Sabtu, Agustus 15, 2009

KISAH SUKSES

Sekolah Gratis

KOMPAS, Jumat, 03 Agustus 2007
Tan Sing Loen, Meneruskan Tradisi Sekolah Gratis
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/03/Sosok/3710821.htm

ANTONY LEE

Jauh sebelum sekolah gratis ramai dibicarakan, sebuah sekolah di daerah
pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, sudah menerapkannya. Tidak hanya
untuk etnis Tionghoa, sekolah gratis ini didedikasikan bagi semua golongan
sejauh mereka tidak mampu. Sebagai Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee, Tan Sing
Loen sudah belasan tahun mengelola sekolah ini.

Perkenalan Tan Sing Loen (74) dengan Yayasan Khong Kauw Hwee sebenarnya
sudah berlangsung sejak sekolah ini dirintis, sekitar tahun 1950.

Ketika itu, dia masih sekadar membantu mencarikan dana lewat
penyelenggaraan bazar. Keterlibatannya dengan yayasan itu pun semula masih
sekadar membantu. Sesekali dia terlibat langsung dengan kegiatan sekolah
sebab ketika itu Tan Sing Loen masih sibuk berdagang alat-alat listrik di
tokonya, juga di kawasan pecinan Semarang.

Pada tahun 1984 dia diminta untuk menjadi sekretaris yayasan. Lalu,
beberapa tahun kemudian dia menggantikan ketua yayasan yang meninggal
dunia.

Sekolah Kuncup Melati yang dikelola Tan Sing Loen ini sekilas tidak
berbeda dengan sekolah lain. Bangunan sekolah yang terletak di Gang
Lombok—kawasan pecinan Semarang—ini juga tak terlalu besar. Namun, di
sekolah ini ratusan anak tak mampu dari berbagai latar belakang menimba
ilmu tanpa dipungut bayaran sepeser pun. Dana operasional sekolah ini
semata-mata didapat dari para donatur.

Tak jarang pula, untuk membantu yayasan, para orangtua murid menyempatkan
diri turut membersihkan lingkungan sekolah. Ini karena di sekolah tersebut
tidak ada petugas kebersihan.

Pendidikan gratis yang hanya bermodal sumbangan dan kerelaan hati para
donatur ini terdiri atas taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).
Sudah sejak tahun 1950 sekolah tersebut membantu ribuan anak tak mampu
untuk mengenyam pendidikan. Pada tahun ajaran baru tahun ini seluruh
siswanya berjumlah 243 anak.

"Sekolah ini merupakan wadah pengabdian. Para murid tidak pernah dipungut
biaya apa pun. Namun, justru banyak donatur yang terketuk hatinya untuk
membantu," ungkap Tan Sing Loen akhir Juli lalu.

Bantuan yang diterima sekolah ini tidak selamanya berupa uang. Ada pula
masyarakat yang memberikan alat tulis, seragam, membantu membayar rekening
listrik, rekening telepon, atau memberi makanan. Pengurus yayasan tak
pernah menolak bantuan dalam bentuk apa pun.

Saat Kompas sedang berbincang dengan laki-laki yang sering dipanggil Om
Tan ini, seorang perempuan datang ke ruangan kepala sekolah. Dia
menawarkan diri untuk mengisi kekosongan guru bahasa Mandarin bagi murid
kelas enam, tanpa meminta bayaran.

"Entah dari mana dia dapat informasi bahwa kami kekurangan guru. Tetapi,
memang bantuan semacam ini juga sering datang meski kami tidak pernah
meminta. Dermawan selalu saja ada," tuturnya.

Setiap bantuan berupa barang diberikan langsung kepada para murid. Om Tan
menerapkan manajemen terbuka. Oleh karena itulah, setiap donatur bisa
langsung melihat untuk apa sumbangan yang diberikan.

Pengabdian dan sukarela

Menurut Om Tan, pengelolaan yayasan ini berpedoman pada prinsip pengabdian
dan sukarela. Hal ini pula yang mengawali berdirinya sekolah tersebut pada
tahun 1949. Berbekal sisa uang iklan buku peringatan kelahiran Kong Hu Chu
senilai Rp 800 dan sumbangan seorang dermawan Rp 1.000, para perintis
Khong Kauw Hwee membuat bangku dan meja untuk kegiatan belajar mengajar.

Pada awal 1950 dibukalah kursus pemberantasan buta huruf yang diadakan di
lingkungan Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Masalah sempat dihadapi
akhir tahun 1960-an ketika salah seorang pendiri meninggal dunia. Kondisi
finansial sempat memburuk dan donatur pun tidak banyak. Hampir saja
sekolah ini ditutup.

Akan tetapi, pada awal 1970-an, alumni sekolah ini mencoba membentuk
panitia penyelamatan dan mereka bahu-membahu membangkitkan kembali yayasan
ini. Perbaikan terus dilakukan.

Pada saat Om Tan menjadi ketua yayasan, mengandalkan sumbangan dari
donatur, terkumpul sejumlah uang untuk mendirikan bangunan sendiri untuk
sekolah ini. Dua tahun waktu yang dibutuhkan hingga bangunan ini berdiri
tahun 1992. Bangunan sekolah TK dan SD Kuncup Melati yang baru ini
menempati lahan di sebelah barat Kelenteng Thay Kak Sie, berlantai tiga,
dan terdiri atas sembilan ruangan: dua ruangan untuk TK, enam ruangan
untuk SD, dan ruangan untuk tata usaha (TU).

Beragam pengalaman didapatkan Om Tan selama 13 tahun memimpin Khong Kauw
Hwee. Kesulitan sempat dialaminya saat sekolah yang mengandalkan donasi
ini murid-muridnya diminta membayar sejumlah uang oleh dinas pendidikan
pada periode 1990-an.

"Dinas pendidikan tidak percaya kalau sekolah ini benar-benar tidak
memungut bayaran dari murid. Saya juga diminta menghadap kepala dinas
ketika itu," cerita Om Tan.

Kesulitan ini pun akhirnya berganti menjadi uluran tangan bagi Om Tan dan
yayasan. Sang kepala dinas yang semula tidak percaya, setelah mendapat
penjelasan, justru berbalik terharu dan memberikan bantuan buku-buku
pelajaran. Kenangan ini sangat membekas dalam hati Om Tan.

Dia juga tidak pernah membeda-bedakan siswa yang akan masuk di sekolah
ini. Siapa pun dan dari latar belakang apa pun, selama memiliki niat
bersekolah dan tak mampu, pasti diterima. Hal ini pula yang membuat siswa
sekolah ini tak hanya berasal dari etnis Tionghoa.

Om Tan merasakan sendiri bagaimana susahnya orang yang tak bisa mengenyam
pendidikan. Ia sendiri lulusan sekolah dasar.

Kedekatan

Bagaimana dengan kualitas pendidikan? Para siswa tetap diberi materi
pendidikan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Bahkan,
mereka juga diberi tambahan pelajaran bahasa Inggris dan Mandarin.
Prestasi siswanya juga tak buruk sehingga sekolah ini menduduki peringkat
menengah dari semua sekolah di Kota Semarang.

Meski tak pernah mendapat gaji, Om Tan tetap bahagia mengabdi di Khong
Kauw Hwee. Bayaran paling berharga baginya adalah tegur sapa dari para
orangtua murid dan kedekatan dengan mereka.

"Saya tidak gila hormat. Kalau saya yang sudah berusia 74 tahun ini bisa
membantu anak- anak tak mampu, itu membuat saya merasa berguna," ujarnya.

Belasan tahun bekerja tanpa bayaran hanya senyum tulus orangtua murid dan
pengabdian yang membuat Om Tan bertahan. Hal ini pula yang membuat pria
bersahaja ini selalu tersenyum setiap menjumpai seseorang.

Menurut Kepala SD Kuncup Melati Agustin Indrawati (47), sekalipun para
pengajar mendapatkan imbalan, tetapi jumlahnya sangat terbatas. "Mengajar
di sini lebih mengutamakan kepuasan batin," ungkap Agustin Indrawati yang
sudah 27 tahun mengabdi.

Meski 10 murid terbaik sekolah ini bisa melanjutkan ke SMP Mataram di
Semarang dengan gratis, Om Tan mengaku, sebetulnya ia ingin sekolah Kuncup
Melati ini bisa berkembang.

"Biar anak-anak tak mampu juga bisa sekolah sampai SMP, bahkan SMA, tak
cuma lulus SD saja," ungkapnya.

Tidak ada komentar: