Senin, Desember 31, 2007

31 DESEMBER dan 01 JANUARI

Ada yang lupa di postingan sebelumnya -Resolusi 2008-...tapi saya gak mau ngedit.... :)) . "31 Desember dan 01 Januari" kok jadi judul? ada apa? kalau yang lain pada buat resolusi tahun baru, buat saya dan istri tanggal 31 Desember dan 01 Januari punya arti khusus. Spesial moment...

31 Desember 2000, akad nikah kami sedangkan 01/01/01 alias 01 Januari 2001 adalah tanggal Walimatul Ursy nya... Tanggal-tanggal tersebut bukan kami yang nentuin tapi nenek/datuknya anak-anak tapi gak ada hubungannya dengan "nomor cantik" eh tanggal cantik seperti yang biasa dicari artis2 misal 08/08/2008, kalau kami kebetulan cari hari libur saat itu karena keluarga besar kebanyakan PNS dan pengen hadir di acara pernikahan cucu pertama, anak pertama dan keponakan pertama -istri saya-. Sementara posisi menyebar di beberapa provinsi.

Berarti sudah 7 tahun kami bersama. Ngasih hadiah apa ya? yang jelas tadi siang ibunya anak2 lagi buat kue ...sekalian nyobain resep baru katanya :))

Mudah-mudahan kami diberi kekuatan untuk terus meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan orang-orang serta masyarakat sekitar kami. Amin.

Resolusi 2008

Hari ini hari terakhir tahun 2007, besok sudah tepat tanggal 01/01/2008. Apa yang istimewa? Masing-masing orang memiki sikap yang berbeda dalam menyambut pergantian tahun, sebagian biasa-biasa aja -tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang harus dikenang-, yang lainnya menghadapi pergantian tahun dengan sedih terutama bagi saudara-saudara kita yang berada di daerah bencana atau yang merasa "ada yang berubah" tahun 2008 dibandingkan tahun 2007 misalnya orang2 yang ditinggalkan oleh orang2 tercinta. Sebagian yang lain pasrah dan cenderung pesimis karena mereka berfikir tahun depan akan lebih sulit dari tahun ini. Sebagian yang lain menghadapi dengan optimis.

Kita ada di mana?

Menarik mengamati ada satu komunitas -TDA- yang menghadapi tahun 2008 dengan saling berbagi "PR" sepertinya sih ingin berbagi semangat diantara mereka. PR 8 resolusi tahun 2008, siapa yang kebagian PR lewat Blog harus membuat 8 resolusi kemudian menyebarkannya kepada 8 sahabat yang lain. Good idea…saya belum tahu "mata air" nya di mana..yang jelas "virus resolusi 2008" sudah menjalar ke mana-mana… saya gak ada yang ngasih PR ya? Ya sudah buat aja sendiri dan tularkan kepada istri di rumah. :))

Baru hari ini sempat buat coretan di agenda resolusi 2008 -kebetulan lebih dari 8 tuh-

Berikut resolusi saya di tahun 2008 :

  1. Mengoptimalkan Blog pribadi www.hidayat-soeryana.blogspot.com dengan tulisan2, artikel yang lebih bermanfaat akan dicoba berbentuk tuliskan2 selain gambar2 yang selama ini lebih banyak diposting - kalau bisa tulisan sendiri, sebagai sarana belajar menulis-. Dan yang paling penting merubah bahasa yang digunakan dari Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional supaya dapat diakses oleh temen2 dari luar negeri. Ini salah satu tantangan yang disampaikan oleh seorang saudara yang sekarang di negri Jiran Malaysia.
  2. Membeli kendaraan roda 4 untuk menunjang mobilitas harian yang sudah cukup tinggi sementara dengan 3 junior sudah tidak efektif menggunakan roda 2, kasihan mereka padahal cuaca sering berubah mendadak tidak terduga. Ditambah jangkauan geografis dan waktu saat mengantar ustad sudah tidak efektif dengan roda 2. Mudah-mudahan bulan Januari sudah ada, si Sulung malah berdoa masuk liburan pekan ini sudah ada di rumah :)) semoga!! Terkait resolusi no2 ini, berarti harus mulai melancarkan sendiri tidak mengandalkan sopir kantor :)).
  3. Restrukturisasi kepengurusan Yayasan Insani, pengurus lama yang diresmikan tahun 2003 sudah kurang efektif lagi. Semangat dan kontribusi kerja sudah pada menurun karena kesibukan di kantor masing-masing. Sebagian bahkan pindah ke kota lain.
  4. Membuat Taman Bacaan Anak di sekolah.
  5. Mulai menabung untuk DP KPR syariah, membuka rekening syariah.
  6. Mulai mencoba jadi "amphibi" beneran tidak sekedar kegiatan sosial.
  7. Mendisiplinkan muhasabah dan laporan kegiatan harian, minimal hafalan ada peningkatan.
  8. Merapikan administrasi Pengembangan Kader.
  9. Menambah jatah qurban menjadi minimal 2 nama.
  10. Beli laptop baru supaya tidak rebutan dengan ibunya anak-anak.
  11. Beli sepeda untuk olah raga.
  12. Mengaktifkan blog Playgroup dan DPD.

Ada 12, kebanyakan gak ya? Nanti ditambah dengan resolusi punya istri.

Paling tidak target2 tadi memotivasi untuk terus bergerak dan bergerak.

Sabtu, Desember 29, 2007

ARSIP LIPUTAN KEGIATAN IKADI TAHUN 2007

Senin, Desember 24, 2007

Hermeneutika dan Fundamentalisme

Pagi2 dapat tulisan bagus dari milist

==============================================

"Hermeneutika dan Fundamentalisme"


<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=6004&pop
=1&page=0&Itemid=55> Cetak halaman ini


<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=600
4&itemid=55> Kirim halaman ini melalui E-mail




Senin, 17 Desember 2007


Dosen IAIN mengatakan, ciri fundamentalis adalah orang-orang yang menolak
'hermeneutika'. Kok bisa?. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini
ke-216

Oleh: Adian Husaini

Ahad (9/12/2007) lalu, di Solo, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas
Muhammadiyah Surakarta memberi saya sebuah buku berjudul "Is Religion
Killing Us? (Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel dan al-Qur'an)". Sudah
cukup lama saya memiliki edisi bahasa Inggris buku karya Jack
Nelson-Pallmeyer tersebut. Banyak hal bisa dikritisi dari isi buku ini,
karena penulisnya sudah menggugat kesucian teks Al-Quran. Misalnya, penulis
berkesimpulan, bahwa "Masalah Islam yang identik dengan kekerasan tidak
hanya sebatas adanya ketidaksesuaian teks-teks, tetapi berakar pada
banyaknya ayat-ayat dalam Qur'an yang melegitimasi kekerasan, peperangan dan
intoleransi." (hal. 165).

Penulis buku ini juga dengan semena-mena membuat kesimpulan, bahwa
"Kekerasan religius yang lazim diantara tradisi kepercayaan penganut
monoteisme tidak semata-mata sebagai masalah distorsi penafsiran kaum
beriman terhadap teks-teks suci mereka. Hal itu lebih pada masalah yang
berakar dalam tradisi kekerasan Tuhan yang terletak pada inti teks-teks suci
tersebut." (hal. 180).

Tapi, Nelson-Pallmeyer menulis buku tersebut, berangkat dari pengalaman dan
pemahamannya sebagai seorang Kristen di Barat. Pemahamannya terhadap
Al-Quran dan Islam tampak dangkal. Maka, yang lebih menarik, adalah membaca
kata pengantar edisi bahasa Indonesia buku ini yang ditulis oleh tokoh
Katolik Dr. Haryatmoko S.J. dan khususnya oleh Dr. Hamim Ilyas, seorang
dosen UIN Yogya yang juga anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Karena cukup menarik, kita perlu menyimak kata pengantar Dr. Hamim Ilyas
yang berjudul "Akar Fundamentalisme Dalam Perspektif Al-Qur'an". Berikut ini
paparan Hamim Ilyas tentang fundamentalisme:

"Fundamentalisme adalah satu tradisi interpretasi sosio-religius (mazhab)
yang menjadikan Islam sebagai agama dan ideologi, sehingga yang dikembangkan
di dalamnya tidak hanya doktrin teologis, taoi juga doktrin-doktrin
ideologis. Doktrin-doktrin itu dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendiri
fundamentalisme modern, yakni Hasan al-Banna, Abu A'la al-Maududi, Sayyid
Quthb, Ruhullah Khumaini, Muhammad Baqir al-Shadr, Abd as-Salam Faraq, Sa'id
Hawa dan Juhaiman al-Utaibi."

Menurut Hamim Ilyas, "Karakteristik fundamentalisme adalah skripturalisme,
yakni keyakinan harfiah terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan yang
dianggap tanpa kesalahan. Dengan keyakinan itu dikembangkan gagasan dasar
bahwa suatu agama tertentu dipegang kokoh dalam bentuk literal dan bulat,
tanpa kompromi, pelunakan, reinterpretasi dan pengurangan."

Lalu, Hamim melanjutkan tulisannya tentang fundamentalisme dengan mengutip
pendapat Azyumardi Azra dan Martin E. Marty, dengan menjelaskan sebagai
berikut:

Pertama, oposionalisme. Fundamentalisme dalam agama mana pun mengambil
bentuk perlawanan - yang bukannya tak sering bersifat radikal - terhadap
ancaman yang dipandang akan membahayakan eksistensi agama, baik yang
berbentuk modernitas, sekularisasi maupun tata nilai Barat. Acuan atau tolok
ukur untuk menilai tingkat ancaman itu tentu saja adalah kitab suci, yang
dalam fundamentalisme Islam adalah Al-Quran dan pada batas-batas tertentu
juga hadits Nabi.

Kedua, penolakan terhadap hermeneutika. Kaum fundamentalis menolak sikap
kritis terhadap teks. Teks al-Qur'an harus dipahami secara literal
sebagaimana bunyinya, karena nalar dipandang tidak mampu memberikan
interpretasi yang tepat terhadap teks. Meski bagian-bagian tertentu dari
teks kitab suci boleh jadi kelihatan bertentangan satu sama lain, nalar
tidak dibenarkan melakukan semacam "kompromi" dan menginterpretasikan
ayat-ayat tersebut.

Ketiga, penolakan terhadap pluralisme dan relativisme. Bagi kaum
fundamentalis, pluralisme merupakan pemahaman yang keliru terhadap teks
kitab suci.

Keempat, penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis. Kaum
fundamentalis berpandangan bahwa perkembangan historis dan sosiologis telah
membawa manusia semakin jauh dari doktrin literal kitab suci... Karena
itulah, kaum fundamentalis bersifat a-historis dan a-sosiologis; dan tanpa
peduli bertujuan kembali kepada bentuk masyarakat "ideal" - seperti pada
zaman kaum salaf - yang dipandang mengejawantahkan kitab suci secara
sempurna.

"Karakteristik fundamentalisme yang telah mengakar membawa konskuensi logis
munculnya doktrin-doktrin yang justru mengekang, menyiksa diri dan membatasi
ruang gerak, bukannya membebaskan. Doktrin sentral fundamentalisme adalah
Islam kaffah. Dalam doktrin ini Islam tidak hanya diajarkan sebagai sistem
agama, tetapi sebagai sistem yang secara total mencakup seluruh aspek
kehidupan manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial," tulis sang
dosen tafsir UIN Yogya ini.

Ditambahkan lagi, bahwa "Akar fundamentalisme yang berasal dari kesalahan
menafsirkan teks suci al-Qur'an ternyata benar-benar mencoreng nama Tuhan
(Allah Swt) dan al-Qur'an itu sendiri. Menjadikan Islam sebagai idoelogi
yang mendorong timbulnya ekstrimisme dan radikalisme dapat diyakini sebagai
perilaku berlebih-lebihan dalam beragama yang jelas-jelas dilarang."

Demikianlah kutipan paparan Dr. Hamim Ilyas tentang fundamentalisme.

Ringkasnya, menurut Hamim Ilyas, fundamentalis adalah orang-orang yang
skripturalis atau literalis dalam memahami Al-Quran, menolak hermeneutika,
menolak pluralisme, menolak relativisme dan sebagainya. Paparan dosen tafsir
UIN Yogya tentang "fundamentalisme Islam" ini - sebagaimana banyak
cendekiawan lainnya - masih sebatas membeo definisi fundamentalisme yang
aplikasikan oleh para ilmuwan Barat yang merujuk kepada pengalaman
sosial-keagamaan kaum Yahudi dan Kristen. Jika dicermati, tulisan ini
sebenarnya serampangan dan asal-asalan.

Kita tentu sudah maklum, bahwa istilah dan wacana fundamentalisme keagamaan
dikembangkan oleh Barat menyusul berakhirnya Perang Dingin. Seperti ditulis
Huntington dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of
World Order, bahwa adalah manusiawi untuk membenci karena untuk penentuan
jati diri dan membangun motivasi, masyarakat perlu musuh. (It is human to
hate. For self definition and motivation people need enemies: competitors in
business, rivals in achievement, opponents in politics).

Sejak itu, wacana "fundamentalisme keagamaan", khususnya "fundamentalis
Islam" dikembangkan. Banyak sarjana dibayar untuk meneliti dan menulis
tentang masalah ini. Seminar-seminar tentang fundamentalisme digelar. Media
massa memainkan peran yang dominan dalam pembentukan opini negatif tentang
kaum yang dicap sebagai fundamentalis.

Istilah-istilah "Islam fundamentalis", "Islam eksklusif", "Islam militan",
Islam radikal", "Islam konservatif", dan sejenisnya memang sering digunakan
untuk memberikan stigma negatif terhadap kelompok-kelompok Islam yang
pemikirannya tidak sejalan dan tidak disukai oleh Barat. Ilmuwan Yahudi,
Prof. Bernard Lewis, dalam bukunya The Crisis of Islam menyatakan, bahwa
fundamentalis Islam adalah jahat dan berbahaya, dan menyebutkan bahwa
fundamentalis adalah anti-Barat. (Fundamentalists are anti-Western in the
sense that they regard the West as the source of the evil that is corroding
Muslim society).

Dalam "Catatan Pinggirnya" di Majalah Tempo, 27 Januari 2002, Gunawan
Muhammad menutup tulisannya dengan kalimat: "Fundamentalisme memang aneh dan
keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada
gilirannya membunuh perbedaan." Lalu, pada pidatonya di Taman Ismail Marzuki
Jakarta, 21 Oktober 1992, Nurcholish Madjid mengatakan: "Kultus dan
fundamentalisme adalah sama berbahayanya dengan narkotika."

Genderang perang yang ditabuh oleh Barat dan sekutu-sekutunya dalam melawan
fundamentalisme agama tentu saja dibuat dalam perspektif Barat dan untuk
kepentingan Barat. Karena itulah, proyek ini mendapatkan kucuran dana yang
sangat besar. Salah satu yang menonjol adalah proyek liberalisasi Islam.
Karena itu, kita tentu maklum dengan munculnya orang-orang seperti Hamim
Ilyas ini, yang entah karena ketidaktahuannya atau karena hawa nafsunya
membuat opini-opini yang menyudutkan kaum Muslim dan cendekiawan Muslim
tertentu seperti al-Maududi, dengan memberi stigma negatif semacam
"fundamentalis" dan sebagainya.

Kita bisa saja tidak setuju dengan sebagian pemikiran Hasan al-Banna atau
Abul A'la al-Maududi. Tetapi, untuk apa memberi cap bahwa mereka adalah
fundamentalis, literalis, anti-pluralis, dan sebagainya? Tuduhan-tuduhan
seperti ini sebenarnya sangat naif dan bodoh, apalagi dilakukan oleh seorang
doktor dan dosen tafsir. Abul A'la al-Maududi, misalnya, adalah pemikir
besar yang karya-karyanya telah memberi inspirasi dan manfaat bagi jutaan
kaum Muslim di seluruh dunia.

Lalu, dikatakan oleh Hamim Ilyas, bahwa salah satu ciri fundamentalis adalah
menolak hermeneutika. Pada muktamarnya di Boyolali tahun 2004, NU juga
menolak penggunaan hermeneutika untuk Al-Quran. Apa NU juga fundamentalis?
Di Muhammadiyah sendiri, banyak tokohnya yang telah menulis secara kritis
bahaya penggunaan hermeneutika untuk Al-Quran. Apa mereka semua itu adalah
kaum fundamentalis?

Jika dikatakan Hamim Ilyas, bahwa "doktrin sentral fundamentalisme adalah
Islam kaffah" maka, pada Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, juga telah
ditetapkan tujuan jangka panjang Persyarikatan Muhammadiyah, yakni
"tumbuhnya kondisi dan faktor-faktor pendukung bagi terwujudnya masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya." Bukankah masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya yang mau diwujudkan oleh Muhammadiyah juga sesuai dengan
konsep "Islam kaffah"? Apa Muhammadiyah juga dicap fundamentalis karena
mencita-citakan terbentuknya masyarakat Islam yang kaffah?

Kita pun patut bertanya kepada doktor tafsir UIN Yogya ini, apa salahnya
jika kaum Muslim ingin menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek
kehidupannya? Apa salahnya jika kaum Muslim menolak paham Pluralisme Agama,
sebagaimana telah difatwakan oleh MUI dan banyak ulama lainnya? Sebelum MUI
menolak paham ini tahun 2005, pada tahun 2000, Vatikan juga telah terlebih
dahulu menolak paham tersebut. Juga, apa salahnya jika kaum Muslim menolak
paham relativisme, yang memang merupakan paham yang merusak pikiran dan
keimanan?

Sebenarnya, jika dicermati, sang dosen UIN Yogya ini pun tidak konsisten
dengan paham relativisme yang diagungkannya sendiri. Lihat saja, gaya
tulisannya yang menghujat dan menyalah-nyalahkan apa yang disebutnya paham
fundamentalisme! Artinya, dalam hal ini, dia juga telah menjadi
fundamentalis, karena merasa sok benar sendiri, dan tidak menerima pandangan
lain, selain pandangannya sendiri.

Di akhir tulisannya, Dr. Hamim Ilyas mengkaitkan aksi terorisme dengan
tafsir fundamentalis. Katanya: "Akhirnya, terorisme yang dilakukan oleh
sebagian umat Islam, dalam kenyataannya merupakan fakta yang direkayasa,
mungkin oleh Barat dan mungkin juga oleh Al-Qaidah pimpinan Usama bin Ladin.
Perbuatan mereka yang merusak itu sedikit banyak berhubungan dengan tafsir
fundamentalisme ini sebagai basis ideologis."

Kesimpulan yang mengaitkan terorisme dengan tafsir keagamaan sebenarnya
terlalu jauh. Ada yang menarik kesimpulan sederhana, karena pelaku aksi
pengeboman membaca buku-buku Ibn Taimiyah, kemudian dikatakan, bahwa buku
Ibn Taimiyah adalah sumber terorisme. Padahal, ratusan juta orang telah
membaca karya-karya Ibn Taimiyah, dan mereka tidak melakukan pengeboman.
Karena itulah, ada sebagian politisi Barat yang meminta agar Al-Quran
dilarang, hanya karena dia melihat para pelaku pengeboman juga membaca
Al-Quran.

Dengan menggunakan sedikit saja kecerdasan, kita bisa membuktikan, bahwa
aksi-aksi terorisme yang terjadi di berbagai penjuru dunia bukanlah dipicu
oleh paham keagamaan, tetapi lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal,
terutama faktor ketidakadilan. Para pengikut Hasan al-Banna di Palestina
melakukan aksi jihad - yang oleh Zionis Israel dikatakan sebagai "terorisme"
-- karena mereka terjajah dan terzalimi di negerinya. Di zaman penjajahan
Belanda, kita juga membanggakan pahlawan-pahlawan kita yang berani
mempertaruhkan nyawanya untuk meraih kemerdekaan, meskipun oleh penjajah
dilabeli dengan kaum ekstrimis, dan sebagainya. Di Indonesia, para pengkit
Hasan al-Banna atau pengagum Abul A'la al-Maududi tidak melakukan aksi-aksi
pengeboman.

Karena itulah, sangatlah tidak tepat jika masalah fundamentalisme dan
terorisme dikaitkan dengan penolakan terhadap hermeneutika dan relativisme.
Ini sudah sangat berlebihan dan keterlaluan dalam membebek dan membeo saja
pada pendapat ilmuwan Barat. Orang yang menolak penggunaan metode
hermeneutika dan menggunakan ilmu Tafsir untuk memahami Al-Quran sudah
dimasukkan "kotak maut" bernama fundamentalis. Bahkan, kaum Muslim yang
meyakini kebenaran agamanya sendiri, yang berjuang untuk menjadi Muslim yang
kaffah juga divonis sebagai "fundamentalis", yang dikonotasikan sudah dekat
dengan "teroris".

Di era reformasi dan penjajahan modern ini, sudah begitu banyak aset-aset
umat dan bangsa yang sudah hilang. BUMN sudah banyak yang dijual. Kekayasan
alam telah punah. Ekonomi, politik, teknologi, budaya, dan sebagainya juga
telah "dikuasai". Yang masih tersisa dalam diri kita saat ini adalah
kemerdekaan iman dan pemikiran; kemerdekaan untuk meyakini kebenaran agama
kita sendiri, kemerdekaan untuk memahami Al-Quran dengan cara kita sendiri,
bukan dengan cara agama atau budaya lain.

Kini, sisa-sisa milik kita yang paling pribadi dan vital itu pun mau
dirampas pula. Kita tidak boleh meyakini agama kita sendiri yang benar, dan
harus memeluk paham pluralisme dan relativisme. Kita tidak boleh lagi
menggunakan Ilmu Tafsir kita sendiri dalam memahami Al-Quran, karena sudah
ada ilmu baru yang disodorkan Barat yang bernama hermeneutika. Intinya, kita
disuruh beragama, sebagaimana orang-orang Barat beragama.

Sayang sekali, saat ini, kemerdekaan iman dan pikiran kita itulah yang
hendak mereka rampas, baik dengan cara halus maupun kasar. Kita bisa paham,
jika yang berniat merampas kemerdekaan iman dan pikiran kita adalah
orang-orang sejenis Snouck Hurgronje dan kawan-kawannya. Tapi, alangkah
sedih dan prihatinnya kita, jika yang melakukan perampasan iman dan pikiran
kita itu adalah oknum-oknum bergelar doktor dalam bidang agama, yang sedang
berkuasa di lembaga-lembaga agama. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kekuatan
kepada kita untuk mempertahankan iman dan pemikiran keislaman kita di tengah
zaman yang penuh dengan fitnah ini. Amin. [Depok, 14 Desember
2007/www.hidayatullah.com <http://hidayatullah.com/> ]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio
Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com <http://hidayatullah.com/>



Source : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content
<http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6004&Item
id=55> &task=view&id=6004&Itemid=55

Sabtu, Desember 22, 2007

MOST POWERFUL WOMEN

The World's 100 Most Powerful Women


Judul yang unik di atas saya temukan di majalah Forbes, saat browsing untuk berita tentang "orang-orang terkaya" di Indonesia, berita yang cukup menghebohkan beberapa minggu yang lalu dengan menempatkan Aburizal "ICAL" bakrie di posisi nomor wahid sebagai orang paling tajir seantero nusantara. So what?

Justru yang kemudian menarik perhatian saya adalah judul spesial report di atas, "most powerful woman" dan lebih menarik lagi polling Forbes dengan Tag "Who is the most powerful woman in your life?"
.... pertanyaan sederhana dengan daftar pilihan jawaban cukup panjang mulai dari ibu, nenek, istri, pacar, boss dll, dll.... :)) pilihan2 yang aneh bahkan sampai nama artis ikut dimasukkan -kebetulan yang dijadikan pilihan adalah selebriti2 Amerika seperti Nanny, Oprah karena dianggap polling nya untuk orang2 sana-

Bukannya saya tertarik untuk mengisi polling atau bahkan mau mengajak yang lain mengisi polling tersebut. Yang menggelitik saya,-entah kebetulan atau tidak- pertanyaan ini muncul hampir berdekatan dengan peristiwa Hari Ibu -22 Desember 2007- besok yang akan diperingati di Indonesia. Ada yang masih peduli gak ya? emang dulu ada yang peduli sangat?

Who is the most powerful woman in your life? pasti jawaban tiap orang macem-macem, walaupun tidak sama persis dengan daftar pilihan yang diberikan Forbes. Oh ya jadi ingat, pilihan yang terakhir "lucunya" I don't have any women in my life... kejam kali... atau?....

Sebagai orang Islam -dan rasanya yang lain juga- pasti lebih banyak yang memilih ibu sebagai jawaban atau istri mungkin he.he.. pada GEER nanti orang rumah.
Jelas banyak sekali kebaikan seorang ibu bagi anak2nya, tidak terhitung dan tidak terbalas. Mulai dari mana ya? susah deh saking banyaknya. Unlimited...Kasih ibu sepanjang masa...Yu pada berbakti dengan orang tua! spesial untuk ibu.

SELAMAT HARI IBU, 22 Desember 2007.




Who is the most powerful woman in your life?

Bartender
Boss
CEO
Commanding officer
Daughter
Doctor
Editor
Grandmother
Girlfriend
Head of state
Judge
Landlady
Masseuse
Meter Maid
Mistress
Mom
Nanny
Oprah
Parole officer
Professor
Senator
Sister
Queen
Secretary
Wife
I don't have any women in my life

Laporan TEbar Hewan Kurban 1428 bersama IKADI

Alhamdulillah kegiatan Tebar Hewan Kurban bersama IKADI Indragiri Hulu tahun ini sudah berjalan dengan lancar. Ada sekitar 9 ekor sapi yang kirim ke beberapa desa -Pematang Karas, Usul, Talang Lakat, Rantau Langsat atau Lemang, Kampung Pulau, Sindolas, Rawa Bangun, Talang Sukamaju dan Talang Sungai Limau- ditambah 2 ekor kambing titipan untuk aqiqah.

Perlu keras memang, mulai penyebaran proposal, distribusi hewan kurban sampai hari H penyembelihan tepat hari raya Idul Adha (20 Desember 2007). Banyak kejadian dan pelajaran yang bisa dijadikan pengalaman untuk perbaikan kegiatan yang sama di tahun depan. Secara pribadi, Idul Adha kali ini termasuk paling berkesan bagi saya selain Idul Adha tahun 2006 karena saat itu mesti takbiran sendiri di bawah hujan salju di atas bis dari Narita Tokyo ke Yokohama Jepang.

Tahun ini, kami panitia di hari H harus berlebaran sendiri2 gak bareng anak2 dan istri -padahal diprotes oleh ibunya anak-anak- di lokasi penyembelihan hewan kurban bareng penduduk setempat. Asiknya lagi, malam harinya sempet nongkrong di SPBU sampai jam 24.00 WIB nunggu mobil tangki bensin masuk, ehm kerjaan pemerintah..sampai2 kami yang tinggal di daerah minyak harus antri berjam-jam nunggu sekedar 3 liter bensin. Karena mobil tangki gak datang-datang akhirnya isi tangki motor teman dipindahin pake botol aqua ke tangki motor.

Dan kebetulan sepanjang malam tanggal 20-nya hujan turun sangat lebat sampai pagi saat orang sholat Ied, sepertinya sholat Ied banyak dipindah ke mesjid2. Ba'da subuh kami coba menembus hujan dengan motor sambil berharap jalan ke Desa2 tempat penyembelihan kurban tidak becek - suatu harapan yang mengada-ngada untuk desa2 di tengah belantara Sumatera ini- Dan terbukti meleset, jalan ke desa Rantau Langsat/Lemang bukan hanya becek tapi banjir :) ditambah ada satu penurunan yang curam dengan kondisi jalan licin yang memaksa teman panitia jatuh bangun bahkan akhirnya "sama-sama" jalan dengan motor karena resikonya meluncur tanpa friksi :)). Sebenarnya dari desa Usul sudah dilarang oleh pengurus mesjid di sana, tapi teman-teman memaksa dengan alasan kami butuh "gambar liputan" untuk laporan dan satu lagi tahun lalu masyarakat desa tersebut belum mau memotong hewan kurban sebelum kami dari IKADI datang. Hikmahnya, temen2 yang datang ke sana pulangnya bawa durian di motor masing-masing :)).

Cerita lain yang agak unik, kami panitia berangkat ba'da subuh dalam kondisi belum sarapan -karena biasanya dianjurkan baru makan pulang sholat Ied- yang terjadi adalah kami baru pada makan jam 13.00 selesai dzuhur karena gak ada yang ngasih makan... hiks!! bagi saya yang orang Sunda agak aneh sikap orang desa di sini beda dengan di Jawa Barat sana....he.he. padahal lagi lebaran ya. Jadinya hari itu ngantuk, dingin, dan perut keroncongan,... kompak lagi semuanya. Walaupun akhirnya pas pulang kami pesta durian. Terus di desa Talang Lakat sempet2nya temen yang ditugasin ke sana moto dan ngerekam gambar ular yag ditangkap dekat tempat pemotongan sapi..ular sanca 5 m yang nangkap ibu2 karena kesal angsanya dimakan tu ular.

Idul Adha yang mengasikkan dan berkesan, moga-moga tahun depan lebih baik programnya -kalau gak diprotes orang rumah-. Harapannya sih tahun depan bisa bawa mobil ke area lokasi penduduk jadi bisa bawa anak2. Karena tahun inipun ada seorang ibu yang ikut kurban pingin ikut ke lokasi, batal karena ibunya anak-anak gak ikut.

Evaluasi lainnya mungkin soal proposal tawaran kurban, tahun ini sedikit telat. Saat dibawa ke beberapa instansi responsnya cukup baik sayangnya kami telat menginformasikan mereka rata-2 sudah ikut yang di Masjid sekitar kota padahal ada beberapa Masjid yang motong sampai 13 sapi bahkan ada yang 24 dan 31 ekor sapi. Kerja kami yang belum optimal. Harapan lainnya, semoga banyak lembaga-lembaga lain yang mau melakukan kegiatan sejenis -menebar hewan kurban ke daerah2 terpencil- dan ada dukungan dari pemerintah daerah atau pejabat secara pribadi, orang-orang yang tidak mampu yang kebetulan jauh dari pusat kota bisa ikut menikmati.

Rabu, Desember 19, 2007

Naskah Khutbah Idul Adha 1428 H

Berikut naskah khutbah Idul Adha 1428 H lainnya bisa dilihat di alamat ini http://www.eramuslim.com/berita/nas/7c18065229.htm dan http://ikadi.org/new/main.php?op=isi&id=152

Selasa, Desember 18, 2007

Sholat Iedul Adha Mana yang Harus Diikuti

Sholat Iedul Adha Mana yang Harus Diikuti

Jumat, 14 Des 07 10:39 WIB

Kirim teman

Assalamu 'alaikum Ustadz,

Setelah terjadi perbedaan yang signifikan pada penetapan hari raya idul fitri 1 syawwal 1428 H, maka kali ini pada waktu idul adha muhammadiyah, NU, MUI dan ormas Islam lainnya SEBAGIAN BESAR telah menetapkan tanggal 20 Desember sebagai hari raya idul adha.

Sementara pemerintah saudi arabia menetapkan wukuf tanggal 18 Desember 2007, sehingga idul adha versi arab 19 Desember 2007.

Mana waktu yang paling afdhol yang harus kami ikuti? Karenasetahu saya (mohon dikoreksi kalo salah) Idul adha itu semestinya mengacu ke waktu wukuf di arafah atau sebagai bagian dari ritual ibadah haji.

Mohon dalil yang memperkuat jawaban ustadz sehingga kami mantap dalam menjalankan ibadah sholat ied

Terima kasih

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Ksnusantara

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ini adalah pertanyaan 'langganan' yang datang tiap menjelang dua hari raya. Dansejak dahulu seringkali mengganggu rasa penasaran kita. Setelah urusan perbedaan ketetapan jatuhnya Hari Idul Fithri dua bulan lalu, sekarang giliran perbedaan ketetapan 'Idul Adha.

Sehingga ada teman berseloroh, kalau kemarin tokohnya Muhammadiyah 'melawan' semua ormas termasuk Pemerintah, sekarang tokohnya semua ormas Islam bersama Pemerintah 'melawan' kerajaan Saudi Arabia. Dengan pengecualian Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) yang tetap setia ikut Saudi Arabia.

Pasalnya apalagi kalau bukan urusan perbedaan hasil ijtihad ketika rukyatul hilal awal bulan Dzul-Hijjah kemarin. Dan tentunya perbedaan hasil hisabnya juga.

Ijtihad Pemerintah Indonesia dan Ormas-ormasnya

Pemerintah RI (DEPAG) bersama dengan ormas-ormas Islam di Indonesia, bahkan juga dengan Malaysia, sepakat menyatakan tanggal 10 DZulhijjjah jatuh pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 20 Desember 2007.

Melalui sidang itsbat diputuskan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1428 Hijriah jatuh pada Selasa (11/12), sehingga hari raya Idul Adha 1428 Hijriah jatuh pada Kamis (20/12).

Ketua Badan Hisab Rukyat Depag, Muchtar Ilyas mengatakanbahwaijtima' menjelang awal bulan Dzulhijah 1428 Hijriah pada Senin (10/12) terjadi sekitar pukul 00. 41 WIB dengan ketinggian hilal antara 4-6 derajat 30 menit. Dan ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk antara 5 derajat 30 menit sampai 3 derajat 30 menit.

Jadi rukyatul hilal yang diselenggarakan pada hari Ahad 9 Desember memutuskan bahwa malam itu kita belum lagi masuk ke bulan Dzul-Hijjah, karena hilal dianggap belum nampak. Maka keesokan harinya, Senin, masih terbilang bulan Dzul-Qa'dah tanggal 30. Tanggal 1 Dzul-Hijjah jatuh hari Selasa.
Hasil Keputusan Pemerintah Saudi Arabia

Berbeda dengan Indonesia dan Malaysia, pemerintah Arab Saudi malah memutuskan hari Ahad tanggal 9 Desember itu sebagai hari terakhir bulan Dzul-Qa'dah, karena hilal telah terlihat sore itu. Otomatis besok harinya Senin 10 Desember sudah masuk tanggal 1 Dzul-Hijjah. Dan tanggal 9 Dzul-Hijjah jatuh pada hariSelasa tanggal 18 Desember, sebagai hari Arafah. Para jamaah haji akan memenuhi padang Arafah di hari itu. Keeseokan harinya, RAbu 19 Desember adalah Hari Idul Adha.

Umat Islam Bingung

Dan umat Islam pun bingung...

Mungkin kalau yang bingung sekedar umat Islam, masih wajar. Tapi kalau para ustadz dan penceramahnya juga ikut-ikutan bingung, suasana akan semakin seru.

Kenapa para ustadz jadi bingung? Sebabmereka akan terus menerus dicecar pertanyaan oleh jamaahnya, padahal mereka sendiri pun tidak juga masih berdebat dengan sesamanya tentang urusan ini. Jadi sama-sama tidak kalah bingungnya.

Bagaimana tidak bingung, kalau yang satu bilang begini dan yang satu bilang begitu. Yang satu komitmen kepada keputusan ormasnya atau Pemerintahnya, yang lain bilang kalau urusan Idul Adha serahkan saja pada Pemerintah Saudi Arabia.

Lalu bagaimana ini?

Maka kolom inilah yang kemudian jadi sasaran kiriman pertanyaan pembaca Eramuslim. Sekarang giliran kami yang bingung untuk menjawab. Mau tidak mau harus buka kitab untuk mencari rujukannya. Mungkin dikira kami tidak bingung, padahal sama saja, bingung juga.

Sebenarnya kalau kita buka kitab fiqih, kita akan dapati perbedaan ini sudah ada sejak zaman dahulu. Perbedaannya berkisar pada pertanyaan mendasar, apakah bumi kita satu mathla' atau terdiri banyak mathla'? Apakah dimungkinkan terjadinya perbedaan hasil rukyat antara satu wilayah dengan wilayah lain?

Maka dalam hal ini memang berkembang dua pendapat.

1. Pendapat Keragaman Mathla'

Mazhab Asy-Syafi'i termasuk yang menerima konsep perbedaan mathla'. Antara satu wilayah di muka bumi dengan wilayah yang lain, boleh saja terjadi perbedaan hari dalam menjatuhkan tanggal.

Bahkan untuk wilayah yang berdekatan, mazhab ini mengatakan setidaknya dalam jarak 24 farsakh sudah dimungkinkan terjadinya perbedaan Hari Raya.

Maka kalau sekarang ada yang berprinsip ikut kepada Keputusan Pemerintah negeri sendiri, walaupun berbeda pendapat dengan pemerintah Saudi Arabia, landasan mereka adalah ijtihad ini.

Landasannya bahwa masalah penetapan hari raya tiap wilayah di negeri Islam berhak untuk melakukan ijtihad sendiri dengan melakukan rukyatul hilal secara mandiri, bahkan hisab tersendiri. Di Saudi mau lebaran hari apa, itu terserah keputusan para penguasa di sana.

2. Pendapat Wihdatul Mathla'

Di sisi lain, ada kalangan ulama yang berprinsip sebaliknya. Mereka mengatakan bahwa yang lebih kuat adalah bahwa di muka bumi ini seharusnya ada keseragaman. Kalau ada satu orang di satu titik di permukaan bumi melihat hilal, maka semua orang sedunia harus ikut terhadap apa yang dilihatnya.

Di negeri kita, ada beberapa kelompok yang setia menggunakan pendapat ini, untuk Hari Idul Fithri. Dan pendukungnya semakin banyak pada saat Hari Idul Adha. Alasan mereka, sebab Idul Adha adalah urusan wuquf di Padang Arafah. Puasanya saja disebut dengan puasa Arafah, maka kita harus ikut wuquf di Arafah.

Maka kalau untuk'Iedul Fitri ikut ijtihad Pemerintah lokal, tapi kalauuntuk 'Iedul Adha ikut ijtihad Pemerintah Saudi Arabia.

Kajian

Kedua ijtihad di atas sama-sama kuat landasannya. Pendapat pertama masuk akal dan secara tidak langsung sebenarnya kita di Indonesia dan bahkan umat Islam di seluruh dunia selama ini -sadar atau tidak sadar- telah menjalankannya.

Pendapat kedua sebenarnya juga sangat bagus, meski belum pernah terjadi. Mengapa? Karena ada hambatannya, yaitu kalau memang harus berlebaran bersama, maka harus ada satu pihak yang disepakati sebagai rujukan. Lalu siapakah orangnya atau apa lembaganya?

Ternyata juga tidak ada selama ini yang disepakati. Maka tiap negeri Islam berijtihad sendiri-sendiri.

Kecuali khusus momentum hari Arafah, di mana saat itu memang ada agenda besar umat Islam secara international, yaitu berwuquf di Arafah. Tapi pertanyaannya, siapakah yang menetapkan jatuhnya hari wuquf itu?

Jawabnya pemerintah Saudi Arabia. Mereka memang pihak yang paling berwenang untuk menetapkannya. Kalau sudah ditetapkan, setidaknya semua orang yang kebetulan ada di negeri itu akan ikut. Termasuk juga jamaah haji dari ratusan negara, semua akan wuquf hari itu pada hari yang sama.

Sayangnya, wilayah pemerintahan Saudi Arabia tidak membentang hingga ke seluruh dunia. Wilayahnya jauh lebih kecil dari Indonesia. Jumlah rakyatnya juga jauh lebih sedikit. Jadi yang taat kepada Pemerintah Saudi Arabia hanya terbatas pada lahan yang sempit dan julah massa yang terbatas.

Seandainya wilayah Saudi Arabia membentang dari ujung barat Maroko hingga ujung timur Marauke, mencakup semua negeri yang berpenduduk muslim, maka kemungkinan penyatuan hari Raya bisa dilakukan. Saat di mana umat Islam punya satu pemerintahan yang diikuti oleh 1, 5 milyar jiwa.

Kesimpulan

Jadi kalau kita melihat dua kelompok berbeda pendapat, yang satu mau lebaran hari Kamis dan yang satu mau Hari Rabu, ya kita tinggal tersenyum saja. Tidak perlu sakit hati atau ikut-ikutan heboh dan bingung.

Sebab keduanya memang punya landasan yang masuk akal, logis, kuat dan sama-sama hasil ijtihad para ulama senior mujtahid mutlak di masa lalu. Adanya perbedaan hari raya, bahkan Idul Adha, memang sudah lama terjadi. Walau pun pendukung wihdatul mathali' akan jauh lebih banyak saat Idul Adha.

Wallahu a'lam bishsawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/7c14002348-sholat-iedul-adha-mana-harus-diikuti.htm?other

Naskah Khutbah Idul Adha 1428 H

Alhamdulillah akhirnya ada juga naskah khutbah Id nya, silahkan di kunjungi di alamat berikut:

http://www.dakwatuna.com/index.php/kajian/2007/khutbah-idul-adha/print/

Terima kasih buat ustad2 di dakwatuna. DPP? belum ada sampai saat ini.

BERITA TERKINI IDUL ADHA 1428 H


detikNews


18/12/2007 10:59 WIB
PKS Bebaskan Kader Pilih Idul Adha yang Mana
Umi Kalsum - detikcom

Jakarta - Perbedaan jatuhnya Idul Adha 1428 H di Indonesia tidak menjadi kendala bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS menyerahkan kepada kadernya untuk memilih, apakah mengikuti keputusan pemerintah 20 Desember 2007, atau sehari setelah jatuhnya wukuf di Arab Saudi, 19 Desember 2007.

"Sejak Idul Fitri kemarin, Dewan Syariah Pusat PKS tidak lagi menetapkan kapan jatuhnya Idul Fitri dan Idul Adha untuk kadernya. Jadi sekarang kita serahkan kepada kader dan anggota masing-masing," ungkap Ketua FPKS DPR Mahfud Sidik saat dihubungi detikcom, Selasa (18/12/2007).

Kader PKS dibebaskan ikut ketentuan pemerintah atau menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. "Jadi masing-masing daerah bisa ambil istihaj untuk memilih yang mana, tanggal 20 Desember atau 19 Desember. Dalam praktiknya memang akan beragam," ujar Mahfud.

Yang menjadi dasar pemikiran PKS, imbuh Mahfud, sebenarnya penentuan hisab dan rukyah masuk domain pemerintah sehingga apa yang menjadi keputusan pemerintah, yang didasarkan rapat istbat dengan melibatkan semua komponen umat dan ditetapkan dalam satu keputusan, maka itu yang dijadikan rujukan.

"Tapi pertimbangan keberagaman masyarakat juga ada, termasuk penentuan hisab dan rukyah, kita serahkan ke kader. Jadi jika daerah ingin menyesuaikan dengan kondisi setempat silakan saja," ujar dia. ( umi / nrl )



Baca juga berita lain:

* DDII Pusatkan Salat Id di Kramat Raya & Al Azhar Rabu
* HTI Gelar Salat Idul Adha di Parkir Timur Senayan Rabu
* Hiburan Malam Dilarang di Malam Idul Adha
* Idul Adha Beda dengan Arab, Warga Muhammadiyah Diimbau Taati Hisab



© 2007 detikcom

Mencari Naskah Khutbah Idul Adha 1428 H


Hari ini (18 Desember 2007), jamaah haji tahun 1428 H akan melaksanakan wukuf di arafah dan besoknya adalah Idul Adha 1428 H. Di Indonesia Depag dan beberapa ormas Islam yang "besar" menetapkan tanggal 20 Desember 2007 sebagai hari Raya Idul Adha 1428 sesuai kalender yang sudah tercetak setahun lalu. Ikut yang mana ya? :(( yang jelas kami di rumah niat puasa sunah hari ini sesuai wukuf di Arafah.


Beberapa hari ini blog ramai dikunjungi dengan entry page tentang naskah khutbah Idul Adha 1428 H, sudah puluhan. Sayangnya sampai hari ini saya sendiri belum menemukan naskah tersebut walaupun sudah googling dari beberapa minggu sebelum ini, saya suka print dan bagi dengan ustad-ustad di sini. Biasanya yang rajin upload naskah tersebut di situs DPP PKS di www.pk-sejahtera.org atau IKADI di www.ikadi.org tapi sampai tadi malam belum ada. Kenapa juga gak bisa buat sendiri? :((

Sebenarnya ada juga ketemu naskah tersebut di situs Hizbut Tahrir Indonesia www.hizbut-tahrir.or.id dan naskah khutbah Idul Adha 1427 H di blog seorang ustad di Kairo yang saya fikir sangat bagus dan masih "bisa dipakai" untuk tahun ini alamatnya http://ahmadzain.wordpress.com.

Semoga bermanfaat. AHA nya, yok belajar buat naskah khutbah sendiri!

Jumat, Desember 14, 2007

Dan Berkurbanlah

www.dakwatuna.com


3/12/2007 | 24/Dzulqaidah/1428 H | Hits: 108

Dan Berkurbanlah

Oleh: Ulis Tofa, Lc

Syariat berkurban merupakan warisan ibadah yang paling tua. Karena berkurban mulai diperintahkan saat Nabiyuallah Adam alaihissalam tidak menemukan cara yang adil dalam menikahkan anak-anaknya yang kembar. Meskipun sudah diputuskan menikah secara silang. Sampai akhirnya Allah swt mewahyukan agar kedua anak Adam, Habil dan Qabil melaksanakan kurban untuk membuktikan siapa yang diterima. Habil berkurban dengan ternaknya –unta- dan Qabil berkurban dengan tanamannya –gandum-.


Sampai disini Allah swt sebenarnya ingin menguji hamba-hamba-Nya, mana yang dengan suka-rela menerima perintahnya, dan mana yang menentangnya. Habil dengan ikhlas mempersembahkan kurbannya dan karenanya diterima. Sedangkan Qabil karena tidak tulus dalam menjalankan perintah berkurban, tidak diterima, sehingga dengan nekad juga ia membunuh saudaranya, inilah peristiwa pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia.

Syariat berkurban dilanjutkan dengan Nabi-Nabi berikutnya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (34)

“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” QS. Al-Hajj : 34


Peristiwa berkurban paling fenomenal dibuktikan oleh Bapak Tauhid, Khalilullah, Ibrahim Alaihissalam. Ibrahim yang menanti seorang putra sejak lama itu diperintahkan Allah swt untuk menyembelih putra semata wayangnya, Isma’il alaihissalam. Ujian berat menyergapnya, antara melaksanakan perintah Allah swt atau membiarkan hidup putranya dengan tidak melaksanakan perintah Allah swt, toh putranya nanti akan melanjutkan perjuangan bapaknya. Alasan ini kelihatan begitu rasional. Bisa menjadi pembelaan diri dan pembenaran pilihan.


Namun, Ibrahim sudah teruji ketaatannya kepada Allah swt. sehingga tiada ragu ia akan melaksanakan perintah Allah swt. Perintah itu dikomunikasikan dengan putranya Isma’il. Betapa bangganya sang ayah yang mendengar ketegasan putranya, “Wahai Ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan menemukan diriku termasuk orang yang penyabar.”

Rangkaian kisah hebat itu Allah swt rekam dalam Al Qur’an,


“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS. As Shoffat : 100-110


Nikmat Allah

Syariat itu kembali diaktualisasikan oleh nabi akhir zaman, Nabiyullah Muhammad saw dan kita sebagai umatnya. Perintah itu digambarkan dalam surat pendek, surat Al Kautsar : 1-3

“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”


Sebelum Allah swt memerintahkan berkurban, terlebih dulu Allah swt mengingatkan betapa nikmat pemberian Allah swt begitu banyak “Al Kaustar”, atau juga berarti telaga kautsar di surga.

Kalau kita mencoba merenung, nikmat Allah swt yang besar adalah nikmat diciptakanya kita sebagai manusia. Makhluk Allah swt yang paling mulya dan paling baik bentuknya, “ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” QS. At Tiin : 4


Nikmat menjadi peran khalifatullah fil ardli, perwakilan Allah swt untuk memakmurkan bumi dan isinya. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” QS. Al Baqarah : 30

Nikmat anggota badan yang begitu menakjubkan dan luar biasa. Betapa sangat mahalnya kesehatan itu ketika satu mata dihargai ratusan juta. Makanya Allah swt kembali mengingatkan “Dan pada diri kalian, apakah kalian tidak memperhatikan?” QS. Adz Dzariyat : 21

Dan yang paling besar anugerah Allah swt adalah nikmat Iman dan Islam. Ini digambarkan Allah sendiri,

”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al Ma’idah : 3


Hakekat Berkurban

Setelah Allah swt menyebut nikmat-nikmat yang begitu banyak itu, Allah swt mengingatkan hamba-hamba-Nya agar mau melaksanakan perintah-perintah-Nya: perintah shalat lima waktu atau shalat Idul Adha dan berkurban sebagai bukti rasa syukur kepada-Nya.

Bahkan Rasulullah saw memerintahkan berkurban dengan bahasa yang tegas dan lugas bahkan disertai ancaman. Ancaman untuk tidak dekat-dekat dengan tempat shalat atau dengan istilah lain tidak diakui menjadi umat Muhammad.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Dari Abu Hurairah ra., nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri (mendekati) tempat shalat kami”. (Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Berkurban tidak sekedar mengalirkan darah binatang ternak, tidak hanya memotong hewan kurban, namun lebih dari itu, berkurban berarti ketundukan total terhadap perintah-perintah Allah swt dan sikap menghindar dari hal-hal yang dilarang-Nya.

Allah swt ingin menguji hamba-hamba-Nya dengan suatu perintah, apakah ia dengan berbaik sangka kepada-Nya dan karenanya melaksanakan dengan baik tanpa ragug-ragu? Laksana Nabiyullah Ibrahim.

Berkurban adalah berarti wujud ketaatan dan peribadatan seseorang, dan karenanya seluruh sisi kehidupan seseorang bisa menjadi manifestasi sikap berkurban.


Atau seperti Qabil yang menuruti logika otaknya dan kemauan syahwatnya, sehingga dengan perintah berkurban itu, ia malah melanggar perintah Allah swt dengan membunuh saudara kembarnya sendiri? Ia berusaha mensiasati perintah Allah swt dengan kemauannya sendiri yang menurutnya baik. Namun di situlah letak permasalahannya: ia tidak percaya perintah Allah swt.?


Berkurban juga berarti upaya menyembelih hawa nafsu dan memotong kemauan syahwat yang selalu menyuruh kepada kemunkaran dan kejahatan.

Seandainya sikap ini dimiliki oleh umat Islam, subhanallah, umat Islam akan maju dalam segalanya. Betapa tidak, bagi yang berprofesi sebagai guru, ia berkurban dengan ilmunya. Pengusaha ia berkurban dengan bisnisnya yang fair dan halal. Politisi ia berkurban demi kemaslahatan umum dan bukan kelompoknya. Pemimpin ia berkurban untuk kemajuan rakyat dan bangsanya dan begitu seterusnya.


Kita berani menyembelih kemauan pribadi yang bertentangan dengan kemauan kelompok, atau keinginan pribadi yang bertentangan dengan syariat. Bahkan kemauan kelompok namun bertentangan dengan perintah Allah swt.

Dengan semangat ini, bentuk-bentuk kejahatan akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan di bumi pertiwi ini. Biidznillah.


Karena itu Allah swt menegaskan dalam firman-Nya,

”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al Hajj : 37.

Dan berkurbanlah. Kurban menjadi kebiasaan yang melegakan, bukan menjadi beban dan keterpaksaan. Karena memang kurban tidak sekedar memotong hewan. Allahu A’lam.



Pasted from <http://www.dakwatuna.com/index.php/sunnah-nabawiyah/2007/dan-berkurbanlah/>

Idul Adha 1428 H

Idul Adha 1428 H
Dewan Syariah PKS Serukan Peningkatan Ibadah

"Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci) dimana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr ayat 1-4."

PK-Sejahtera Online: Demikian awal pernyataan Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera dalam bayannya menyambut Hari Raya Idul Adha 1428 Hiriyah.

Sebagaimana telah dijelaskan pada saat Ramadhan lalu, DSP PKS mulai kemarin tidak memutuskan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebagai penentuan awal puasa dan Idul Fitri. Namun DSP menyarankan kepada masyarakat dan kader serta simpatisan PKS agar mengikuti keputusan masyarakat sekitar. Hal ini berlaku juga untuk penentuan 10 Dzulhijjah sebagai penentuan Hari Raya Idul Adha.

Namun demikian, dalam rangka menyambut bulan suci tersebut, DSP mengeluarkan bayan agar para kader, simpatisan dan masyarakat meningkatkan ibadah di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Meningkatkan ibadah menurut Bayan DSP tersebut adalah takbir, tahlil dan tahmid, puasa sunnah(khususnya puasa sunnah ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah), Shalat ‘Idul Adha pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan takbir dan berkurban di hari Tasyriq(11-13 Dzulhijjah).

Meski tidak menetapkan idul adha, pada bayan tersebut DSP menganjurkan agar masyarakat merujuk kepada kputusan MUI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal dan 10 Dzulhijjah serta ketetapan Depag RI bersama ormas Islam.

"Dalam menetapkan shalat Idul Adha (Hari Nahar) DSP mengacu pada semangat kebersamaan dengan seluruh komponen umat Islam di Indonesia dan merujuk pada Keputusan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah serta ketetapan/sidang itsbat Depag RI bersama ormas Islam."


Url: http://pk-sejahtera.org/2006/download/dokumen/dsp/Bayan Sepuluh pertama Dzulhijjah 1428.pdf

Rabu, Desember 12, 2007

Depag: Idul Adha 20 Desember

12/12/2007 14:57 WIB

Depag: Idul Adha 20 Desember

Anwar Khumaini - detikcom


Jakarta - Departemen Agama menyatakan, 1 Dzulhijjah jatuh hari Selasa tanggal 11 Desember 2007. Sementara Hari Raya Idul Adha atau 10 Dzulhijjah jatuh pada Kamis tanggal 20 Desember 2007.

Depag telah melakukan hisab pada 16-18 Maret. Dan hasil itu sama dengan hasil rukyat yang dilakukan oleh 24 orang pada 9 Desember.

Hal ini dibeberkan Ketua Badan Hisab Rukyah (BHR) Departemen Agama Muchtar Ilyas di Departemen Agama, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/12/007).

Muchtar menyatakan, dari 24 orang yang melihat hilal di 24 tempat, dari Jayapura hingga Aceh, kesemuanya menyatakan tanggal 9 Desember tersebut tidak melihat hilal sehingga bulan Dzulqadah diistikmalkan menjadi 30 hari.

Di Malaysia, 1 Dzulhijjah jatuh pada 11 Desember 2007 dan Idul Adhanya juga pada Kamis 20 Desember 2007.

Saat ini sidang istbat sedang digelar di Depag. Sidang ini dihadiri oleh MUI, NU, Muhammadiyah, Persis, LDII dan ormas Islam lainnya.

Sebagaimana diketahui, Arab Saudi menetapkan wukuf di Arafah jatuh 18 Desember, sedangkan Idul Adha jatuh 19 Desember.

( aan / nrl )


www.detik.com



Arab Saudi: Arafah 18 Desember, Idul Adha 19 Desember 2007

11/12/2007 07:27 WIB

Arab Saudi: Arafah 18 Desember, Idul Adha 19 Desember 2007

Arifin Asydhad - detikcom

Riyadh - Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan hari Arafah 9 Dzulhijjah 1428 H jatuh pada hari Selasa, 18 Desember 2007. Dengan demikian Idul Adha 10 Dzulhijjah jatuh pada Rabu 19 Desember 2007.

Penetapan hari Arafah dan Idul Adha ini berdasarkan sidang Majelis Qadha' (Dewan Pengadilan) Tertinggi Arab Saudi yang diteken pada 30 Dzulqa'dah bertepatan dengan 10 Desember 2007.

Berikut pengumuman Majelis Qadha Tertinggi yang ditulis dengan bahasa Arab. detikcom mendapatkan salinannya, Selasa (11/12/2007) dan telah diterjemahkan oleh Staf Teknis Urusan Haji Konsulat Jenderal RI Jeddah:

Pada hari ini, Majelis Qadha' Tertinggi telah mengeluarkan pengumuman sebagai berikut :

Alhamdulillah. Salawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad , dan kepada keluarga serta sahabatnya. Bahwa secara hukum syariah Majelis Qadha' Tertinggi telah menetapkan masuknya bulan Dzulhijjah tahun ini 1428 H pada malam Senin tanggal 10 Desember 2007 M berdasarkan kesaksian sejumlah saksi yang adil dan dipercaya. Dengan demikian Wukuf di Arafah jatuh pada hari Selasa tanggal 18 Desember 2007 M dan hari raya idul Adha jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember 2007 M.

Majelis Qadha Tertinggi dengan mengumumkan hal ini kepada segenap umat muslimin, memohon kepada Alllah SWT agar melepaskan umat muslimin dari segala kesusahan, dan menjauhkan mereka dari segala musibah dan cobaan, memberikan kemudahan bagi para jamaah haji dalam melaksanakan ibadah haji, mengampuni dosa-dosa kita semua, dan menerima amal ibadah umat muslimin di manapun berada, memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, menyatukan mereka dalam hidayah, mempererat hubungan sesama mereka, menganugerahkan mereka agar dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, dan menguatkan mereka dengan kebenaran serta menegakkan kebenaran dengan mereka. Sesungguhnya ia (Allah) Maha mendengar dan Maha mengabulkan doa.

Salawat kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga serta sahabatnya.

Majelis Qadha' Tertinggi dengan anggota tetapnya :

  1. Nasir bin Ibrahim Al Habib (anggota)
  2. Ghaihib bin Muhamad Al Ghaihib (anggota)
  3. Muhammad bin Al Amir (anggota)
  4. Muhammad bin Sulaiman Al Badr (anggota)
  5. Saleh bin Muhammad Al Lehaidan (Ketua Majelis)

Sementara itu, pemerintah Indonesia belum menetapkan secara resmi kapan Idul Adha. Seharusnya Departemen Agama (Depag) sudah melakukan sidang istbat untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah. Namun, hingga saat ini, Depag belum juga menggelarnya. Hal ini tampak janggal, karena tahun lalu sidang istbat digelar sebelum tanggal 1 Dzulhijjah muncul.

Sedangkan PP Muhammadiyah telah menetapkan Idul Adha jatuh pada Kamis, 20 Desember 2007. PP Muhammadiyah menetapkannya berdasarkan hasil hisab hakiki yang dilakukannya.

Dengan penetapan Arab Saudi bahwa Idul Adha jatuh pada 19 Desember 2007, maka kemungkinan Idul Adha akan dirayakan umat muslim Indonesia tidak di hari yang sama. Biasanya, ada kelompok umat Islam yang mendasarkan pada hari Arafah di Makkah. Salah satu yang jadi dasar, bahwa waktu Arab Saudi lebih lambat dibanding Indonesia. ( asy / asy )

© 2007 detikcom

Kamis, Desember 06, 2007

AYO membuat TAMAN BACAAN






















Ayo Membuat Taman Bacaan

Keinginan itu muncul kembali. Selama ini ruangan Playgroup banyak yang belum dimanfaatkan secara baik dan dalam sehari cuma 2-3 jam digunakan untuk kegiatan sekolah, selebihnya nganggur. Selain itu ada laporan dari kepala sekolah, para orang tua dan para pengasuh anak-anak playgroup lebih banyak "ngerumpi" selama nunggu anak-anaknya. Dulu timbul ide membuat ruang baca memanfaatkan ruang kosong yang ada. Koleksi buku cerita anak-anak dan majalah ibu-ibu sudah ada beberapa. Fikir-fikir kenapa gak diperbesar aja sekalian?

Googling tentang taman bacaan, dan browsing ke situs 1001buku http://www.1001buku.org/ yang selama ini memang sudah terdapftar. Akhirnya nemu juga beberapa link yang bisa dimanfaatkan untuk "hunting buku gratis". "Penyakit" orang indonesia maunya yang gratisan melulu :( . Berikut beberapa pihak yang bisa diprospek :

Komnas HAM, tanggal 4-7 ngasih donasi buku-buku gratis dalam rangka hari HAM dunia infonya dapat dari milist 1001buku, sudah pesan via SMS ke temen belum ada berita.
MC D Indonesia (belum bergerak)
Bank Niaga (belum sempet browsing)
LAZIS Muhamadiyah
Blog seorang ibu baik hati yang ada di Inggris http://www.bukuuntukanakbangsa.blogspot.com/, sudah kirim pesan di shoutbox tapi belum direspon
Hero (belum di tindaklanjuti), … kalau gak salah banyak temen2 alumni TIN di sini. :)) AHA!
Program Hibah sejuta buku Riau Pos
Dll.

Modal awal mungkin sarana sudah ada dan beberapa buku, tinggal sekarang menyusun proposal dan distribusi.

Modal lainnya ada ebook dari situs 1001buku yang bisa di download di www.1001buku.org/files/ebook_tba.dbf tentang pengembangan taman bacaan anak, tadi sudah diprint dan dikasih ke kepala sekolah.. lumayan lah dapat ilmu.

Pesan dari temen2 relawan "1001buku", jalanin dulu baru minta buku :))

Ayo bergerak!!!

Rektor Muda dari IPB

Sumber : http://www.ipb.ac.id/

Herry Suhardiyanto Terpilih Menjadi Rektor IPB
Senin, 3 Desember 2007

Sidang Paripurna Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) IPBSenin(3/12) di Gedung Rektorat,Kampus IPB Dermaga , yang dipimpin Ketua MWA IPB Didiek J. Rachbini dan dihadiri Mendiknas, Bambang Sudibyo, berhasil memilih dan menetapkan Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, M.Sc.(48 tahun) sebagai rektor IPB, periode 2007 - 2012.

Pada pemilihan itu Dr.Ir.Herry Suhardiyanto MSc mengungguli dua calon rektor lainnya masing-maing Prof.Dr.Ir.Dudung Darusman, MA., dan Prof.Dr.Ir.MA Chozin, M.Agr., dengan meraih suara 65,7 persen. Sedangkan Prof.Dudung Darusman sebanyak 17,1 persen dan Prof.M.A.Chozin sebanyak 10,2 persen suara.

Suasana pemilihan berjalan dengan hidmat dan penuh ketegangan. Satu persatu para calon rektor kembali memaparkan visi dan misi selama 15 menit. Setelah itu kembali mereka diuji kelayakan oleh anggota MWA. Di luar ruangan, civitas akademika IPB bisa mengikuti jalannya sidang paripurna melalui televisi. Terpasang 2 unit televisi di lantai 1 dan 2, serta 1 unit televisi di lantai 6.

Diantara sivitas akademika tampak sekitar 20 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM IPB) memberikan pernyataan sikap menuntut MWA agar melakukan pemilihan sesuai dengan hati nurani dan bebas dari kepantingan eksternal yang kontraproduktif terhadap kepentignan IPB, pertanian, bangsa dan negara.

Mahasiswa juga menghimbau MWA agar tidak terpengaruh terhadap isu atau berita apapun yang dihembuskan oleh pihak-pihak luar IPB yang berusaha mengintervensi proses pemilihan rektor.

Usai sidang, kepada wartawan Dr.Herry kelahiran Banjarnegara,Jateng dan terakhir sebagai Wakil Rektor II menerangkan program pertama yang akan dilakukannya adalah bersilaturahmi dengan seluruh komponen civitas akademika IPB."Program pertama, saya akan melakukan silaturahmi dengan seluruh komponen IPB agar semuannya siap untuk menatap masa depan yang lebih baik. Persoalan ini bukan persoalan satu, dua orang, tapi persoalan kita semua, warga IPB," ujarnya.

Sementara, program kerja yang akan dilakukan ada 5 bidang yaitu, Pendidikan dan Kemahasiswaan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kesejahteraan, peningkatan kapasitas, dan penguatan sistem manajemen kampus..(man)

====================
Memangnya isu apa ya?