah Licik.

Jadi tolong seluruh masyarakat Indonesia pelajari calon Pilkadanya termasuk berpenyakit TENGIL atau tidak.

Apa ciri T-nya, Takabur? Orang takabur itu dua kalau menurut Nabi. Satu mendustakan kebenaran, yang kedua meremehkan orang lain. Jadi seorang pemimpin yang takabur itu adalah orang yang tidak menyukai agama. Karena agama dianggap banyak aturan. Tidak senang kepada agama, meremehkan ibadah, ini ciri-ciri pemimpin TENGIL itu. Padahal dia cuma manusia yang asalnya setetes mani, ujungnya jadi bangkai, ke mana-mana bawa (maaf) eo', kan gitu. Hati-hati, dinasehati tidak mau, tidak pernah mau datang ke majlis taklim. Tidak pernah nambah ilmu agama, jadi dia ngarang kebenaran itu versi dia.

Bayangkan masuk ke dalam hutan tidak tahu ilmu hutan, pasti ngarang. Jangan pilih pemimpin yang menganggap remeh agama, jangan pilih pemimpin yang tidak pernah ibadah, celaka! Kita bisa disesatkan. Dia tidak takut kepada Allah, takut kepada siapa lagi? Bisa dirampok kita ini. Dan jangan pilih pemimpin yang kerjanya merendahkan orang lain. Karyawan dianggap rendah, tidak mungkin. Merendahkan karyawan itu menghancurkan semangat kerja. Tidak mungkin kita maju tanpa orang lain.

Ingat teori bersih? Kantor bersih siapa yang membersihkan? cleaning Service. Bersih penting tidak? Penting. Petugas cleaning Service penting tidak? Kalau begitu petugas cleaning service orang penting? Betul?! Sikapi petugas cleaning service seperti menyikapi orang penting. Itulah orang yang rendah hati. Kalau dia menganggap remeh petugas sampah, menganggap remeh petugas kebersihan, itulah pemimpin sombong.

Pemimpin yang bisa memuliakan karyawannya, itulah pemimpinn sejati. Pemimpin yang bisa memuliakan rakyatnya, itulah yang penting. Jadi harusnya pemimpin itu lebih menghormati rakyat daripada rakyat menghormati dirinya.

Kenapa? Karena pemimpin dipilih oleh rakyat, kan begitu. "Laqad kaana lakum fii rasuulillahi uswatun hasanah" itulah yang diisyaratkan Al-Qur'an tentang bagaiman Nabi menjadi contoh. Kebaikan, suri tauladan. Orang yang egois itu di kantor susah, maunya menang sendiri. Kalau bicara mau didengar sendiri pendapatnya, orang lain bicara, belum selesai sudah dipotong. Dan pemimpin egois seperti ini, dia tidak punya program yang bagus hasil diskusi yang ada adalah karangannya sendiri. Dan maunya nyalahkan orang lain saja. Tidak mau disalahkan. Ini tipe pemimpin norak.

Eh, tahu egois kecil-kecilan? Orang yang egois kecil-kecilan tapi besar yaitu perokok. Orang yang merokok juga egois. Dia ngisep racun sambil meracuni orang lain. Hati-hati tuh, dia menyenangkan diri sambil mencelakakan orang lain. Jadi kalau saudara ingin menjadi pemimpin, jangan ngerokok. Kecuali merokok yang kepalanya dibungkus pake kantong semen. Jadi utuh, terserap sepenuhnya. Bahkan kalau bisa puntungnya juga dikunyah. Kalau bisa para pemimpin tidak usah merokok, yah? Setuju tidak? Karena sudah ada tulisan, "Merokok Dapat merusak kesehatan, mengakibatkan gangguan jantung, ambeyen, impoten, kanker, merusak janin".

Bagaimana mungkin pemimpin tidak bisa baca? Rakyat kami sedang menderita. Uang Cuma tidak seberapa, satu bungkus Rp 6.000,- sebulan Rp 180.000,- saya sebagai pemimpin tidak boleh menjerumuskan rakyat memberi contoh buruk. Lebih baik Rp 180.000,- sebulan beli anak domba, maka dalam tempo setahun kita punya enam pasang domba. Kita bisa punya banyak domba gara-gara berhenti merokok.

Kalau kayu jati, yang kecil harganya Rp 15.000,- dalam tempo 15 tahun pohon jati akan besar, dan itu 2 kubik, satu pohon itu. Sekarang satu kubik berapa? Rp 3.000.000,- maka kita dapat Rp 6.000.000,- Daripada saya merokok, lebih baik dibelikan beberapa puluh batang? Katakanlah 15, tanam. 15 tahun kemudian anak kita bisa naik haji hanya karena pohon yang kita tanam dari berhenti merokok satu bulan. Wah … lama bener 15 tahun …

Bapak tahu kerusuhan terjadi tahun berapa? 1997, sekarang 2005 sudah 8 tahun itu. Punya anak, tanam pohon jati, daripada merokok. 15 tahun kemudian anak bisa kuliah modal pohon jati. Betul tidak? Minat tidak nih? Pemimpin harusnya jangan egois, contohkan yang bagus. Norak. Pemimpin mah tidak usah pamer banyak hal, tidak usah pamer kekayaan, tidak usah pamer yang bermerk bukan tidak boleh, silakan saja. Tapi jadi pemimpin saja sudah dihargai, bahkan kalau pemimpin rakyatnya miskin, tapi kepala daerah mobilnya mewah, itu yang membuat rakyat curiga dan jadi sebel. Pernah suatu saat diundang di sebuah daerah. Mobilnya bagus sekali yang harganya satu koma sekian Miliar Rupiah. Sangat tidak enak, melewati rumah-rumah kumuh, miskin. Terus apa bangganya pak titik-titik?, apa bangganya naik mobil mewah di sekitar rakyat miskin. Mendingan naik ojek, mendingan naik Pick-Up daripada mobil mewah, di sekitar rakyatnya miskin. Bukan tidak boleh pakai mobil bagus, silakan. Asal proporsional. Nah, ini norak namanya. Orang yang tidak meraba perasaan orang lain hanya semata-mata untuk memamerkan diri. Makanya hati-hati jangan pilih pemimpin yang TENGIL.
Takabur, Egois, Norak.

Alhamdulillaahirobbil'alamin

Sumber: Majalah KalamDT - Daarut Tauhiid Jakarta
Oleh : Aa Gym
Previous Back to Index Next Latest
Powered by RichColors, in corporation with Ravewarrior Design.


Pasted from <http://www.lnicommunity.net/article.php?id=6&type=1>

Takabur Pangkal Kehinaan

> MANAJEMEN QALBU
Takabur Pangkal Kehinaan
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

MAHASUCI Allah Pemilik segala keagungan dan kebesaran. Hanya Dia yang layak bangga dan mendapat segala puji karena Dia-lah satu-satunya Pencipta segala kelebihan atas setiap makhluk-Nya.

Sahabat, sungguh dungu orang yang takabur dan sombong, tertipu mentah-mentah oleh pikiran bodohnya. Dia sangka keangkuhan dan pengakuan ketinggian dirinya akan mengangkat derajat kemuliaannya. Padahal jelas, tidak ada satu pun riwayat di pelosok mana pun kecuali menganggap hina dan rendah orang yang gemar membangga-banggakan dan melebih-lebihkan dirinya kepada orang lain. Memang lengkap kerugian orang takabur. Selain di dunia ini makhluk akan merasa muak, para malaikat pun bisa jadi akan sangat geram. Dia pun akan menjadi mangsa siksa kubur dan kobaran api jahanam kelak. Na'udzu billah!

Mengapa Allah demikian murka terhadap orang yang takabur, sampai-sampai Rasulullah saw. sendiri mengancam, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar atom." Karena, manusia angkuh dan sombong adalah makhluk yang sangat tidak tahu diri dan tidak tahu malu, serta lancang, mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya.

Imam al-Ghazali mengibaratkan ada seorang hamba sahaya di sebuah kerajaan, tiba-tiba dia naik ke singgasana raja. Dia duduk dengan penuh kesombongan, lalu dipakainya jubah kebesaran sang raja, lengkap dengan mahkota, pedang, dan segala perlengkapan kebesaran lainnya. Semua ini dia lakukan tanpa izin sama sekali. Oleh karena itu, sudah bisa kita tebak betapa geramnya para punggawa, atau siapa pun yang menyaksikannya. Dan kita pun sudah bisa menduga kemurkaan sang raja. Nah, kurang lebih begitulah kemalangan yang akan dialami oleh manusia-manusia yang takabur.

Dalam hal ini, Allah Azza wa Jalla berfirman, "Dikatakan (kepada mereka), 'Masukilah pintu-pintu neraka jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya, maka neraka jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri," (QS. Az- Zumar [39]: 72)

Penyakit takabur memang banar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapa pun.

Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhannya. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, cara berpakaian, serta segala gerak-gerik di mana pun berada, bahkan sampai ujung kaki; seluruhnya menjadi gambaran jelas bagi pribadi buruknya.

Ciri yang umum dan lebih jelas lagi digambarkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya, "(bukan demikian) sebenarnya telah datang kebenaran-Ku kepadamu, lalu kamu mendustakannya dan menyombongkan diri. Dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir." (QS. Az-Zumar [39]: 59)
Rasulullah saw. pun bersabda, "Kesombongan ialah orang yang mendustakan kebenaran dan menganggap remeh/melecehkan orang lain." (H.R. Muslim)

Siapa pun yang berat menerima kebenaran Alquran dan Assunnah, apalagi yang mendustakannya, jelas ia termasuk ahli takabur yang dijamin binasa dalam hina-dina hingga akhir hayat tidak bertobat. Juga termasuk ke dalam golongan ini orang-orang yang hanya mau benar sendiri, seakan-akan dia sudah menganggap Alquran dan Hadis secara sempurna seperti Rasulullah saw.

Mereka kurang paham bahwa Islam itu diciptakan oleh Allah sejak Nabi Adam a.s. hingga kiamat kelak selalu cocok untuk perentang waktu yang begitu panjang. Dengan segala situasi ekonomi, politik, maupun sosial yang berbeda-beda sesuai dengan zamannya, yang dapat memenuhi setiap naluri dan bakat manusia untuk terangkat menjadi ahli surga. Oleh karena itu, bagaimana mungkin Islam yang begitu dahsyatnya dan luas dapat ditampung di kepala seseorang atau sekelompok orang yang notabene bukan nabi?
Justru dengan adanya keragaman pendapat, akan terlihat kebesaran dan kehebatan Islam. Sedangkan ketakaburan dapat mempersempit wawasan tentang Islam. Dan tentu sikap seperti itu akan menjadi benalu bagi umat.

Sifat takabur bersumber dari rasa diri memiliki kelebihan, lalu timbul bangga diri, rindu, dan gemar dipuji. Kemudian menganggap orang lain tidak seperti dirinya, lebih remeh, dan lebih rendah daripadanya, yang kesemuanya ini diwujudkan dalam gerak-geriknya. Dan penyakit hati ini akan merusak dalam segala lapisan umat, tanpa pandang bulu; termasuk para ahli agama, ahli ibadah, dll.

Tentu saja orang yang paling sering menjadi bulan-bulanan virus takabur ini adalah mereka yang dititipi beberapa kelebihan oleh Allah, baik berupa keahlian, prestasi, harta, pangkat, keturunan, ilmu, kedudukan, kebagusan dan kekuatan tubuh, pengikut, dan sebagainya. Lantas, karena lemah sikap mental dan keimanannya, ia anggap kelebihan itu miliknya sendiri, hasil perjuangan dan karyanya sendiri sehingga layak bangga dan sombong.

Padahal, sekiranya Allah menghendaki mereka terlahir sebagai kambing, misalnya, tentu tidak akan pernah mereka miliki segala kelebihan tersebut. Atau, kalaulah Allah menghendaki mereka terlahir dengan otak dikurangi 3 cc saja, niscaya mereka tidak akan dapat berbuat apa pun. Bahkan, jika Dia takdirkan mereka terlahir di sebuah suku di pedalaman belantara yang tidak mengenal peradaban, bisa jadi saat-saat sekarang ini mereka tengah mengejar babi hutan untuk santapannya.

Memang, orang yang takabur adalah orang yang patut dikasihani oleh kita semua. Tiada yang dapat dia peroleh dari kehidupan ini, selain kesengsaraan dan kehinaan. Tiada yang dapat dikerjakannya, selain mempertontonkan kebodohannya sendiri. Lengkap sudah, dunia akhirat rugi total!
Akankah kita pun berlaku dungu seperti itu? Na'udzu billaahi min dzaalik! ***
> SUPLEMEN

(C) 2006 - Pikiran Rakyat Bandung
Dikelola oleh Pusat Data Redaksi (Unit: Cyber Media-Dokumentasi Digital)
Kembali ke Atas

Pasted from <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/19/99qalbu.htm>

Jauhi, Dua Perilaku Takabur

Cetak berita ini
Jumat, 05 Agustus 2005
Jauhi, Dua Perilaku Orang Takabur!
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua ibu bapak, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri. (QS An-Nisa': 36)

Takabur (sombong) adalah penyakit hati yang sangat dibenci Allah. Orang takabur, hakikatnya tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Ia mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya. Yang Mahabesar dan berhak takabur hanyalah Allah SWT.

Takabur bagaikan bagaikan bau busuk yang sulit sekali disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini sangat mudah dilihat oleh orang awam sekali pun, serta mudah dirasakan hati siapa pun.

Apa ciri orang takabur itu? Rasulullah SAW bersabda, "Kesombongan adalah mendustakan kebenaran dan merendahkan orang lai."
(HR Muslim)

Mendustakan kebenaran
Meremehkan agama. Orang sombong hidupnya jauh dari agama. Ia memiliki kebenaran versinya sendiri, sehingga tidak menyukai orang-orang shalih. Tidak mau dan tidak menyempatkan belajar agama. Waktunya tersita untuk mencari dunia dan memuaskan hawa nafsu.
Malas beribadah. Ada saja alasan untuk tidak beribadah. Tidak menyukai nasehat berkaitan dengan kebenaran. Tidak mau ingat dan taat pada Allah. Meremehkan dan tidak mau meneladani para nabi. Dia lebih suka meniru idolanya sendiri.
Tidak percaya pada hal-hal gaib. Tidak mau dekat dengan orang shalih kecuali kalau ada maunya. Bila kesombongannya sudah memuncak, ia akan memusuhi agama dan akan melakukan pelbagai cara agar sinar agama meredup. Bila ia punya kekuasaan, maka kekuasaan itu akan dipakai menumpas kebenaran.

Merendahkan Orang Lain
Ingin selalu kelihatan lebih tinggi. Ingin selalu diistimewakan. Ia akan tersinggung bila disamakan dengan orang yang levelnya dianggap lebih rendah. Suka mendominasi pembicaraan, senang memotong perkataan orang lain, nadanya pun cenderung lebih keras dan merendahkan yang mendengar. Ia pun selalu ingin menang sendiri saat bicara.

Kurang suka mendengarkan orang lain. Bila orang lain berbicara dan pembicaranya dianggap lebih rendah levelnya, dia tak akan mau memperhatikan. Ada saja yang dilakukannya: ngobrol, menelpon, atau lainya. Akibatnya, orang yang bicara merasa direndahkan.
Kalau ia menyuruh, maka yang disuruh akan sakit hati. Cara duduk, berdiri, dan menunjuk pun cenderung tidak menghormati orang lain

Mudah marah dan kasar. Sering menghina, mencaci maki. Jarang sekali mau memuji dan mengakui kelebihan orang lain. Jarang berterima kasih. Tidak mau meminta maaf. Pantang menerima kritik dan saran. Tidak suka bermusyawarah. Tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangan. Sering dengki pada yang lain.

Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk menghindari ketakaburan sekecil apa pun. Amin.

( Abdullah Gymnastiar )


© 2006 Hak Cipta oleh Republika Online

Pasted from <http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=208267&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=234>

"Takabur"

Rabu, 18 Februari 2004
Sebuah Perjuangan Terbesar
Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!
e-mail: kepemimpinan@republika.co.id
faksimile: 021-7983623

Dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak tertegun keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya, ''Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?''

Orang bijak menjawab, ''Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat. Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombongku itu.''

Para pembaca yang budiman, sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua yang benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat terbawah, sombong sering disebabkan karena faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih cantik, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong sering disebabkan faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, lebih bijaksana dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong sering disebabkan faktor kebaikan. Kita seringkali menganggap diri kita lebih berakhlak, lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan ini, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi akan sangat mudah terlihat tetapi sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih yang halus di dalam hati kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Pada tataran yang wajar, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Namun, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Bahkan, seringkali batas antara bangga dan sombong tak terlalu jelas.

Diri kita sebenarnya terdiri atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan diri sejati di lain kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita sepenuhnya berada dalam kutub diri sejati, kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Kita sama sekali bebas dari materi apapun. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, kita mulai memiliki berbagai kebutuhan materi. Bahkan, lebih dari sekedar yang kita butuhkan dalam hidup, kelima indra kita selalu mengatakan bahwa kita membutuhkan yang lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup seringkali mengantarkan kita menuju kutub ego. Perjalanan inilah yang memperkenalkan kita kepada kesombongan, kerakusan, serta iri dan dengki. Ketiga sifat ini adalah akar segala permasalahan yang terjadi dalam sejarah umat manusia.

Perjuangan melawan kesombongan sebenarnya adalah perjuangan menarik diri kita ke kutub diri sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya ada dua perubahan paradigma yang perlu Anda lakukan.

Pertama, Anda perlu menyadari bahwa hakikat manusia adalah diri sejati, kita bukanlah makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Diri sejati kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah syarat kita untuk hidup di dunia. Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan kita mati pun tanpa membawa apa-apa. Pandangan seperti ini akan membuat Anda melihat siapapun sebagai manusia yang sama. Anda tidak akan lagi tertipu oleh penampilan, kecantikan, dan segala ''tampak luar'' yang lain. Yang kini Anda lihat adalah ''tampak dalam.'' Pandangan seperti ini sudah pasti akan menjauhkan Anda dari berbagai kesombongan.

Kedua, Anda perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang Anda lakukan, semuanya itu semata-mata adalah untuk diri Anda sendiri. Anda menolong orang untuk kebaikan Anda sendiri. Anda memberikan sesuatu kepada orang lain adalah untuk Anda sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi: Energi yang Anda berikan kepada dunia tak akan pernah hilang. Energi itu akan kembali kepada Anda dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang Anda lakukan pasti akan kembali kepada Anda dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, perasaan bermakna maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik pada orang lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apalagi yang harus kita sombongkan?

Perjalanan menuju kepemimpinan senantiasa dimulai dengan mengalahkan ego dan kesombongan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ujiannya adalah pada pemilu kali ini. Para ''reformis'' yang mengklaim dirinya layak menjadi presiden sudah saatnya duduk bersama dan mengalahkan egonya masing-masing. Tanpa mengalahkan ego ini, mustahil mereka bisa menang. Kalau ini yang terjadi, jangan-jangan bangsa kita akan kembali dipimpin orang-orang yang tidak amanah dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
( )


© 2006 Hak Cipta oleh Republika Online

Pasted from <http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=153690&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=213>

Sombong

23 Rojab 1428 H
Selasa, 07 Agustus 2007

Sombong
Oleh: Dewan Asatidz
Sifat sombong, takabur dan tinggi hati selalu beranjak dari assumsi bahwa dirinya memiliki kelebihan, keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan ketika dihadapkan pada kepemilikan orang lain. Allah membenci makhluk-Nya yang memunculkan sikap dan bersifat sombong. Kesombongan adalah sifat mutlak Allah yang tidak dibenarkan untuk dimiliki oleh selain-Nya. Manusia yang menyombongkan diri berarti telah merampas sifat mutlak Allah. Ia telah berusaha menyamai Allah yang Maha Kuasa. Dan, berarti mensekutukan Allah yang Maha Tunggal.

Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para Malaikat : sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis ; Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (Q.S. Al Baqarah : 34)

Pengertian sujud pada ayat diatas berarti menghormati dan memuliakan Adam. Bukan diartikan sujud memperhambakan diri, karena jenis sujud terakhir hanyalah semata-mata kepada Allah. Iblis diperintahkah oleh Allah untuk mengakui kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Adam. Konon, Adam diciptakan dari tanah dan Iblis dari api. Bagi Iblis, api lebih mulia dari tanah yang kotor. Karenanya, perintah Allah tadi ditolak mentah-mentah oleh Iblis dengan anggapan bahwa dia lebih mulia dari Adam dilitik dari asal penciptaannya.

Sifat sombong, takabur dan tinggi hati selalu beranjak dari assumsi bahwa dirinya memiliki kelebihan, keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan ketika dihadapkan pada kepemilikan orang lain. Allah membenci makhluk-Nya yang memunculkan sikap dan bersifat sombong. Kesombongan adalah sifat mutlak Allah yang tidak dibenarkan untuk dimiliki oleh selain-Nya. Manusia yang menyombongkan diri berarti telah merampas sifat mutlak Allah. Ia telah berusaha menyamai Allah yang Maha Kuasa. Dan, berarti mensekutukan Allah yang Maha Tunggal.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda:
Jika seorang berkata karena sombong. Celakalah manusia. Maka ia akan menjadi paling binasa.(H.R.Muslim)

Kesombongan yang berawal dari perasaan lebih atas orang lain, yang selanjutnya memunculkan sikap takabur, dan dari sana lalu timbul sikap gampang menganggap rendah orang lain adalah awal dari kerusakan tatanan sosial masyarakat. Islam datang guna menyempurnakan keadaan masyarakat dengan menata aliran dan perputaran interaksi sosial. Tanpa adanya kesamaan hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat, niscaya yang berlaku pertama kali dalam masyarakat tersebut adalah ketimpangan. Segala peraturan dalam masyarakat yang didasarkan pada kontrak-sosial, begitu pula, tak akan berlangsung mulus tanpa adanya pengakuan martabat setiap peribadi anggotanya. Kesetaraan dan kesejajaran sebagai modal utama kehidupan bermasyarakat akan segera hancur dengan keberadaan beberapa individu anggota masyarakat yang mengedepankan perilaku sombong. Nabi bersabda:

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada saya supaya kamu bertawadlu, sehingga tidak seorang-pun menganiaya orang lain, dan tidak seorang-pun menyombongkan diri pada orang lain.(H.R.Muslim)

Perilaku dan sikap memamerkan amal ibadah, sangat dibenci. Allah berfirman:
Jangan mengatakan dirimu suci, ia (Allah) yang lebih mengetahui siapakah yang lebih bertaqwa (An Najam : 32).

Sikap merendahkan diri, tawadlu, dan tidak mempertontonkan kelebihan yang dimiliki dan amal ibadah yang dikerjakan dihadapan orang lain, pada hakekatnya merupakan sebentuk pangakuan bahwa segalanya dalam alam ini adalah semata berada di tangan Allah. Itulah makna tauhid, pengakuan bahwa penerimaan dan penolakan amal ibadah yang telah kita kerjakan adalah sepenuhnya hak istimewa Allah yang sama sekali berada diluar jangkauan pengetahuan manusia.

Pada suatu masa, kota Baghdad diramaikan dengan kabar kedatangan seseorang yang dikenal oleh masyarakat luas sebagai wali (orang saleh). Guru spiritual dan syekh agung Baghdad, Junaidi Al Baghdadi menjumpai orang tersebut, bertanya : Anda-kah sang wali itu ?. Betul, jawab si tamu. Berdirilah Syekh Junaidi Al Baghdadi, berpidato dihadapan para muridnya. Orang ini dusta. Tidak ada seorang wali yang mengetahui dirinya sebagai wali. Dan tak ada seorangpun yang boleh mengatakan bahwa dirinya saleh.

Iblis masuk neraka dan dikutuk oleh Allah untuk selamanya, bukan lantaran dia tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis), tapi semata-mata karena prilaku sombong, angkuh, takabur dan tinggi hati.

Wallahu a'lam bisshowab.
(Rizqon Khamami)


© 2007 PesantrenVirtual.com

Pasted from <http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=908&Itemid=30>