Search This Blog

Loading...

Saturday, October 27, 2007

Liburan 2007

Liburan tahun ini rada-rada unik… seperti biasanya kalau pulkam lebaran ke Jawa -ehm…pulang kota sebenarnya- banyak yang mesti dikunjungi. Tahun ini lebih "heboh" dan bener-bener "perjalanan wisata"…asyik tapi capek dan "menyita" simpanan :))

Rencana awal, ambil cuti 2007 (setengah dipaksa perusahaan,...emang gak niat) berangkat hari ke-2 lebaran via Pekanbaru. Mendadak dikontak Palembang dan dibilang mau dijemput, akhirnya 11 Oktober pagi sudah jalan via Jalur Lintas Timur (Jalintim) Sumatera nyaris 11 jam Rengat-Jambi-Palembang…cukup melelahkan… F1, F2 dan F3 mabok mulai masuk perbatasan Jambi soalnya jalan kelak kelok…

Kesan terekam selama perjalanan darat, hutan Sumatera sudah habis…yang ada tinggal semak belukar dan kebun sawit di sepanjang perjalanan. Terus jalan dari Rengat (Riau) ke perbatasan Jambi sempit dan berlubang.."lebih banyak lubang dibanding jalannya" :)). Masuk ke Jambi jalan oke walaupun berkelok…kelihatan ada "kehidupan" jalan dirawat dan dijaga. Masuk ke Sumsel -kesan di perbatasan- sedikit lebih baik dari Jambi. Secara keseluruhan sudah "OK" jalan tahun ini dibanding sebelumnya..biasa Rengat-Jambi 6 jam kemarin 5 jam itupun banyak stop karena anak2 mabok perjalanan.. Jambi-Palembang biasanya 8-10 Jam bisa ditempuh 5 jam…Kalau skor 1-10, jalan Riau 5 (merah), Jambi 7 Sumsel 7.5 :)) Padahal kekayaan Riau tidak kalah dengan yang lain..belum dibanding dengan Sumbar dan Sumut. Pada kemana uang Riau? Au ah lap…

Di Palembang, dari 11 sd 14 Oktober…kegiatan didominasi kunjungan ke Mall. Emang itu "tempat wisata" yang ada di 3 propinsi Sumbagsel…miskin daerah wisata…walaupun tengah malam sempet nganter anak2 jalan bareng datuknya ke tepian sungai Musi di depan Benteng Kuto Besak dekat Ampera…."wajah" kota Palembang sudah jauh berubah setelah ada PON "gak terlalu menyeramkan"…beberapa tahun lalu di atas jam 22.00 WIB dilarang gentayangan di luar rumah kalau tidak mau ketemu masalah…kemarin nyaris jam 24.00 WIB masih nongkrong bawa 3 anak balita di dekat Ampera yang katanya dulu daerah copet :))

12 Oktober (telat sehari)..neneknya anak-2 beli kue ulang tahun buat F2 (nadia) yang kemarin genap berusia 4 tahun. Gak terasa!

Lebaran "ikut" yang hari sabtu, berdua dengan adik ipar yang bungsu cari tempat Shalat Id dapat di depan masjid Agung yang megah itu. Susah payah juga "penuh dan campur aduk" katanya ada Syahrial Usman (Sumsel 1) di dalam masjid… Cuma sangat kecewa dan rada-rada unik, baru aja khotib naik mimbar…jamaah satu-satu berdiri salam-salaman, ketawa-ketiwi dan bergerak "pulang", yang duduk disekitar kami paling2 15 orang malah shaf saya tinggal 4 orang. Yang lain lalu lalang, dengan koran bekas berserakan. Menjelang khotbah ke-2 motor dan angkot mulai lalu lalang, dan saat doa juga lebih parah walaupun "lucunya" banyak yang sambil jalan sambil menengadahkan tangan. Shalat Id yang aneh… :((

Pulang Ied, setelah sungkeman di rumah -kurang lengkap karena keluarga lain gak ada- ikut datuknya anak2 silaturahim ke Griya Agung, Parlemen 1, Sumsel-2 & Sekda -rame juga kalo rumah2 pejabat- dan dengan cuexnya pake batik PKS -termasuk jilbab istri juga pake logo PKS- lagian di Pilkada 2008 PKS Sumsel dukung sang incumbent.. :)) padahal datuk & neneknya anak2 biasanya protes kalo kami keseringan pake atribut -bahkan di rumah sekalipun- "bajunya ko PKS terus".. Kaos, batik sampai Koko…dan jaket. Kemarin diam aja, sekarang commentnya tentang orang PKS "lebih positif" dibanding tahun2 dulu…maklum mereka termasuk orang lama di "beringin". Sorenya keliling ke rumah2 keluarga besar istri yang ada di Palembang (generasi nenek dan datuk) -hujan lebat padahal- dan ditutup dengan kunjungan ke Mall -lagi2- ternyata hari lebaran bisnis mereka tetap jalan. Sore potong kue ultah nadia.

14 Oktober -lebaran hari ke-2- terbang ke Bandung via Jakarta dengan LION Air.

Hari-hari selanjutnya, perjalanan wisata dilanjutkan:
Di Bandung: BSM, Factory outlet, Bakso Malang Cipaganti, Kebun Binatang, Jalan Ganesha, Brownies Amanda, Taman Lalu Lintas, Argo Gede.

Di Jakarta: Keliling naik busway, Ancol, Sea world

Bogor : Baranang Siang, Kampus Darmaga, Villa Merah

Bekasi : Narogong

Pekanbaru-Rengat

Liburan yang "lengkap" dan "bersih", lengkap tempatnya bersih tabungannya :))
Sayangnya gak bisa mampir ke Sumedang dan Cilamaya.

Friday, October 26, 2007

312 jam tanpa internet

Internet adalah candu? Dulu sempat terasa dan terfikir seperti itu. Satu hari tanpa Blogging, browsing, posting atau chatting bikin kepala pusing :)) - untuk yang terakhir terus terang belum "terjerumus" ke sana. Ternyata semuanya tidak terbukti, 13 hari (11 - 23 Okt) pergi jalan2 dan tidak "menyentuh" laptop….dunia tidak kiamat :). Paling tidak, sedikit membuktikan kalau internet bukan candu dan tidak bikin sakau. Gak apa-apa tuh! Walaupun akibatnya ada juga, jadi ketinggalan informasi dunia luar..he.he.. Gara-gara gak online kami -saya plus temen di rumah- gak tau kalau tanggal 23 Oktober ada reuni alumbi IPB di Graha Wisuda Darmaga :( padahal hari itu kami di Klender lagi santai gak ke mana-mana. Resiko.

Satu lagi akibat yang "terasa"… rangking blog ini di Blog Indonesia merosot drastis setelah sebelumnya nyaris tembus ke kepala 2 (307), kemarin saya liat cuma di urutan 455. Masalahnya gak kirim postingan mulai tanggal 10 Oktober.. Jumlah kunjungan belum tembus 4 digit..

13 hari atau 312 jam tanpa internet?....gak apa-apa ternyata!

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H

Telat? dari pada tidak, 2 minggu ini gak posting karena keliling liburan...
Buat semuanya saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Mohon maaf lahir dan batin.

II dan Keluarga (Rini, Fauzan, Nadia, Khansa)

Wednesday, October 10, 2007

Artikel Serial Ramadhan (30)

LANGKAH KE DEPAN ALUMNI RAMADHAN
Puasa pada bulan Ramadhan, bila ditunaikan dengan memenuhi syarat dan rukunserta mengikuti tuntunan Rasulullah saw., pasti akan menghasilkanorang-orang yang bertaqwa (Al Baqarah 183). Jikalau puasa kita benar, makakita menjadi orang bertakwa yang tak mungkin bisa tergoda oleh syetan.
Inilah barangkali makna hadits yang menyatakan bahwa pada bulan Ramadhansemua pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka lebar dan semua setandibelenggu. sehingga setan tidak mungkin bisa memperdaya dan menggoda orangyang sedang berpuasa secara benar.
Kendati puasa telah selesai, namun ketakwaan hasil puasa baru mulai kitabuktikan sehabis puasa. Idul fitri 1 Syawal disebut hari kemenangan, karenaumat Islam telah usai puasa dan pasti meraih ketakwaan yang hasilnya adalahsyurga.
Kata "taqwa" telah disebutkan dengan kata dasar atau pecahan katanya didalamKitabullah. Terkadang anda membaca kata "ittaquu", juga "al-Muttaqin","taqiyya", juga "yattaqun", "ittaqi", "wattaquni", "yattaqi" dan "al-atqa".
Kata tersebut telah digunakan dalam Al-Qur'an lebih dari 187 kali.Stresingnya lebih pada surat-surat yang berbicara mengenai iman, kitab, BaniIsrail, wasiat, warisan, riba, menyusui serta pembalasan. Di antara contohpaling gampang dalam hal itu adalah surat Al- Baqarah. Dalam surat ini,terdapat penyebutan 35 kali derivasi kata taqwa. Begitu kentalnya maknataqwa, karena ia merupakan inti persoalan dan puncak tujuan disyariatkannyasemua ajaran Islam.
Bila kita teliti seluruh ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur'an, konotasitakwa mencakup banyak indikasi, antara lain:
1. Taqwa itu mencakup iman dan Islam.
Allah swt. Berfirman,
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu beriman kepada Allah, hari kemudian,malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintaikepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang yang meminta-minta, dan(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat danorang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji dan orang-orang yangsabar akan kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulahorang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yangbertaqwa" (Al-Baqarah: 177).
2. Taqwa dan hubungannya dengan tipu daya musuh
Allah swt. Berfirman,
"Jika memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamumendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar danbertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkankemudhorotan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang merekakerjakan" (Ali Imran: 120).
3. Taqwa dan hubungannya dengan menyambung silaturrahim.
Allah swt. Berfirman,
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb-mu yang telah menciptakandiri yang satu dan dari padanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanyaAllah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Danbertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu salingmeminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrohim. SesungguhnyaAllah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (An Nisa: 2).
4. Taqwa berhubungan dengan kebenaran (al-hak) dan keadilan.
Allah swt. Berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yangselalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,menjadi saksi dengan adil. Danjanganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untukberlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepadataqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apayang kamu kerjakan." (Al-Maidah: 8 ).
5. Taqwa dan hubungannya dengan larangan memberikan loyalitas terhadap orangkafir dan ahli alkitab yang senantiasa mengolok-olok Islam.
Allah swt. Berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil jadipimpinanmu,orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan danpermainan,(yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu danorang-orang yang kafir (orang-orang musrik).Dan bertaqwalah kepada Allahjika kamu betul-betul orang yang beriman." (Al Maidah: 5)
6. Taqwa bermakna konsisten terhadap Islam dengan meninggalkan semua yangtidak Islami
Allah swt. Berfirman,
"Dan bahwa ( yang kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus makaikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).Karenajalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.Yang demikian itudiperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa (Al-An'am : 153)
7. Taqwa bermakna tidak mendiamkan kezaliman,
Allah swt. Berfirman,
"Dan peliharalah dirimu (taqwa) dari siksaan yang tidak khusus menimpaorang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amatkeras siksaan-Nya" (Al-Anfal: 25).
8. Taqwa dan iman tidak akan bertemu dengan hati orang yang meninggalkanjihad dengan harta dan jiwa.
Allah swt. Berfirman,
"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan memintaizin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. DanAllah mengetahui orang-orang yang bertaqwa." (At Taubah : 44).
Ciri-ciri Muttaqin Ahli Surga
Allah swt. Berfirman,
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yangluasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yangbertakwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktulapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Dan(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiayadiri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosamereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Danmereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."(Ali Imran 133-135)Dari ayat-ayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa cirri-ciri orangbertaqwa yang dijanjikan akan masuk syurga yang luasnya seluas langit danbumi adalah sebagai berikut:
1. Senantiasa menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang ataupunsempit. (Ali Imran: 134).2. Senantiasa menahan amarahnya. (Ali Imran: 134)3. Senantiasa memaafkan kesalahan orang lain. (Ali Imran: 134)4. Senantiasa berbuat ihsan dalam ibadah dan kehidupannya, karena Allahmencintai orang-orang yang melakukan ihsan. (Ali Imron :134)5. Bila terjerumus dosa, ia akan mengingat Allah lalu meminta ampun dantidak akan pernah mengulanginya lagi. (Ali Imron 135)Kita telah usai berpuasa, berarti kita harus membuktikan hasil puasa kitatersebut, yaitu dengan ketakwaan yang harus kita implementasikan dalamkehidupan sehari-hari. Bila kita benar-benar taqwa, maka Allah akanmelimpahkan kepada kita hal-hal berikut:
1. Rahmat (QS. 98: 8)2. Furqan (QS. 8: 29)3. Berkah (QS. 7: 96)4. Jalan keluar (QS. 65: 2)5. Rejeki (QS. 65: 3)6. Kemudahan (QS. 65: 5)7. Dihapuskan kesalahannya (QS. 65: 5)8. Ampunan (QS. 65:5), dan9. Pahala yang besar (QS. 65:5)
Dengan ketakwaan yang dihasilkan oleh puasa, diharapkan kita akan keluardari berbagai macam krisis yang tengah membelenggu kehidupan kita. PascaRamadhan, adalah masa memupuk ketakwaan yang kita peroleh di bulan Ramadhan,agar tidak layu menuju Ramadhan selanjutnya.
Wallahu a'lamu bis shawab.

BIODATA PENULIS
DR. ACHMAD SATORI ISMAIL
Lahir di Cirebon, 6 Desember 1955 / 22 Robi'uts Tsani 1375 H.. Kini, DosenPascasarjana UIN Syarifhidayatullah Jakarta, dosen Fak Adab UINSyarifhidayatullah Jakarta, Dosen Pascasarjana UMS Surakarta. Menamatkanpendidikan KMI (SLTA) di Gontor tahun 1975, SMU Al Azhar di Mesir tahun1985, S1 IAIN SGD Bandung tahun 1982, S2 Univ. Al Azhar Mesir tahun 1987,dan S-3 di Universitas El-Minya, Mesir tahun 1990. Saat ini ia menjabatsebagai Ketua Umum Ikatan Da'i Indonesia (IKADI), Ketua Yayasan Al HaromainJakarta, Ketua Yayasan Al Mimbar Bekasi, Pembina Pesantren Al KhairiyyahCiwandan Cilegon, Pembina Pesantren Daarul furqon Cirebon. Selain aktifmenulis di berbagai media cetak, pria penuh humor ini sering juga tampilsebagai dai di televisi. Karya ilmiah yang telah dipublikasikan antara lain:Ijtihad dalam Syariah Islam, Generasi Idaman, Islam Sebagai Pandangan Hidup,Manusia membutuhkan Islam, Tangan-tangan Imperialisme Modern, Ijtihad DalamSyariat Islam, Perkawinan Campuran, Pemikiran al Gozali antara Pro danKontra, Haramnya Golput, Tazkiyatun Nafs, dll.
DR. M. IDRIS ABDUL SHOMAD, MA.
Lahir di Jakarta, 25 Juli 1961. Menamatkan pendidikan menengah di pondokpesantren modern Darussalam Gontor Gontor, dan Studi S-1, S-2 dan S-3 diUniversitas Islam Mohammad Ibnu Sa'ud, Riyadh, Saudi Arabia. Kini dosenPasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Studi Naskah SejarahPeradaban Islam, Dosen Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,Dosen FEUI Extension - Etika Bisnis dalam Islam, dan dosen Pembimbing STAIAt-Taqwa. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus PusatIkatan Da'I Indonesia (IKADI), ketua Departeman Pelayanan Pesantren LP2SIAl-haramain Jakarta. Menikah dengan Hj. Elly Farida dan telah dikaruniai 5orang anak (Aufa Taqiya, Hsna Zahidah, Dhiya al Faudzu, Khansa Aidah, FidaFaizah). Karya ilmiah yang telah dihasilkannya antara lain: Humanisme antaraIslam dan Barat (Disertasi), Islam; Agama dan Negara, Membangun Rumah TanggaIslami (buku), Serial Rumah Tangga Bahagia (buku) Pertarungan Pemikiran &Pengaruhnya terhadap Dakwah Islam di Indonesai (Tesis), Revitalisasisemangat berkurban dalam Membangun Ummat (Khuthbah Arafah), PenerapanSyari'ah Islam (Jurnal), Khuthbah Menggugah (buku), Tulisan Tadabbur diMajalah Sabili, Makalah-makalah Seminar dan Training, Rekontruksi Makna danHakikat Haji dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (khuthbah Arofah).
SAMSON RAHMAN
Lahir di Sumenep Madura, 9 September 1967. Menyelesaikan pendidikanmenengahnya di Pesantren Al-Amien Prenduan Madura tahun 1987. S1 dan S2 diInternational Islamic University, Islamabad. Dia aktif menerjemahkanbuku-buku berbahasa Arab dan Inggris. Diantara buku yang telah terbit ialahTaliban dan Multi Konflik di Afghanistan (1999), Diplomasi Islam (2000),Islam Anti Kekerasan (2000), Manhaj Dakwah Yusuf Al-Qaradhawi: Harmoniantara Kelembutan dan Ketegasan (2001), Etika Bisnis Dalam Islam (2001),Ensiklopedi Sunni-Syiah (2001), La Tahzan (2002), Tafsir Al-Qur'an untukWanita (2004), dan lain-lain. Selain itu dia juga aktif menulis di berbagaimedia baik resensi, ataupun opini/kolom diantaranya di majalah GATRA, SuaraHidayatullah, Jawa Pos, Republika, Detik.Com, Harian Banten, dan Sabili.
TAJUDDIN, MA.
Lahir di Sumbawa, 5 Juni 1972. Selain sedang menempuh program Doktor diProgram Ekonomi Islam, pada Universitas Islam Negeri, Syarif HidayatullahJakarta, dia juga ketua redaksi Buletin Tafakkur dan mengisi kajian tafsirdan kajian keislaman lainnya bersama IKADI. Telah menerjemahkan beberapabuku, diantaranya; Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an, Tips; Menjadi Wanita PalingBahagia, dan lain-lain. Menyelesaikan pendidikan dasar di pondok modernGontor, S-1 fakultas Syari'ah Universitas Islam Madinah pada tahun1993-1997, program Master bidang Ilmu Hukum di Universitas MuhammadiyahJakarta, 2001-2003.
H. HARJANI HEFNI, MA.
Lahir di Paloh, Kalimantan Barat, 5 September 1970. Kini sebagai dosenKuliyah Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Staf Lembaga Pelayanan Pesantren danStudi Islam Al Haramain Jakarta, Staf PP IKADI, dan Dosen STAIN Pontianak.Menamatkan pendidikan Dasar dan Menengah di Singkawang Kalimantan Barattahun 1990, LIPIA Jakarta Jurusan Persiapan Bahasa tahun 1991, S1Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Jurusan Dakwah dan Ushuluddin tahun1995, dan S2 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta JurusanDakwah dan Komunikasi. Karya ilmiah yang telah dihasilkannya antara lain:Renungan Al-Ma'tsurat (Global Media), Pengantar Sejarah Dakwah, Dialog antarumat beragama, kapan bertemu dan kapan berpisah? (Romeo Grafika), MetodeDakwah (Prenada Media), Pengantar Ilmu Dakwah, Prinsip-prinsip Islam untukKehidupan (Penerbit LP2SI Al-Haramain Jakarta), Sakit, Bagaimanamenyikapinya? (Penerbit Romeo Grafika Pontianak), dan Tim penerjemah TafsirFi Dzilal Al-Qur'an (Penerbit Gema Insani Press).
AHMAD KUSYAIRI SUHAIL, MA.
Arek Suroboyo ini lahir di Gersik, 7 April 1968. pendidikan S1 dan S2diselesaikan di KING SAUD UNIVERSITY Riyadh Saudi Arabia. Kini ia menjabatsebagai Direktur Sekolah Tinggi Tafsir Hadits (STTH) Bekasi, Koordinatorpendidikan YAPIDH Bekasi, Pengurus PP IKADI. Selain itu, ia juga aktifmenulis artikel di berbagai media cetak, seperti: Sabili, Saksi, Republika,UMMI, dan lain-lain. Karya ilmiah yang telah dipublikasikan adalah: PanduanCerdas Cermat Islam, Militer dalam Pandangan Islam, Berjabat TanganPerempuan (Terjemahan/Penerbit GIP), Pemuda dan canda (Terjemahan/PenerbitGIP), dan 30 Tanda-tanda Orang Munafiq (Terjemahan/Penerbit GIP).
Sumber:30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis:Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MASamson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MAA. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (29)

KEMBALI FITRI DENGAN TAMPILAN LEBIH ISLAMI
1. Deskripsi Memaknai Idul Fitri
Sudah merupakan sunatullah, bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan.Ramadhan yang kedatangannya selalu dirindukan oleh para salafus shaleh(ulama terdahulu) enam bulan sebelumnya dan dimohonkan dalam do'a mereka,kini saatnya akan berpisah dengan kita.
Imam Mu'alla bin al Fadhl rahimahullah berkata, "Dahulu para ulamasenantiasa berdo'a kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan denganRamadhan! Kemudian mereka juga berdo'a selama enam bulan agar diterima amalibadah mereka (selama Ramadhan)."
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita akan kembali berjumpadengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Karenanya,beruntung dan berbahagialah kita saat berpisah dengan Ramadhan, membawasegudang pahala untuk bekal di akherat.
Semoga kita termasuk para shaimin (orang yang berpuasa), yang akanmendapatkan kebahagiaan luar biasa, yaitu saat bertemu Allah swt.,sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya, "Orang yangberpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berakhirnyaibadah puasa (berbuka) dan kebahagiaan saat bertemu Rabb-nya kelak."(Muttafaq 'Alaih)
Setelah sebulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa dengan semangat imandan mengharap balasan Allah (ihtisaaban) semata. Maka, memasuki hari rayaIdul Fitri ini, berarti kita kembali kepada fitrah (kesucian). Jiwa kitatelah fitri (suci) tanpa dosa, sebagaimana sabda Nabi saw.,
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan landasan iman danmengharap ba/asan dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa sebelumnya, "(Muttafaq 'Alaih).
Karena itu, sepatutnyalah jiwa yang sudah fitri ini diupayakan secaramaksimal untuk dipertahankan dan dijaga dengan penunaian berbagai bentukamal shalih pasca Ramadhan. Sebab, keberhasilan meraih derajat taqwa melaluiibadah puasa (A1-Baqarah/2: 183), bukan ditandai berakhirnya bulan Ramadban.Melainkan, sejauh mana iltizam (konsistensi) orang-orang yang berpuasa dalammelakukan ibadah pasca bulan Ramadhan. Sejauh mana kesinambungan harmonisasihubungan dengan Sang Khaliq (Allah swt.) terpelihara secara baik pascaRamadhan.
Jangan sampai prestasi cemerlang yang diraih dengan kerja keras selamasebulan penuh, terhapus oleh keburukan yang menyusul. Jangan sampai kesucianjiwa yang dibangun susah payah selama bulan Ramadhan, tercemari olehperbuatan maksiat, begitu sayonara (berpisah) dengan Ramadhan.
Jika ini yang terjadi, maka sama halnya dengan orang yang mendirikanbangunan indah nan megah dengan biaya mahal, lalu Ia sendiri yangmerobohkannya. Allah swt.. berfirman, "Dan janganlah kamu seperti seorangperempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadicerai berai kembali, "(An-Nahl: 92).
Dikatakan kepada Imam Bisyr rahimahullah, "Sesungguhnya sekelompok kaumsangat rajin dan bersungguh-sungguh beribadah di dalam bulan Ramadhan,bagaimana pendapat anda?" Beliau lalu menjawab, "Seburuk-buruk kaum adalahmereka yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan saja.Sesungguhnya orang shalih akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjangtahun (tidak hanya Ramadhan saja)."
lmam Asy-Syalabi rahimahullah pernah ditanya, "Mana yang lebih utama bulanRajab atau Sya'ban?" Beliau menjawab, "Kun Rabbaaniyyan walaa TakunSya'baaniyyan! (Jadilah engkau muslim yang rabbani, selalu ingat Allah kapansaja, jangan jadi Sya'bani, yang hanya beribadah di bulan Sya'ban saja).Dulu, Nabi saw. amalnya selalu berkesinambungan."
Ummul Mukminin, Aisyah ra. pernah ditanya, "Apakah Rasulullah saw. dulumengkhususkan suatu bulan tertentu untuk beribadah? Beliau menjawab, 'TidakAda! Beliau saw. selalu berkesinambungan."
Tidak berarti secara kuantitas kita harus sama persis seperti ketika bulanRamadhan dalam beribadah kepada Allah swt. Tapi, yang dituntut dari kitaadalah mempertahankan keistiqomahan dalam menapaki manhaj Allah yang lurus,memelihara kualitas semangat beribadah dan kesinambungan menta'ati Allahswt.
Sebab, menyembah dan menta'ati Allah tidak terbatas pada bulan Ramadhansaja. Imam Hasan Al Bashri rahimahullah pernah berkata, "Sesungguhnya Allahtidak membatasi amal seorang mukmin dengan suau waktu tertentu selainkematian", kemudian beliau membaca firman Allah, "Dan sembahlah Rabbmusampai kematian mendatangi mu," (Al-Hijr (15): 99). (Lathaa 'ifu 'l Ma'arif, hal. 261).
Boleh jadi amal shalih kita pasca Ramadhan secara kuantitas menurun. Tapi,yang penting kontinyu dan inilah yang terbaik, sebagaimana sabda Nabi saw.,"Amal (perbuatan) yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukansecara kontinyu meskipun sedikit," (Muttafaq 'Alaih).
Bulan Ramadhan memang telah berlalu, tapi musim-musim kebaikan lain segeramenyusul. Shalat lima waktu yang merupakan perbuatan agung dan hal pertamayang akan dihisab di hari kiamat nanti, tidak berhenti dengan berakhirnyaRamadhan.
Jika puasa Ramadhan berakhir, maka puasa-puasa sunnah yang berpahala tidakkecil, tidaklah berakhir bahkan menanti sentuhan kita. Seperti, puasa enamhari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan(Ayyaamul Bidh, han-han putib; tgl 13, 14 dan 15 tiap bulan), puasa Asyura'(tgl 10 Muharram), puasa Arofah dan lain-lain.
Jika Qiyam Ramadhan dan Tarawih telah lewat. Maka, Qiyamullail (Tahajjud)tetap disyari'atkan tiap malam. Bermunajat di tengah malam adalah kebiasaanorang-orang shalih. Abu Sulaiman Ad Daaraani rahimahullah berkata,"Seandainya tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin hidup di dunia."
Jika zakat Fitrah berlalu, maka zakat wajib dan pintu sedekah masih terbukalebar pada waktu-waktu yang lain.
Karenanya, memasuki Idul Fitri yang berarti jiwa kita menjadi fitri (suci),maka 'tampilan' kita harus lebih Islami. Termasuk dalam 'tampilan' di siniadalah tujuan, orientasi, motivasi, fikrah (pemikiran), akhlak, moral,perilaku, interaksi, policy, aktivitas, kiprah, dan peran. Baik 'tampilan'keindividualan kita, kerumahtanggaan kita, maupun 'tampilan' kesosialankita. Baik 'tampilan' kerakyatan kita maupun 'tampilan' kepejabatan kita.Baik 'tampilan' dalam kesendirian kita maupun 'tampilan' dalam keramaiankita.
Ketika terjadi islamisasi 'tampilan' pasca Ramadhan, berarti ini merupakanindikator diterimanya puasa Ramadhan kita. Karena, jika Allah swt. menerimaamal seseorang, maka pasti Dia akan menolongnya untuk mengadakan perubahandiri ke arah yang lebih positif dan meningkatkan amal kebajikan.
Seorang penyair Arab pernah mengingatkan dalam sya'irya,
"Bukanlah hari raya Id itu bagi orang yang berbaju baru, melainkan hakekatId itu bagi orang yang bertambah ta'atnya (kepada Allah swt.)."Taqabbalallahu minna waminkum, wakullu 'aamin wa antum bikhairin. SemogaAllah swt.. menenima semua amal ibadah klta di bulan Ramadhan. Amin ...
Sumber:30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis:Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MASamson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MAA. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (28)

MENJADI HAMBA RABBANI, BUKAN HAMBA RAMADHANI

Setiap bulan Ramadhan datang, ada perubahan besar pada beberapa orang.Dengan semangat, mereka melakukan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengantingkat intensitas yang jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Namunsayang, setelah Ramadhan berlalu dan usai, maka berlalu pula dan usaipulalah intensitas ibadah yang selama Ramadhan mereka lakukan.
Pendekatan cara beribadah seperti ini tentu sangat keliru dan tidak benar.Sebab, hanya menjadikan Ramadhan sebagai tumpuan utama beribadah dan denganmenyepelekan bulan-bulan lain. Maka, sama artinya bahwa kita melakukanibadah yang hanya bersifat musiman. Kita menjadi hamba musiman dan bukanhamba yang selalu istiqamah dan lurus di jalan Allah.
Padahal, tujuan puasa yang sebenarnya adalah sebagaimana yang Allahfirmankan,
"Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan berpuasa kepadamusebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang datang sebelum kamu agarkamu bertakwa (Al-Baqarah: 183).
Yakni, membidani lahirnya ketakwaan kita kepada Allah secaraberkesinambungan dan kontinyu. Oleh karena itulah, Allah menggunakan katatattaquun dalam bentuk fi'il mudhari' yang berarti untuk saat ini dan yangakan datang.
Artinya adalah bahwa dengan puasa, seseorang akan mampu melakukaninternalisasi ketakwaan ini dalam darah dagingnya, sehingga dia memilikikepekaan rabbani yang terus menerus, tanpa mengenal waktu, kondisi, danruang. Ketakwaaan yang sebenarnya bukan hanya ada dan harus terasa di bulanRamadhan, namun juga hendaknya terus bergulir di luar bulan suci, sebagaibuah dari latihan-latihan yang melelahkan di bulan Ramadhan ini.
Sebab, ketakwaan tidak memiliki batas ruang dan zaman tertentu. Dia harusterus mengalir deras kapan dan dimana saja dia berada. Bagi manusia takwa,dirinya akan senantiasa berada dalam aura rabbani yang menggelegak-gelegakuntuk melakukan kebaikan dan kebajikan, untuk menjauhi larangan dan maksiatkepada Allah.
Dalam hari-harinya, akan terasa nuansa rabbaniyah yang menggerakkan dirinyauntuk senantiasa dekat dengan Allah, merapat ke sisi-Nya, mendekat kehadirat-Nya. Mata hatinya memiliki "radar" furqan yang sangat gampangmembedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang batil dan yang hak,antara cahaya Tuhan dan kegelapan syetan.
Nuraninya memiliki sensitivitas tinggi dalam memilah antara kebaikan dankejahatan. Hamba rabbani akan senantiasa berada dalam koridor-koridor lurusTuhannya dan akan senantiasa menjauhi jerat-jerat syetan.
Namun sekali lagi, aktivitas itu harus senenantiasa berlangsung tanpa hentidan jeda. Gelombang ketakwaan itu harus terus bergolak dan berhembus di luarbulan Ramadhan.
Suatu kali dikatakan kepada Imam Bisyr, bahwa ada sekelompok manusia yanghanya bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan dan dia dimintapendapatnya mengenai orang yang memiliki sikap beribadah seperti itu. Diamenjawab, "Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allahkecuali pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shaleh akan senantiasabersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun."
Jawaban ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba rabbani, yakni hamba yangselalu dekat dengan nilai-nilai ketuhanan, amal-amalnya akan senantiasabertaburan bak gemintang, kapan saja dan bulan apa saja. Keterikatan kitabukan pada bulan itu, namun keterikatan kita senantasa berupa ketaatankepada Allah.
Hamba rabbani akan menggetarkan dinding-dinding malam dengan dzikirnya,kapan saja dan dimana saja. Hamba rabbani akan menggetarkan atap-atap langitdengan tasbih dan tahmidnya kapan saja dan dimana saja.
Hamba rabbani akan menggelar "konser" tahlil di mesjid-mesjid, dimushala-mushala, di kereta-kereta, di mobil-mobil dan dimana saja diaberada. Bibirnya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah, kalbunyapenuh dengan cahaya Allah. Hamba rabbani terus berjalan di atas shiratalmustaqim.
Hamba rabbani memiliki mata anti maksiat, telinga anti desas-desus, mulutanti fitnah dan adu domba. Hatinya sebening mutiara dan pikirannya secerahbintang kartika.
Tak heran jika hamba-hamba rabbani ini akan menjadi suluh dan secercahcahaya yang akan memberikan penerangan terhadap manusia-manusia lain. Bukanhanya di bulan Ramadhan saja, namun di setiap detakan waktu, di setiaptarikan nafas, di setiap langkah kaki. Dia menjadi musuh utama hambasyaitani, manusia-manusia yang mengabdi pada kehendak syetan dan hawanafsunya.
Di bulan Ramadhan ini, kesempatan untuk melatih diri menjadi hamba rabbanibetul-betul terbuka lebar. Karena, bulan ini mengandung berbagaikeistimewaan. Bulan ini bulan paling mulia diantara sebelas bulan lainnya,bulan yang di dalamnya rahmat dicurahkan, ampunan ditawarkan dengan gencar,pembebasan dari api neraka dibuka lebar-lebar. Bulan yang di dalamnyatangan-tangan syetan dibelenggu, pintu Rayyan dibuka menganga.
Bulan yang sedekah di dalamnya jauh lebih baik dari pada sedekah di bulanlainnya, pahal-pahala amal dilipat tanpa diketahui jumlah lipatannya. Bulandimana umrah yang dilakukan pada bulan ini setara dengan ibadah haji dibulan lain, atau dalam hadits lain disebutkan laksana melakukan haji bersamaRasulullah.
Bulan yang di dalamnya doa-doa tidak tertolak saat dipanjatkan pada saatberbuka. Bulan yang di dalamnya Al-Qur'an untuk pertama kalinya diturunkandari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Bulan yang menjadi tameng pelakunya dariapi neraka, laksana tameng mereka pada saat perang.
Bulan ini akan menjadi uji coba pertama siapa diantara kita yang mampumerengkuh semua pahala di bulan suci untuk kita jadikan bekal menjadi hambarabbani di masa-masa mendatang. Bekal ketakwaan, bekal kesabaran, tahan uji,kepekaan sosial, kearifan ucapan dan lainnya. Kelulusan kita di bulan inisangat menentukan apakah kita mampu menjadi hamba rabbani atau kita gagalmencapainya.
Maka, tidak ada cara lain bagi kita selain mengokohkan "otot" ketakwaan kitakepada Allah di bulan suci ini, agar kita tidak menjadi 'abdun ramadhani,hamba yang hanya takwa, sabar dan tawakkal di bulan Ramadhan. Hamba yanghanya tahu hak dan kewajibannya di bulan Ramadhan, hamba yang hanyamenyucikan telinga, mata, mulut, dan lisannya di bulan Ramadhan semata.
Kita berharap, bahwa puasa tahun ini akan mencetak kita menjadi hambarabbani dan bukan hamba ramadhani. Fakun 'abdan Rabbaniyan wala Takun 'AbdanRamadhaniyan. Semoga. Amien.
Sumber:30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis:Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MASamson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MAA. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Tuesday, October 09, 2007

Naskah Khutbah Idul Fitri 1428H

Selama bulan Ramadhan saya lihat di http://www.sitemeter.com/ banyak temen yang googling dan "terlempar" ke blog ini karena mencari naskah khutbah Idul Fitri 1428 H bahkan ada yang spesifik untuk naskah dari PKS. Penasaran saya cari sudah dapat 2, yang satu versi malaysia dan satunya lagi -mungkin bisa digunakan- dari situs Ikatan da'i Indonesia http://www.ikadi.org/
saya sendiri sudah download, nanti di print untuk ustad-ustad di sini yang biasanya secara offline nyari juga. Jadi buat temen2 yang perlu silahkan langsung aja mampir ke situs ikadi dan dload. Sengaja gak saya tampilkan di sini.

Versi PKS? belum dapat padahal rasanya ada di panduan ansyithoh Ramadhan 1428, sayang lupa alamatnya.

Bulan Faiza Hanadia Izzata Rahma

Tidak terasa tanggal 11 Okt lusa usianya genap 4 tahun.
Karakter

Monday, October 08, 2007

Artikel Serial Ramadhan (27)

GAIRAH IBADAH PADA SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHAN
Dalam Kitab Shahihain disebutkan, dari Aisyah ra, ia berkata: "Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw. mengencangkan kainnya, menjauhkan diri dari menggauli istrinya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." Demikian menurut lafazh Al-Bukhari.
Adapun lafazh Muslim berbunyi: "Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya."
Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra.: "Rasulullah bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya."
Rasulullah saw. mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya:
1. Menghidupkan malam. Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah ra., ia berkata,
"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shalat malam hingga pagi."
Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali:
"Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan, dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum'at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Maha suci dan Maha tinggi. Abu Ja'far berkata: "Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa." (HR. Ibnu Abid-Dunya).
2. Rasulullah saw. membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak.
Dalam hadits Abu Dzar ra. disebutkan:
"Bahwasanya Rasulullah saw. melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja. "
Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya.
At-Thabrani meriwayatkan dari Ali ra.:
"Bahwasanya Rasulullah membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat."
Dalam hadits shahih diriwayatkan: "Bahwasanya Rasulullah saw. mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu 'anhuma pada suatu malam seraya berkata: Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau juga membangunkan Aisyah ra. pada malam hari, bila telah selesai dari tahajudnya dan ingin melakukan (shalat) witir.
Diriwayatkan juga mengenai adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-isteri membangunkan yang lain untuk melakukan shalat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun. (Hadits riwayat Abu Daud dan lainnya, dengan sanad shahih.)
Dalam kitab Al-Muwaththa' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar melakukan shalat malam seperti yang dikehendaki Allah, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat dan mengatakan kepada mereka: "Shalat! shalat!" Kemudian membaca ayat berikut:
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Thaha: 132).
3. Bahwasanya Nabi saw. mengencangkan kainnya. Maksudnya, beliau menjauhkan diri dari menggauli isteri-isterinya. Diriwayatkan juga bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu.
Dalam hadits Anas ra. disebutkan :
"Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi isteri-isterinya (tidak menggauli mereka).
Rasulullah saw. beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan."
Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati (menggauli) isterinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. "Mengencangkan kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
4. Mengakhirkan berbuka hingga waktu sahur.
Diriwayatkan dari Aisyah dan Anas ra, bahwasanya Rasulullah pada malam-malam sepuluh (akhir bulan Ramadhan) menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur. Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id ra, ia berkata:
"Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja). " Mereka bertanya: "Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai Rasulullah? "Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum." (HR. Al-Bukhari)
Ini menunjukkan apa yang dibukakan Allah atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Tuhannya, karena munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah, sehingga hatinya dipenuhi al-ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan al-minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.
5. Mandi antara Maghrib dan Isya'.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah ra.:
"Rasulullah jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya."
Ibnu Jarir berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.
Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi sebelumnya, lalu berpakaian bagus, sebagaimana hal tersebut dianjurkan juga pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya.
Namun, tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Allah), taubat, dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.
Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Allah, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Allah Ta'ala berfirman,
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. " (Al-A'raaf: 26).
6. I'tikaf. Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah ra. :
"Bahwasanya Nabi Saw senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkannya."
Nabi melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya, dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir, dan berdo'a kepada-Nya.
Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah: Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada AI-Khaliq. Mengasingkan diri sesuai dengan yang disyari'atkan kepada umat ini, yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Saw.
Orang yang beri'tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Allah, berdzikir, dan berdo'a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginanlain kecuali Allah dan ridha-Nya. Semoga Allah memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita. (Lihat Lathaa'iful Ma'aarif, oleh Ibnu Rajab, h. 196-203)
Semoga sepuluh malam terakhir Ramadhan kali ini kita maknai dengan semestinya. Amien.
Sumber: 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis: Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (26)

MENGGAPAI MALAM SERIBU BULAN
1. Keutamaan Malam Al Qadr
Dalam ramadhan, terdapat satu malam yang bergelimang berkah, yang populer dengan sebutan lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Malam ini menambah daftar panjang kemuliaan bulan Ramadhan. Allah berfirman,
“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan”. (Al-Qadr: 1-5)
Lailatul Qadar juga dapat menghapuskan dosa orang-orang yang melaksanakan ibadah pada malam tersebut. Rasulullah saw. bersabda,
ãä ÞÇã áíáÉ ÇáÞÏÑ ÅíãÇäÇ æÇÍÊÓÇÈÇ ÛÝÑ áå ãÇ ÊÞÏã ãä Ðäå
“Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).
25.2. Makna Lailatul Qadr
Al-Qadr dalam bahasa Arab memiliki tiga makna (lihat Fathul Bari), yaitu:
1. Ta’zhim ( ÊÚÙíã ), artinya pengagungan dan penghormatan.
Al Qadr untuk makna ini terdapat dalam firman Allah,
æãÇ ÞÏÑæÇ Çááå ÍÞ ÞÏÑå
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya”. (Al-An’am :91)
2. Tadhyiq ( ÊÖííÞ ), artinya penyempitan.
Al-Qadr untuk makna ini termuat dalam firman Allah,
æãä ÞÏÑ Úáíå ÑÒÞå ÝáíäÝÞ ããÇÂÊÇå Çááå
“Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya”. (Ath-Thalaq: 7).
3. Al-Qadr ( ÇáÞÏÑ ), artinya pasangan dari qadha, yaitu ketetapan yang diturunkan oleh Allah kepada tiap-tiap manusia.
Tiga makna Al-Qadr ini jika dipasangkan dengan kata “Lailah” yang berarti malam, maka artinya menjadi sebagai berikut :
1. Lailatul Qadr adalah malam yang penuh keagungan dan kehormatan.
Banyak hal yang membuat malam ini menjadi penuh keagungan dan kehormatan sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar, di antaranya:
Pertama, malam tersebut adalah malam diturunkannya Al-Qur’an. Begitu agungnya Al-Qur’an, menyebabkan semua faktor yang mengiringinya menjadi agung dan terhormat. Sebutan Al-Qur’an Al-‘Azhim, yang berarti Al-Qur’an yang penuh keagungan sangat akrab di telinga kita. Menurut makna ini, malam Al-Qadr menjadi mulia karena faktor turunnya A-Qur’an.
Kedua, malam ini disebut juga sebagai malam penuh keagungan karena turunnya malaikat dengan seizin Tuhan mereka. Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan selalu taat dengan perintah Allah serta tidak pernah berbuat dosa. Turunnya para malaikat, makhluk Allah yang mulia ini menjadikan malam tersebut turut menjadi mulia.
Ketiga, Malam ini juga menjadi agung karena dijadikan oleh Allah sebagai malam yang penuh barakah, rahmat, dan maghfirah. Keberkahan Allah di malam ini tercurah, sifat rahmat-Nya ditebar buat seluruh makhluk-Nya, dan pintu ampunan-Nya dibuka selebar-lebarnya. Keberkahan, rahmat, dan maghfirah adalah ciri-ciri keagungan dan kehormatan.
Keempat, Malam ini juga menjadi agung karena akan membuat orang yang menghidupkannya dengan ibadah menjadi agung dan terhormat.
2. Lailatul Qadr memiliki makna malam yang sempit. Sifat ini dialamatkan kepada malam Al-Qadr, karena dua faktor: Pertama, ilmu tentang penentuan qadar yang turun malam itu tetap menjadi rahasia Allah, dan manusia tetap sempit pengetahuannya tentang hal ini. Kedua, bumi pada malam itu menjadi sempit karena dijejali oleh turunnya malaikat yang begitu banyak.
3. Lailatul Qadr adalah malam penentuan Qadar. Pada malam itu kejadian-kejadian yang akan terjadi setahun ke depan ditetapkan. Hal ini sejalan dengan firman Allah,
“Haa Miim, Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisiKami…” (Ad-Dukhan : 1-5)
Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, seperti: hidup, mati, rezeki, untung baik, untung buruk, dan sebagainya. Al-Qadr di sini dimaksudkan sebagai rincian tahunan dari Qadha Allah yang telah ditetapkan secara umum sejak jaman azali..
3. Kapan Lailatul Qadr Terjadi ?
Para ulama berbeda pendapat tentang penentuan malam Al Qadr (lihat Fiqih Sunnah). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa malam Al-Qadr jatuh pada malam ke 21, ada yang mengatakan malam ke-23, ada yang mengatakan malam ke-25, ada yang mengatakan malam ke-27, ada yang mengatakan malam ke-29, dan ada pula yang mengatakan malam tersebut jatuh secara berpindah-pindah dari tahun yang satu ke tahun berikutnya.
Pendapat mayoritas mengatakan bahwa malam Al Qodr jatuh pada malam ke-27. Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut:
1. Hadits Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Umar ra.:
ÞÇá ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã : ãä ßÇä ãÊÍÑíåÇ ÝáíÊÍÑåÇ áíáÉ ÇáÓÇÈÚ æÇáÚÔÑíä
“Barangsiapa yang ingin berjaga-jaga dan bertemu dengan malam Al-Qadr, maka berjaga-jagalah pada malam ke dua puluh tujuh”.
2. Hadits Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata,
æÇááå ÇáÐí áÇ Åáå ÅáÇ åæ , ÅäåÇ áÝí ÑãÖÇä – íÍáÝ ãÇ íÓÊËäí – ææ Çááå Åäí áÃÚáã Ãí áíáÉ åí , åí ÇááíáÉ ÇáÊí ÃãÑäÇ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÈÞíÇãåÇ , åí áíÜÜáÉ ÇáÓÜÇÈÚ æÇáÚÔÑíä , æÃãÇÑÊåÇ Ãä ÊØáÚ ÇáÔãÓ Ýí ÕíÍÉ íæãåÇ , ÈíÖÇÁ , áÇ ÔÚÇÚ áåÇ
“Demi Allah Yang tiada ilah kecuali Dia! Sesungguhnya ia jatuh di bulan ramadhan. Dan Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui malam apa itu gerangan? Ia adalah malam yang kami diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk menghidupkannya. Ia adalah malam ke duapuluh tujuh. Dan tandanya adalah terbitnya matahari pada subuh harinya, putih, tanpa sinar“.
4. Hikmah Tidak Adanya Kepastian Waktu
Di antara hikmah tidak dipastikannya kapan turunnya lailatul Qadar adalah:
1. Agar kita terus giat dan sungguh-sungguh beribadah, tidak hanya beribadah pada hari-hari tertentu dan meninggalkan ibadah di hari-hari yang lain.
2. Untuk melatih kita istiqamah dalam amal.
25.5. Menggapai Lailatul Qadr
Lailatul Qodr tidak disambut dengan memasang obor, pelita, atau apa saja yang bernuansa api. Ia juga tidak disambut dengan membuat kue-kue khusus menyambut hadirnya malaikat, sebagaimana dilakukan oleh sebagian masyarakat kita. Baik api ataupun makanan yang menyambut lailatul Qadr adalah seremonial yang bersifat fisik dan tidak ada dasarnya dalam Islam, tidak sejalan dengan semangat Al-Qadr yang bersifat maknawi.
Lailatul Qodar juga tidak disambut dengan cara memperindah rumah, membeli sofa baru, memadati keramaian di mall-mall dan seterusnya. Perbuatan ini sangat jauh panggang dari api, karena sangat berseberangan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw.
Kalau kita melihat keseriusan Rasulullah saw., isteri-isteri beliau dan para sahabat menyongsong tibanya lailatul Qadr. Kita akan berkesimpulan bahwa Lailatul Qadr adalah puncak kenikmatan yang dihadirkan oleh Allah di bulan Ramadhan.
Puncak kenikmatan ini sangat kecil kemungkinannya akan dirasakan oleh orang-orang yang tidak meniti hari demi hari Ramadhannya dengan “iimanan” dan “ihtisaban”. Karenanya, mereka menyambut malam tersebut dengan penuh kesungguhan, dengan cara menghidupkan malam-malam mereka dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah lebih daripada hari-hari biasanya.
Di antara cara menggapai lailatul Qodr adalah:
1. Menghidupkan malamnya dengan “imanan” dan “ihtisaban”.
Rasulullah saw. bersabda,
ãä ÞÇã áíáÉ ÇáÞÏÑ ÅíãÇäÇ æÇÍÊÓÇÈÇ ÛÝÑ áå ãÇ ÊÞÏã ãä Ðäå
“ Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR.Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang lain disebutkan,
Ãäå ßÇä ÅÐÇ ÏÎá ÇáÚÔÑ ÇáÃæÇÎÑ ÃÍíì Çááíá æÃíÞÙ Ãåáå æÔÏ ÇáãÆÒÑ
“Rasulullah saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dan tidak bercampur dengan istrinya)."
Beliau menghidupkan malam-malam terakhir tersebut di masjid, memperbanyak tadarus Al-Qur’an dan menghidupkan malam dengan ibadah.
2. Ketika kita bertemu dengan malam ini, Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk membaca doa berikut:
Çááåã Åäß ÚÝæ ÊÍÈ ÇáÚÝæ ÝÇÚÝ Úäí
“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, senangkan memaafkan, karenanya ampunilah daku”.
Semoga kita dapat menggapai malam yang penuh mulia, penuh keagungan, dan penuh barakah ini. Amiin.
Sumber: 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis: Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (25)

I'TIKAF RAMADHAN

1. Ibadah Pengendali & Penyejuk Hati

Memang benar, setiap jiwa ditanamkan kecintaan kepada duniawi, kita Semua merasakan itu. Maka, wajar kalau kita cinta kepada istri-istri kita, anak-anak, harta kekayaan leimpah, emas, perak, rumah tinggal, kendaraan mewah. Namun, lebih banar dan lebih wajar lagi kalau kecintaan tersebut dibatasi rambu-rambu dan keteraturan. Karena jika tidak demikian, akan terjadi malapetaka bagi kita semua, bahkan bagi kehidupan itu sendiri.

Manusia adalah makhluk serakah, makhluk yang tak kenal lelah dalam Mencari harta dunia. Ia makhluk yang suka bersaing, memiliki dorongan syahwat yang kuat terhadap keinginan dirinya. Karenanya, jika manusia dibiarkan dalam kebebasan tanpa rambu dan batas-batas hidup, kehancuran dan kebinasaan yang akan dialaminya.

Allah swt. tahu itu semua, karena Dia yang mencipta, Dia pula yang memberikan kebutuhan hidup baik moril maupun materil. Dia yang mengatur stabilitas kehidupan, juga yang selalu mengawasi, membantu manusia dalam menjalankan misi hidupnya. Oleh karena itu semua, Allah swt. sangat tahu akibat jauhnya manusia dari aturan dan rambu-rambu kehidupan.

Diantara rambu dan aturan kehidupan untuk manusia adalah syariat Allah berupa akidah, ibadah, dan muamalah. Karenanya, ibadah-ibadah dalam Islam diperuntukkan menjaga diri manusia dari ketertipuan duniawi, ibadah yang berkonotasi taqorrub kepada Allah agar dapat memelihara hati manusia dari bencana yang dapat menimpa dirinya. Sebab, jika hati manusia baik dan terarah, maka amal perbuatannya pun akan baik dan terarah.

Firman Allah swt., "Sungguh beruntung orang yang membersihkan Jiwanya (tazkiyah an-nafs) dan merugi orang yang mengotorinya" (QS adz-Dzariyat: 9-10).

Rasulullah saw. menjelaskan isyarat itu dalam sabdanya,

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad menjadi baik, tetapi jika ia rusak maka seluruh jasad akan menjadi rusak, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari Muslim).

Diantara ibadah pengarah dan pengendali hidup dan kehidupan manusia adalah i'tikaf. Yaitu menetap di dalam mesjid dengan niat taqarrub kepada Allah, dengan melakukan amal-amal ubudiyah. I'tikaf merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Yang saya ketahui, bahwa tidak seorang pun dari ulama yang tidak men-sunnahkan (mengatakan hukumnya sunnah).”

Imam Malik juga mengatakan, "Saya cermati dan analisa (dalil-dalil) I'tikaf. Kenapa kaum muslimin banyak yang meninggalkan ibadah ini, padahal Rasulullah saw. tidak pernah meninggalkannya (di bulan Ramadhan)".

Imam Az-Zuhri rahimahullah menyayangkan kalau sebagian kaum muslimin meninggalkan ibadah sunnah ini, padahal Nabi Muhammad saw. sejak datang ke Madinah tidak pernah meninggalkan ibadah ini sampai akhir hayatnya.

Rasulullah saw. selalu menghidupkan ibadah i'tikaf, karena beliau memahami fadhilah (keutamaannya) dan merasakan kesejukkan hati. Memang, i'tikaf ini merupakan ibadah yang mampu mengarahkan kecenderungan cinta dunia yang dimiliki manusia. I'tikaf juga mampu mengingatkan gemerlapan harta kekayaan agar tidak menjerumuskan. I'tikaf terbukti mampu menuntun manusia untuk menjauhkan diri dari godaan teman-teman hidup yang selalu mengajak manusia ke jalan kehancuran dan malapetaka. Manusia akan aman dan tentram dari berbagai tipu muslihat 'syetan' kehidupan. Secara khusus, Rasulullah melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah ra., bahwa Nabi saw. selalu i'tikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, sunnah i'tikaf ini dilanjutkan oleh para istri beliau (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan pada tahun wafatnya, Nabi melakukan i'tikaf di bulan Ramadhan selama 20 hari (10 malam kedua dan terakhir dari Ramadhan), sebagaimana diriwyatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hal itu dilakukan karena beberapa faktor:

1. Malaikat Jibril mengajarkan Nabi Al-Qur'an pada tahun wafatnya sebanyak 2 kali, maka sesuai dengan bilangan 20 hari. Sebab pada setiap tahun biasanya malaikat Jibril hanya 1 kali mengajarkan beliau Al-Qur'an.

2. Nabi ingin meningkatkan amal sholihnya karena perasaannya akan Kedekatan ajalnya dengan turun ayat-ayat surat an-Nashr. Beliau memahami ayat-ayat tersebut sebagai perintah Allah untuk memperbanyak bertasbih dan istigfar karena dekatnya ajal beliau. Demikianlah Nabi memanjangkan ruku dan sujudnya seraya membaca do'a: "subhaanakallohumma, wabihamdika, Alloohummagfir lii", artinya: “Mahasuci Engkau ya Allah, puji-pujian bagiMu, ampunilah aku ya Allah” (diriwayatkan Bukhari Muslim).

3. Nabi melakukan i'tikaf 20 hari pada saat itu, sebagai pengungkapan rasa syukur kepada Allah swt., atas karunia dan taufik-Nya dalam menunaikan kebajikan dalam kehidupan, seperti kemampuan berjihad, kesempatan mengajar, melaksanakan shaum, qiyam, menurunkan al-Qur'an, dan sebagainya.

Allahu Akbar, itulah teladan kita, senantiasa menyadari bahwa usia Panjang yang dikaruniakan Allah handaknya dimanfaatkan untuk kebaikan-kebaikan. Sebab, apa artinya umur panjang jika penuh dengan noda maksiat kepada Allah swt.

Suatu keteladanan prima dari seorang Rasul dan seorang anak manusia Pilihan Allah. Ketinggian dan kemuliaan diri yang disandangnya tidak membuat Dirinya lupa. Bahkan, semakin tinggi dan mulia, semakin ia buktikan syukurnya dan sikap serta perilaku tunduk dan taatnya, yang dicontohkan dengan bertasbih dan istigfar. Yang mengindikasikan bahwa ketinggian dan kemuliaan dirinya bukan semata-mata karena dirinya, tapi semua itu karena ke-Maha-Kuasa-an dan Kehebaatan Allah swt.

Saat i'tikaf, seseorang hendaknya membersihkan pakaian dan tempat ibadahnya, seperti yang diisyaratkan Rasulullah ketika i'tikaf di mesjid, beliau mengeluarkan kepalanya ke hujrah (bilik rumah) Aisyah ra., seraya Aisyah yang sedang haidh itu membersihkan rambut Rasul dan merapikannya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Dalam i'tikaf, dianjurkan pula untuk melakukan kegiatan-kegiatan Taqarrub lainnya, seperti tilawah Al-Qur'an, mempelajari hadits Nabi saw., membaca buku-buku Islam, mendengarkan nasehat dan arahan agama, tasmi' (mendengarkan bacaan Al-Qur'an) dan kegiatan lain yang positif yang tidak membatalkan i'tikaf dan tidak mengurangi nilai kekhusyuan ibadah di mesjid.

Penulis melihat adanya hal-hal yang 'ganjil' dalam masalah i'tikaf,
sekaligus merupakan kekeliruan persepsi, antara lain:

1. Sebagian orang menyangka bahwa i'tikaf itu hanya berlaku di 3 mesjid saja yakni: mesjid Nabawi, mesjid Al-Aqsha dan mesjid Al-Haram di Mekkah. Padahal, Allah swt. Berfirman,: "dan janganlah kamu gauli (istri-istrimu) selama engkau I'tikaf di mesjid-mesjid" (QS. Al-Baqarah: 187).

Lafal "Al-Masajid" (di mesjid-mesjid) berarti dibolehkan di mesjid manapun. Namun, dianjurkan melakukan i'tikaf di mesjid jami' (bukan musholla). Sedangkan hadits: "La i'tikaafa illaa fil-masaajid ats-tsalaatsah" (tidak ada i'tikaf selain di mesjid yang tiga) seperti yang diriwayatkan imam Ath-Thahawi dalam bukunya "Misykatul Atsar 4/20" sekiranya hadits Ini shahih, ini dapat diartikan sebagai keutamaan i'tikaf di 3 mesjid ini, karena keutamaan 3 mesjid ini dari yang lainnya, tidak berarti i'tikaf hanya disyariatkan di tiga mesjid ini saja.

2. Mispersepsi yang lain adalah anggapan i'tikaf sebagai peluang Bertemu handai taulan, sehingga ada kecenderungan i'tikaf dijadikan ajang 'ngobrol' dengan teman-teman yang jarang bertemu. I'tikaf berjamaah dibolehkan, bersama keluarga, teman atau famili sekalipun, namun pertemuan saat i'tikaf tidak boleh dijadikan saat 'kangen-kangenan', sehingga membuat gaduh mesjid dan bahkan sangat mungkin mengganggu yang lain. Imam Ibnu Qoyyim ketika melihat gejala i'tikaf seperti ini mengatakan, "Ini adalah satu warna (i'tikaf) yang sangat berbeda dengan i'tikaf Rasulullah saw." (Zaadul Ma'ad 2/90).

3. Ada kekeliruan lain tentang i'tikaf. Sebagian orang meninggalkan Tugas dan kewajibannya di tempat kerja atau mengindahkan amanat dari Seseorang lantaran ingin melakukan i'tikaf. Sangat tidak adil dan tidak bijak seseorang meninggalkan yang wajib untuk melakukan yang sunnah.

Semoga Allah swt. memberikan taufik dan kemudahan kepada kita yang berminat
dan berupaya mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah saw., sebagai tambahan
amalan kebajikan kita dan pemberat timbangan amal shalih di Akhirat kelak.
Allah swt. Berfirman,

"dan berbuatlah, sesungguhnya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman akan melihat amal kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha Tahu yang nampak dan tidak nampak, lalu meminta pertanggungjawaban amal perbuatan kalian" (QS. At-Taubah: 105).

Allahu A'lam Bish-showab.


Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan
Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad,
Sp.THT

Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (24)

ARTIKEL SERIAL RAMADHAN
agian ke-24)

ZAKAT DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Salah satu pilar penting Islam adalah zakat, karena ia bukan semata ibadah yang berdimensi individual namun juga sosial. Ia merupakan instrumen penting pemerataan pendapatan, jika zakat dikelola dengan baik dan profesional.

Karena dengan zakat, harta akan beredar dan tidak berakumulasi di satu tangan orang-orang kaya (Al-Hasyr : 7). Kewajiban mengeluarkan zakat disebutkan sebanyak 36 kali dalam Al-Quran, dua puluh kali diantaranya digandengkan dengan kewajiban menunaikan salat.

Secara kebahasaan, zakat berasal dari kata zaka yang berarti tumbuh dan berkembang. Bisa juga zakat itu berarti suci, bertambah, berkah, dan terpuji. Secara terminologi, zakat berarti: Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak, di samping berarti mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri (Hukum Zakat: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Litera Antar Nusa dan Mizan, 1996).

Zakat merupakan sarana paling tepat dan paling utama untuk Meminimalisir kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, sebagai satu bentuk sikap dari saling membantu (takaful) dan solidaritas di dalam Islam (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Dr. Wahbah Zuhaili, Daarul Fikr, jilid II, hal.732).

Diantara hikmah zakat menurut Al-Qaradhawi adalah sebagai bentuk Pembersihan dan penyucian, baik material maupun spiritual, bagi pribadi orang kaya dan jiwanya, atau bagi harta dan kekayaannya (Hukum Zakat, hal 848). Zakat adalah refleksi keimanan seseorang kepada Allah swt. dan sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya (Ibrahim: 7). Ia juga menjadi sarana penolong dan pembantu bagi para mustahiq ke Arah kehidupan yang lebih baik dan sebagai pilar amal bersama antara pejuang yang tidak mampu dengan orang-orang kaya (Al-Baqarah : 278). Zakat merupakan sumber dana bagi pembangunan sarana dan prasarana yang harus dimiliki oleh umat Islam. Seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan maupun sosial dan ekonomi kaum muslimin.

Dalam zakat terdapat dimensi sosialisasi cara berbisnis yang benar. Sebab, zakat bukanlah memberikan harta yang kotor, akan tetapi mengeluarkan harta hak orang lain dari harta kita yang kita usahakan dan peroleh dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan dan hukum Allah (Al-Baqarah: 267).

Dalam zakat ada indikasi bahwa Islam mendorong umatnya untuk bekerja Keras mendapatkan harta. Sebab, hanya mereka yang memiliki harta yang bisa mengeluarkan zakat. Zakat yang dikelola dengan baik akan mampu membuka lapangan kerja dan usaha yang luas sekaligus penguasaan aset-aset umat Islam (Zakat dalam Perekonomian Modern, Dr. Didin Hafidhuddin, Gema Insana Press, 2002).

Dalam pandangan Al-Qardhawi, zakat merupakan ibadah maliyah ijtimaiyyah, yaitu ibadah di bidang harta benda yang memiliki fungsi strategis, penting, dan menentukan dalam membangun kesejahteraan masyakarat. Zakat akan melahirkan dermawan yang suka memberi, bukan sosok yang menggerogoti. Seorang muzakki akan terhindar dari sifat kikir yang merupakan "virus ganas" dan penghambat paling utama lahirnya kesejahteraan masyarakat.

Zakat akan menjadi obat paling mujarab untuk tidak menjadi hamba dunia dalam kadar yang melewati batas. Ia akan mengingatkan kita bahwa harta itu adalah sarana dan bukan tujuan hidup kita.

Para muzakki akan memiliki kekayaan batin yang sangat tinggi, sehingga dia akan menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang suka meringankan beban orang lain, yang memiliki kedalaman cinta pada sesama dan simpati pada manusia. Tentunya, zakat pasti akan membuat harta kita berkembang dan penuh berkah.

Bagi si penerima (mustahiq), zakat memiliki arti yang penting. Karena dengan zakat, dia menjadi terbebas dari kesulitan-kesulitan ekonomi yang sering kali menjerat langkah dan geraknya. Dengan zakat, akan muncul rasa persaudaraan yang semakin kuat dari mereka yang menerima. Sebab, mereka merasa "diakui" sebagai bagian dari "keluarga besar" kaum muslimin yang tidak luput dari mata kepedulian kaum muslimin lain, yang Allah beri karunia berupa harta.

Dengan demikian, tidak akan muncul sifat dengki dan benci yang mungkin saja muncul jika orang yang kaya menjelma menjadi sosok apatis dan tidak peduli kepada orang-orang yang secara ekonomis tidak beruntung. Ini adalah praktik langsung dari apa yang Rasulullah saw. sabdakan, "bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya" (HR. Bukhari-Muslim)

Tak ada yang menyangkal bahwa zakat memiliki dampak sosial yang Sangat penting dan akan mampu menjadikan masyarakat terberdayakan. Karena Zakat merupakan salah satu bagian dari aturan Islam yang tidak dikenal di Barat, kecuali dalam lingkup yang sempit, yaitu jaminan pekerjaan. Jaminan pekerjaan dengan menolong kelompok orang yang lemah dan fakir.

Zakat bukan hanya memberikan jaminan kepada orang-orang miskin kaum muslimin, namun ia juga bisa disalurkan kepada semua warga negara apa saja yang berada di bawah naungan Islam. Seperti yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Saat itu, zakat diberikan oleh Umar kepada orang-orang Yahudi yang meminta-minta dan berkeliling dari pintu ke pintu. Umar memerintahkan agar dipenuhi kebutuhannya dengan mengambil dari Baitul Mal kaum muslimin (Hukum Zakat: 880).

Dengan zakat, akan lahir manusia-manusia mandiri, manusia-manusia Suka bekerja, dan tidak suka meminta-minta. Zakat akan mempersempit Kelompok manusia miskin dan akan menumbuhkan gairah manusia untuk menjadi muzakki dan bukan mustahiq. Kesadaran untuk berzakat, akan mendorong setiap muslim bekerja dalam batas optimal, dan akan memposisikan diri sebagai "sumber kebaikan" bagi yang lain.

Munculnya lembaga-lembaga zakat profesional di Indonesia saat ini, Telah memberikan harapan besar bagi usaha pemerataan distribusi harta kekayaan dan meminimalisasi kemiskinan dan penderitaan yang banyak diderita masyarakat. Munculnya Dompet Dhuafa' (DD) Republika, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Dompet Sosial Ummul Qura (DSUQ), Baitula Maal Muamalat telah Terbukti memberikan seberkas cahaya penyelamatan berarti untuk beberapa orang tak mampu.

DD misalnya telah berhasil membuka klinik LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) yang dananya dihimpun dari dana zakat, infak, dan sedekah. Di samping itu, ia juga telah berhasil memberikan dana pendidikan melalui beasiswa bagi siswa-siswa SMP Ekselesinsia.

Harapan pemberdayaan dan keberdayaan ini akan semakin cerah dan terbuka, jika kita - umat Islam - semakin sadar untuk mengeluarkan zakat. Bulan Ramadhan kali ini, merupakan saat yang tepat untuk melipatgandakan Kesadaran itu. Semoga kita berhasil. Amien.


Sumber:
30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan
Suci

Penulis:
Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA
Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA
A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad,
Sp.THT

Source: IKADI

Thursday, October 04, 2007

Artikel Serial Ramadhan (23)

GAIRAH SEDEKAH NABI DI BULAN SUCI
Tidak ada yang meragukan keteladanan Rasulullah saw. dalam berderma dan bersedekah. Beliau adalah orang yang paling dermawan dan paling teladan dalam bersedekah. Rasulullah saw. tidak pernah menyisakan harta benda dan membiarkannya berdiam di rumahnya lebih daripada satu hari. Beliau selalu memberi sesuatu yang diminta oleh orang lain bila beliau memilikinya, dan tidak pernah menolak atau menghardik orang yang meminta.
Di samping mencontohkan keteladanan dalam bersedekah dan berinfak, Rasulullah saw. juga sering sekali menyuruh dan menganjurkan umatnya untuk berinfak dan bersedekah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Dalam salah satu hadistnya, Rasulullah saw. bersabda, "Jagalah dirimu dari api neraka walau hanya dengan setengah biji kurma dan bila tidak menemukannya, maka hendaklah dengan kalimat yang baik". (HR.Bukhari-Muslim)
Anjuran ini menggugah setiap mukmin untuk gemar berinfak dan bersedekah. Namun, tidak semua orang yang mengaku muslim gemar berinfak dan berusaha meneladani Rasulullah saw. Karena sesungguhnya, manusia diciptakan dengan tabiat cinta harta dan sangat bakhil dengan harta yang ada di tangannya. Allah swt. menjelaskan hal itu dalam firman-Nya sebagai berikut,
“dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Al-‘Aadiyaat:8).
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir“ (Al-Ma’arij: 19-21)
Kegemaran berinfak adalah bertolak belakang dengan tabiat dan karakter manusia yang mencintai harta benda dan berlaku kikir. Menghalau sifat kikir dan mengikisnya dari jiwa memerlukan usaha maksimal dan latihan terus-menerus. Karena bila tidak, maka selamanya manusia akan difitnah dan diperbudak oleh harta benda. Harta benda akan menjadi penghalang kebahagiaannya yang hakiki dan sejati. Ia membelenggunya, sehingga tidak dapat menemukan jalur menuju kesenangan dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Sebaliknya, orang yang berhasil mengalahkan sifak kikirnya, adalah orang-orang yang berbahagia dan berhasil melepaskan diri dari perbudakan harta dan dunia. Allah swt. memuji orang-orang yang mampu mengalahkan sifat kikir dan cintanya yang berlebihan terhadap harta benda, dan menjanjikan kepada mereka keberuntungan yang tak terkira. Allah swt. Berfirman,
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9).
Terapi, Al-Qur’an terhadap sifat kikir dan terlalu cinta kepada harta benda, telah menyadarkan manusia bahwa sesungguhnya harta benda itu hanyalah kenikmatan semu, menipu dan melenakan. Ia hanyalah ujian dan fitnah bagi manusia. Allah swt. Berfirman,
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Al-Anfaal: 28)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 261).
23.1. Tuntunan Rasulullah saw. dalam Bersedekah di Bulan Suci
Rasulullah saw. adalah orang paling besar dan paling banyak bersedekah dengan apa yang dimilikinya. Beliau tidak pernah memandang banyak apa yang diberikannya, karena Allah juga tidak memandangnya remeh dan sedikit. Tidak seorang pun meminta sesuatu kepada beliau kecuali beliau selalu memberikannya, baik sedikit ataupun banyak.
Sedangkan kegembiraan dan kebahagiaan beliau karena bisa bersedekah dengan pemberian yang diberikannya adalah lebih besar dari pada kegembiraan orang yang menerima sedekah itu karena mendapatkan apa yang dimintanya. Bila dihadapkan kepada beliau seseorang yang membutuhkan bantuan, beliau lebih mengutamakannya dibandingkan dirinya sendiri, kadangkala dengan makanannya dan kadangkala dengan pakaiannya.
Rasulullah saw. mengeluarkan sedekah dan pemberiannya dengan bermacam-macam cara. Kadangkala dengan memberikan hadiah, dengan bersedekah, dengan pemberian dan penganugerahan, kadangkala juga dengan membeli sesuatu kemudian memberikan barang tersebut sekaligus dengan harganya kepada penjualnya. Kadangkala dengan meminjam sesuatu kemudian mengembalikan kepada pemberi pinjaman, sesuatu yang lebih banyak dan lebih baik daripada sesuatu yang dipinjamnya.
Rasulullah saw. menerima hadiah dan membalasnya dengan yang lebih banyak dan lebih baik, sebagai kasih sayang dan memvariasikan bentuk-bentuk berbuat ihsan dengan segala yang memungkinkan. Rasulullah saw. berbuat ihsan dengan apa yang dimilikinya, dengan keadaannya dan perilakunya, dan dengan perkataannya.
Siapa pun yang berinteraksi dengan Rasulullah saw., tidak akan mampu menguasai jiwanya dari kedermawanan. Karena kedermawanannya itu, Rasulullah saw. adalah orang yang paling lapang dadanya dan paling bahagia jiwanya. Karena sesungguhnya, sedekah dan perbuatan yang makruf itu mempunyai pengaruh luar biasa dalam melapangkan dada.
Penyebab lain yang melapangkan dada, yang termasuk penyebab terbesar adalah mengeluarkan hal yang merusak hati, yaitu sifat-sifat yang tercela seperti bakhil dan kikir dan lain-lain. Walaupun seseorang sangat kaya dan berlebihan dalam hidup, sifat-sifat itu akan menghalangi dari berinfak dan bersedekah.
Puasa yang mengharuskan orang untuk meninggalkan makan dan minum atau mengurangi biaya konsumsinya dalam bulan puasa, membuat orang memiliki banyak peluang dan kesempatan dalam menafkahkan kelebihan hartanya. Namun, gaya hidup yang berlebihan dan makna puasa yang belum banyak diresapi dan disadari oleh umat Islam, membuat banyak dari umat justeru mengeluarkan biaya dan dana konsumsi yang lebih banyak di bulan Ramadhan daripada di bulan-bulan lainnya.
Seharusnya kita meneladani Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Beliau dikenal sebagai orang yang paling banyak berderma dan bersedekah, dan pada saat bulan Ramadhan, Rasulullah saw. meningkatkan kualitas dan kuantitas sedekah dan infaknya. Simaklah riwayat berikut,
Úä ÇÈä ÚÈÇÓ ÞÇá: ßÇä ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÃÌæÏ ÇáäÇÓ¡ æßÇä ÃÌæÏ ãÇ íßæä Ýí ÑãÖÇä Ííä íáÞÇå ÌÈÑíá¡ æßÇä íáÞÇå Ýí ßá áíáÉ ãä ÑãÖÇä ÝíÏÇÑÓå ÇáÞÑÂä¡ ÝáÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÃÌæÏ ÈÇáÎíÑ ãä ÇáÑíÍ ÇáãÑÓáÉ.
Dari Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan. Dan sesungguhnya beliau paling dermawan pada saat bulan Ramadhan. Ketika Jibril datang menemui beliau pada tiap-tiap malam Ramadhan untuk mentadarruskan Al-Qur'an. Rasulullah saw. lebih dermawan daripada angin yang bertiup bebas.” (HR. Bukhari -Muslim)
Sungguh telah datang kepada kita bulan Ramadhan, dimana Allah membawa berkah rahmat dan maghfirah di dalamnya. Ramadhan adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan, dimana Allah swt. mengundang kita untuk menjadi tetamu-Nya, untuk dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini, nafas-nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal-amal kita diterima dan doa-doa kita diperkenankan dan diijabah.
Bermohonlah kepada Allah Rabb Anda dengan niat yang tulus dan hati yang suci, agar Allah membimbing kita untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya. Mintalah kepada-Nya, agar Dia menuntun Anda kepada hidayah-Nya, dan membersihkan hati Anda dari sifat kikir dan bakhil, dan sifat-sifat buruk lainnya.
Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Hindarilah kelaparan dan kehausan di hari yang dahsyat itu dengan bersedekah kepada kaum fuqara dan masakin, yang diperintahkan oleh Allah swt. Tuhan sekalian alam, satu-satunya Pelindung pada hari itu.
Ingatlah salah satu golongan dari tujuh golongan hamba yang akan dilindungi Allah swt. di hari kiamat adalah golongan keenam; “...orang yang menafkahkan hartanya dengan ikhlas karena Allah swt. sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya...” (HR.Bukhari dan Muslim)
Kasihilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatim Anda akan dikasihi Allah swt. setelah anda meninggal. Hapuslah air mata anak yatim, niscaya Anda beruntung meraih ridha Yang Maha Penyayang dan istana surga.
Ingatlah pesan Rasulullah saw. ketika beliau bersabda, "aku bersama pengasuh anak yatim di surga laksana dua jari ini, kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu membukanya.” (HR. Bukhari, Turmudzi, dan Abu Dawud).
Betapa mulianya orang-orang yang menyisihkan harta benda, waktu, dan umurnya untuk mengasihi orang-orang yang bernasib malang dan menderita.
Sambutlah Ramadhan dengan semangat berderma dan bersedekah sebanyak-banyaknya di jalan Allah swt.
Marhaban Yaa Ramadhan......
Sumber: 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis: Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (22)

WANITA SHALIHAH DI BULAN SUCI
Wanita di bulan Ramadhan memiliki banyak pilihan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Bagi wanita yang masih produktif dan belum mencapai usia monopause, biasanya ada jenjang masa haidh yang menghalanginya untuk menunaikan ibadah-ibadah tertentu yang mensyaratkan kesucian jasmani.

Tapi, apakah masa haidh itu menjadi halangan wanita dalam mencapai kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan? Apa pilihan-pilihan yang memungkinkan wanita untuk memaksimalkan dirinya guna beramal dalam kondisi demikian? Bagaimana wanita mengakselerasikan amalnya dalam mencapai ridha Allah dan balasan yang berlipat dari-Nya?

Masa haidh bukan menjadi penghalang bagi wanita untuk beribadah dalam setiap saat, termasuk di bulan Ramadhan. Masa haidh adalah ketetapan Allah swt. yang tidak mungkin ditolak dan dijadikan 'kambing hitam' penyebab kurangnya amal shaleh atau batasan dalam melakukan kebaikan. Wanita yang cerdas dan berorientasi akhirat pasti melihat banyak pintu-pintu kebaikan yang terbuka untuknya dalam kondisi apa pun, termasuk masa-masa haidh.
1. Masa-masa Suci
Masa-masa suci wanita adalah waktu yang sangat berharga, karena masa suci merupakan periode dimana wanita bebas melakukan ibadah-ibadah tertentu yang mensyaratkan kesucian. Oleh karena itu, puasa, shalat wajib ataupun sunah, umroh, bertawaf, dan lain-lain dapat dimaksimalkan dalam bulan Ramadhan pada masa-masa suci ini.
Shalat sunah hendaknya ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya sekaligus. Nilai keutamaan shalat sunah di bulan Ramadhan ditinggikan oleh Allah swt. menjadi senilai dengan nilai keutamaan shalat fardu di luar bulan Ramadhan. Hal ini merupakan keuntungan yang besar, bila wanita memanfaatkannya pada masa-masa sucinya.
Apalagi bila wanita lebih banyak memiliki waktu luang di rumah. Tugas memasak dan urusan rumah tangga lainnya, -walaupun ia juga merupakan bentuk ibadah lain- sebaiknya dilakukan pada waktu-waktu yang bukan waktu utama.

Waktu-waktu utama seperti sepertiga malam terakhir, malam hari lebih utama daripada seluruh waktu siang secara umum. Sebelum subuh dan setelahnya hingga waktu dhuha sebaiknya digunakan untuk beribadah mahdhah (murni) seperti shalat sunah, membaca al-Qur'an dan lain-lain.
Saat-saat menjelang buka puasa, seharusnya wanita tidak lagi disibukkan oleh urusan-urusan perlengkapan berbuka, tapi telah memusatkan diri dalam berdoa, berzikir, dan bermunajat kepada Allah swt. Saat-saat menjelang buka puasa termasuk waktu yang membuat kita sangat dekat dengan Allah swt. dan peluang makbulnya doa sangat besar. Walaupun secara umum, sepanjang waktu kita berpuasa merupakan jaminan waktu dimakbulkan doa seseorang oleh Allah swt.
Pada masa suci ini, terbuka lebar bagi wanita untuk meningkatkan interaksinya dengan Al-Qur'an. Membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, bisa diasah terus-menerus sehingga dapat mencapai tingkat orang-orang yang mahir dalam membaca Al-Qur'an. Latihlah lidah dengan tahsin dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an.
Tidakkah anda ingin mendapatkan janji Rasulullah saw., "Orang yang mahir dalam Al-Qur'an, maka dia bersama para rasul yang mulia dan berbakti, sedangkan orang yang membacanya dengan terputus-putus mengejanya, dan dia merasa kesulitan dalam membacanya, maka baginya mendapatkan dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berumrahlah di bulan Ramadhan karena Rasulullah saw. berpesan kepada seorang wanita Anshar, "Berumrahlah, karena umrah di bulan Ramadhan itu, pahalanya sama dengan pahala berhaji bersamaku". (HR. Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya, perhiasan Anda adalah dua raka'at di waktu sahur, bersedekah dengan sembunyi-sembunyi yang tidak diketahui melainkan hanya oleh Allah swt. semata-mata, air mata hangat yang membersihkan kesalahan-kesalahan, sujud yang panjang di atas sajadah ibadah, rasa malu kepada Allah swt. ketika digoda oleh instink-instink keburukan dan ajakan-ajakan syaitan.
2. Masa-masa Haidh atau Tidak Suci
Bersungguh-sungguhlah Anda dalam menegakkan kebaikan di jalan Allah swt. dan bergembiralah dengan khabar gembira yang terdapat di dalam hadits, "bila seorang wanita taat kepada Tuhannya, mendirikan shalat lima waktunya, menjaga kehormatannya, dia pasti masuk ke surga Tuhannya" (HR. Ahmad).
Bangkit dan rapikanlah rumah Anda, perpustakaan pribadi Anda. Tunaikanlah tugas Anda. dengarkanlah kaset yang bermanfaat, atau duduklah bersama para tetangga dan teman-teman Anda lalu bahaslah bersama mereka bahasan yang dapat mendekatkan Anda dan mereka kepada Allah.
Jangan sekali-kali Anda tunduk kepada kekosongan dan pengangguran. Perhatikanlah penampilan Anda, kecantikan tubuh Anda, dan memakai wewangian di dalam rumah Anda, duduk dengan tertib di majlis Anda, berakhlak baik menyambut suami Anda, di hadapan anak-anak Anda, saudara-saudara dan kerabat-kerabat Anda serta teman-teman Anda dengan senyuman yang tulus dan lapang dada.
Allah swt. menjanjikan balasan dan kedudukan yang sama di sisi-Nya pada setiap wanita sebagaimana Dia menjanjikan kepada laki-laki. Dia memuji wanita sebagaimana memuji laki-laki, Allah swt. Berfirman,
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Ahzab: 35).
Ayat ini menunjukkan bahwa Anda adalah pasangan dan mitra laki-laki, bahwa pahala Anda tersimpan di sisi Allah swt. Jadi, Anda memiliki kesempatan berbuat banyak kebajikan di rumah tangga Anda dan di masyarakat yang akan mengantar Anda menuju ridha Allah swt.
Pilihlah teladan dalam hidup Anda, Asiyah isteri Fir'aun, Maryam, Khadijah, Aisyah, Asma', Fathimah, semoga Allah meridhai mereka semuanya.. Mereka adalah wanita-wanita terpilih dan baik-baik, wanita-wanita mukminah, ta'at, berpuasa dan mendirikan shalat. Mereka ridha kepada Allah swt. dan Allah swt. pun ridha kepada mereka.
Cobalah keberuntungan Anda dengan buku yang bermanfaat, kaset yang berfaidah, baik dengan membaca ataupun mendengar. Simaklah tilawah yang merdu dari Kitabullah. Semoga satu ayat saja dapat menggetarkan jiwa Anda, masuk ke dalam hati dan menyentuh nurani Anda. Dengan demikian, bersamanya datanglah hidayah dan cahaya, dan bersamanya hilanglah rasa putus asa, keraguan, syubhat, dan depresi.
Telaahlah dalam-dalam rekaman-rekaman hadits, bacalah sabda nabi dalam kitab 'Riyadhus Shalihin'. Pasti Anda mendapatkan obat yang mujarab dan ilmu yang bermanfaat, yang menjaga Anda dari ketergelinciran dan kesalahan, menyembuhkan Anda dari penyakit.
Jadi, obat Anda terdapat dalam wahyu yang ada dalam al-Qur'an dan sunnah. Ketenangan Anda terdapat dalam keimanan. Kebahagiaan dan buah hati Anda ada dalam shalat. Kesehatan hati Anda ada dalam keridhaan. Ketenteraman nurani ada dalam kepuasan. Kecantikan wajah Anda ada dalam senyuman. Penjagaan kehormatan Anda ada dalam hijab menutup aurat. Dan, kedamaian jiwa Anda ada dalam berzikir.
Pakailah pakaian ketakwaan. Dengan demikian, Anda menjadi wanita paling cantik sejagat, walaupun pakaian Anda compang-camping. Dan jadikanlah selendang Anda, selendang rasa malu, karena dengan demikian Anda adalah wanita yang paling anggun di alam semesta, walaupun Anda tidak beralas kaki. Jauhilah kehidupan wanita-wanita bejat, kafir, ahli sihir, pelacur, dan tuna susila, karena mereka adalah bahan bakar neraka jahannam.
"Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka" (Al-Lail: 15).
Kelolalah nikmat Allah swt. dengan mensyukuri dan mentaati-Nya. Allah swt berfirman,
"Mereka mengetahui ni`mat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir" (An-Nahl: 83).
Jauhilah sikap kufur nikmat, karena sikap demikian sangat berbahaya, Allah swt berfirman,
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?" (Ibrahim: 28).
Tetaplah di rumah Anda, melainkan untuk urusan penting. Karena sesungguhnya rumahmu adalah rahasia kebahagiaanmu.
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (al-Ahzab: 33).
Di dalam rumah, pasti Anda temukan hakikat kebahagiaan dan dapat menjaga kehormatan Anda, wibawa, dan rasa malu Anda.
Sesungguhnya diantara jalan mencapai kebahagiaan dan meraih pahala kebaikan Anda adalah dengan memahami agama Anda, sebagaimana Rasulullah saw. Bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah swt., maka dia akan dipahamkan tentang agama". (HR. Bukhari dan Muslim)
Sadarilah bahwa sesungguhnya amal Anda yang paling mulia adalah mengenal dan mengetahui maksud Allah swt. dalam Kitab-Nya dan maksud Rasulullah saw. dalam sunnahnya. Perbanyaklah mentadabburi dan mempelajari Al-Qur'an bersama saudari-saudari Anda.
Wanita muslimah salehah adalah wanita yang pandai melayani suaminya dan mentaatinya, setelah mentaati Tuhannya. Rasulullah saw. telah memuji wanita seperti ini, dan menjadikannya sebagai teladan dimana laki-laki sangat beruntung mendapatkannya. Ketika Rasulullah saw. Ditanya, "siapa wanita yang paling baik?" Rasulullah saw. Bersabda, "wanita yang menyenangkan suami bila melihatnya, mentaatinya bila menyuruhnya, dan tidak menentangnya dalam dirinya dan tidak pula membelanjakan harta bendanya dengan sesuatu yang dibenci oleh suaminya". (HR. An-Nasa'i)
Teladanilah Khadijah Al-Kubra istri pertama dan istri yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. Selama menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai derita. Dialah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukannya. Dialah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga, Rasul bersabda, "Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah."
Kebaktian pada suami di dalam Islam adalah ibadah yang utama. Oleh sebab itu, hormatilah. Berikan kepadanya penghormatan dan kecintaan sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan memberkati keluarga yang seperti demikian.
Rasulullah saw. telah mengaitkan antara masuknya wanita ke surga dengan keridhaan suaminya. Dari Ummu Salamah ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda, " Siapa pun wanita yang meninggal dalam keridhaan suaminya, maka pasti masuk surga". (HR. Tirmidzi)
Jangan sekali-kali Anda ragu, bingung dan merasa hina, karena ingin bertaubat. Allah swt. mencintai orang-orang yang bertaubat mensucikan diri. Allah berfirman,
"...Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur: 31)
Taubat adalah mencuci hati dengan air mata penyesalan. Ia adalah api yang membakar dalam hati, iba kepada diri sendiri dalam jiwa, rasa kehancuran dalam nurani, dan cucuran air mata di pipi. Sesungguhnya, taubat itu adalah awal maqam orang-orang yang berjalan menuju Allah swt. Ia adalah bekal dan modal bagi orang-orang yang beruntung dan kunci istiqomah orang-orang yang condong kepada agama Allah swt.
Seorang yang bertaubat harus berkeluh kesah, mengaduh dan menangis. Bila orang lain merasa tenang dari azab Allah swt., hatinya tidak merasa tenang, dihantui oleh rasa takut taubatnya tidak diterima. Bila orang lain merasa tenteram, dia tidak pernah berhenti menangis tersedu-sedu. Bila orang lain beristirahat tenang, dia tidak bosan-bosan merintih dan merinding kulitnya.
Bila dia mengingat besar dosanya dan banyak kesalahannya, kesedihannya menjadi-jadi, api nuraninya membara, air matanya bercucuran, nafasnya tersengal-sengal dan terasa sesak karena dadanya terasa seolah terbakar. Dia telah berbulat tekad untuk berlomba-lomba menghadapi hari Esok, dan meremehkan segala urusan dunia agar mampu melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam dengan kecepatan setinggi-tingginya.
Ramadhan kali ini adalah pintu bagi kaum wanita untuk tampil paling cantik di sisi Tuhannya. Penampilan pemburu takwa dan surga Allah.
Sumber: 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis: Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Artikel Serial Ramadhan (21)

PEMBINAAN KUALITAS REMAJA DI BULAN PUASA

1. Remaja: Periode Kekuatan dan Kelabilan
Ibnu Katsir, tatkala menafsirkan ayat: "Allah menciptakan kamu dari kelemahan, kemudian menjadikan kuat setelah masa lemah, lalu menjadikan lemah kembali dan beruban, Dia menciptakan sehendak-Nya, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa " (Ar-Ruum: 54), menjelaskan bahwa yang dimaksud masa kuat dalam ayat itu adalah periode remaja (Adolescence) dan dewasa (Adulthood).
Dari sisi fisiologis dan psikologis, penulis memperkirakan "masa kuat" itu berada pada fase remaja akhir (remaja paripurna, usia 14-21 tahun atau 15-22 tahun) dan masa dewasa (21-30 tahun). Perkiraan penulis ini didasarkan pada realitas remaja salaf yang pada masanya mampu menunjukkan kualitas kemampuannya dalam berbagai bidang. Sebagai misal, Usamah bin Zaid di usianya yang baru 17 tahun diberi amanah sebagai panglima perang dalam peristiwa Tabuk melawan Romawi.
Muadz bin Jabal saat diambil sumpah sebagai hakim agung, usianya masih 18 tahun. Meski diusianya yang masih belasan tahun, Salim Maula Abu Hudzaifah diakui Umar sebagai seorang kandidat pemimpin handal, sehingga Khalifah Umar bin Khattab mengatakan: "Kalau Salim masih hidup, maka dialah yang layak menjadi penggantiku". Begitu pula dengan Abu Ubaidah, diusianya yang masih relatif muda dikenal sebagai ahli manajemen dan ahli strategi perang besar yang pernah terjadi dalam sejarah keemasan Islam periode awal.
Jauh sebelumnya, sejarah juga membuktikan bahwa perjuangan Islam tidak luput dari peran kaum muda. Para Nabi, sebut saja Nabi Daud As, Nabi Yusuf As, Nabi Ibrahim As, Nabi Ismail As, Nabi Isa As dan Nabi Muhammad sendiri adalah dari kalangan muda. Selain itu, Al-Qur'an mengabadikan kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua), kisah Ashabul Ukhdud, dan kisah Hawariyyun (pengikut Nabi Isa As).
Semuanya adalah orang-orang muda yang telah menunjukkan kekuatannya seperti yang dituturkan Allah dalam surah Ruum ayat 54 di atas. Kekuatan yang menurut Sayyid Quthb bukan saja ditunjukkan dari dimensi fisologis, tetapi psikologis (Fi Zhilal al-Qur'an 5/2776), yang dalam terminologi psikologi dirumuskan usia mental (mental age) mereka jauh lebih dewasa dari usia kalender (calendar age) mereka.
Zakiah Drajat (Kesehatan Mental, 1988/104) mengqiaskan, bahwa masa remaja merupakan jembatan penghubung yang membentang antara masa bergantung pada orangtua (masa anak-anak) dan masa mandiri, bertanggungjawab, memiliki prinsip, dan berfikir matang (masa dewasa). "Jembatan" itu ditempuh kurang lebih selama 7 tahun. Perbedaan waktu yang cukup panjang itu tidaklah dilalui dengan stabil, tetapi mengalami pancaroba (pubertas).
Masa remaja merupakan ujung dari masa anak-anak. Kemampuan remaja melalui "jembatan pancaroba" itu ditentukan oleh rangkaian pendidikan di masa anak-anak. Bagaimana jadinya di masa dewasa, sangat ditentukan dari kemampuan ia menempuh masa 7 tahun pancaroba itu.
Oleh karena itulah, Islam memerintahkan para orangtua menyelenggarakan pendidikan anak sejak dini sebagai pembentukkan fondasi karakter kepribadian Islami yang kokoh. Sehingga, saat ia menempuh masa pancaroba, anak tetap pada jati diri keislamannya.
Pertumbuhan fisik, intelektual, dan emosi pada masa remaja berlangsung sangat cepat. Remaja tumbuh menjadi sosok yang kuat, wawasan keilmuannya bertambah luas dan dalam, sehingga tumbuh pula sebagi sosok yang kritis. Sementara, dimensi emosinya masih belum stabil, dimana keinginannya lebih menggebu ketimbang pertimbangan rasionya. Sehingga, ia berkembang pula menjadi sosok "pemberontak" terhadap realitas.
Maka, tidak dimungkinkan lagi para orangtua menganggap ia sebagai anak-anak yang masih berusia 8 atau 10 tahun. Atau sebaliknya, dengan melihat tubuh fisiknya yang besar, para orang tua memperlakukannya sebagai orang dewasa yang semuanya mampu dilakukan secara mandiri dengan kemampuan berfikir matang dan pengalaman banyak dengan emosi yang stabil.
Keliru dalam mendidik remaja, akan dapat berakibat fatal dalam perkembangan mental, intelektual, dan spiritualnya. Sebagaimana hal tersebut terjadi pada para ABG bangsa ini: konsumeris, materialistis, hedonis, dan mengalami penyimpangan perilaku seperti madat, narkoba, penyimpangan seksual, tawuran, dan penyimpangan psikis serta sosial lainnya.
2. Remaja : Antara Generasi Penerus dan Generasi Terakhir
Masa remaja bisa berujung pada masa kedewasaan yang berkarakter al-'abdu ash-shalih al-mushlih (hamba yang shalih secara individu dan manjadi penggerak perubahan positif dalam masyarakatnya) atau pemuda yang "salah lagi lemah". "Salah" aqidah dan ibadahnya, "lemah" fisik, mental, dan kemampuannya.
Jangan sampai generasi muslim bangsa ini seperti generasi terakhir ummat sebelum dimusnahkan dengan berbagai bencana. Allah swt. berfirman,
"Telah pulang yang taat dan digantikan oleh generasi baru, yang hanya menyia-nyiakan shalatnya, serta menurutkan kehendak syahwatnya, memperluas masyarakat perzinaan. Mereka akan menemui bermacam-macam bahaya dan bencana" (Maryam : 59).
Hakikat Islam adalah perbaikan dan penyempurnaan akhlak. Indentitas ummat Islam adalah akhlaknya. Abul A'la Al-Maududi mengatakan, musnahnya sebuah masyarakat atau bangsa bila telah lenyap indentitas kebangsaannya atau hancur melebur kedalam indentitas bangsa yang lain.
Allah swt. menegaskan bahwa musnahnya bangsa-bangsa yang pernah mentas di panggung sejarah, pangkal musababnya adalah rusaknya akhlak sebagi akibat "mendustakan agama", bukan oleh sebab ekonomi atau lemah angkatan bersenjatanya, seperti ditegaskan Allah swt.,
"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (Al-Qur'an dan Terjemah Departeman Agama, memberi catatan kaki : "yang dimaksud sunnah-sunnah Allah disini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana, yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul"). Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)" (Ali Imron: 137). Ahli hikmah mengatakan, "Umat-umat ini akan berdiri tegak dengan akhlak mulia, jika tidak ada akhlak (tidak bermoral) maka umat itu akan punah".
3. Puasa: Teknik Pengembangan Kualitas Remaja
Puasa sesungguhnya merupakan salah satu teknik pengembangan pribadi muslim, baik dari sisi fisik maupun psikis. Terutama dari sisi kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Bagi remaja yang lazimnya berkarakter intelektuaitasnya tengah mengalami perkembangan pesat, kritis, tetapi dari sisi emosi labil dan dalam proses pencarian diri, maka puasa merupakan teknik penyeimbang dari gejolak jiwa remajanya itu.
Puasa akan meredam sisi negatif kecenderungannya dan mengoptimalkan potensi serta kemampuan positifnya. Puasa mengembangkan sikap ihsan dan sabar yang sesuai dengan pilar-pilar SQ dan EQ. Bahkan ihsan dan sabar merupakan pintu masuk pada pengembangan SQ dan EQ.
SQ ditandai dengan kemampuan merasakan kehadiran Tuhan yang pada gilirannya berimplikasi pada ketenangan jiwa. Kehadiran Allah swt. hanya akan dapat dirasakan bila hati bersih dari aneka kotoran dan penyakit. Puasa adalah teknik penyucian jiwa dari kotoran dan penyakit hati. Penyakit hati, seperti keangkuhan, dengki, berambisi pada posisi tertentu dan riya merupakan sumber keresahan jiwa (stress).
Penyakit-penyakit hati itu akan tumbuh subur pada masa remaja yang mengalami fluktuasi gejolak jiwa akibat rasionya mempertanyakan kembali konsep agama dan Tuhan, ambisinya yang melampui pertimbangan akal sehatnya, dan kebutuhan pada pengakuan sosial yang acapkali menampakkan dirinya pada tataran aksesoris ketimbang esensi kemampuannya mengelola hidup secara mandiri. Melalui puasa, remaja dilatih ikhlash dan rendah hati, yang tercermin dari ucapan dan perilakunya lebih berorientasi pada obyektifitas ajaran Allah swt.
EQ ditandai dengan kemampuan mengelola emosi. Sedangkan sabar adalah kata lain dari kemampuan mengendalikan emosi. Dalam sikap sabar terkandung 4C, yaitu:
Pertama: Commitment, yaitu niat atau tekad yang menghunjam dalam kalbu untuk mencapai cita. Komitmen ini pula yang menentukan maju atau mundurnya usaha seseorang. Dengan komitmen yang tinggi remaja tidak akan pernah putus asa. Komitmen ini diperlukan remaja yang seringkali melakukan sesuatu tanpa orientasi yang jelas.
Kedua: Consistence, yaitu satu padunya isi hati dan fikiran dengan ucapan dan tindakan. Kecenderungan remaja cepat merubah arah tujuan hidupnya karena labilnya emosi yang kemudian mempengaruhi keputusannya, hanya akan berakhir pada kehampaan dan penyesalan. Dengan shibghoh puasa, remaja dilatih memiliki sikap sabar yang salah satunya berdimensi konsisten dengan tujuan esensial dan tidak pernah menggeser arah untuk tujuan yang temporer.
Ketiga: Consequence, yaitu siap dan sabar menanggung risiko. Remaja sangat membutuhkan pengakuan bukan sekedar eksistensinya, tetapi juga kemampuannya dalam memilih dan melakukan sesuatu dengan bertanggungjawab. Ibadah puasa akan memperkokoh dorongan alamiahnya, berani, dan sabar menanggung risiko. Ia terlatih tidak akan berhenti di tengah jalan oleh karena ia gagal, melainkan segera bangkit meneruskan perjalanan yang belum usai.
Keempat: Continues, yaitu sikap sabar melalui proses tahap demi tahap secara berkelanjutan. Sabar dalam ikhtiar merupakan penawar dari sikap remaja yang segera ingin mendapatkan hasil secara instant.
4. Kriteria Pengembangan Program
Rancangan program pembinaan remaja di bulan puasa harus mempertimbangkan aspek syariah, perkembangan karakter, dan kebutuhan pada tiap fase dan permasalahan remaja. Ketiganya merupakan fundamen mendasar dan krusial dalam membahas apa dan bagaimana membina remaja di bulan puasa.
Karena pertama, setiap fase mengindentifikasikan perkembangan fisik dan mental yang berbeda-beda, sehingga implikasi tujuan, materi, dan model pembinaan remaja itu berbeda-beda pula, sesuai dengan tahap perkembangan. Kedua, permasalahan remaja secara umum perlu diketahui akar-akar pemicunya, sehingga program pembinaan itu mencakup pula alternatif solusi dari permasalahan kenakalan remaja itu.
Tanpa menimbang faktor syari'ah, psikologis, dan realitas tantangan itu, maka program pembinaan remaja di bulan Ramadhan ini akan kurang diminati oleh remaja itu sendiri, tidak memiliki relevansi yang signifikan terhadap realitas kebutuhan remaja, dan kurang menimbulkan efek positif bagi perkembangan potensi dan kemampuannya.
5. Program Pembinaan Remaja di Bulan Puasa
Secara umum, rancangan program pembinaan remaja di bulan Ramadahan, dapat disusun sebagai berikut:
ASPEK PERKEMBANGAN PROGRAM PEMBINAAN KEAGAMAAN
. Kritis terhadap konsep dan praktik keagamaan yang tidak sejalan. . Perkembangan wawasan Keilmuan yang berimplikasi pada pertarungan pemikiran keagamaan dan isme-isme . Pengalaman ruhaniyah menghendaki penyegaran makna lebih dari sekedar rutinitas ritual atau kewajiban
1. Penyegaran paham keagamaan sesuai dengan perkembangan wawasan keilmuannya dan penerapan ekspresi aqidah, disiplin ibadah dan akhlak. Bentuk Program: pesantren kilat, diskusi buku, tadabur Al-Qur'an, perbandingan agama/isme, menghidupkan/pembudayaan sunnah Rasulullah di bulan Ramadhan (zikir, shalat sunnah, improvisasi amal shalih, qiyamul lail, I'tikaf dsb)
KEBUTUHAN Hubungan sosial yang lebih bermakna, mencapai peran sosial, pengembangan fisik secara optimal, kebebasan memilih dan bertanggungjawab, pengembangan potensi dan kemampuan, serta bimbingan pemikiran dan nilai yang demokratis.
2. Pengembangan potensi dan Kemampuan: mental, IQ, jasmani, sosial. Bentuk Program: pelatihan pengembangan potensi dan kemampuan seperti jadi da'i muda, keterampilan, kepemimpinan, akademik, profesi. Pemberian kepercayaan dan tanggungjawab melalui pelibatan dalam kepanitiaan ifthar jamai, ZIS, I'tikaf dan kepengurusan masjid, pembentukan organisasi remaja mandiri, klub belajar, tadabur alam, kreatifitas seni dan lomba, usaha kecil dsb.
3. Dialog kaum tua dan remaja. Bentuk: diskusi atau seminar dialogis dengan disiplin adab berbeda pendapat/ukhuwah, mentoring, jumpa tokoh. Melibatkan dalam rapat-rapat urusan kemasyarakatan.
KEPRIBADIAN . faktor internal (persepsi, sikap, motivasi) . faktor eksternal (keluarga, sekolah, masyarakat)
4. Pengembangan kepribadian produktif. Bentuk pelatihan manajemen diri (EQ dan SQ), adab mua'malah, social project team work.
PERMASALAHAN Membolos, putus sekolah, berbohong, tindakan kekerasan, narkoba, cabul, membuat gank, tawuran, mencuri, serta melawan orang tua dan guru
5. Bimbingan konsep diri, pemecahan masalah, manajemen waktu, karier dan seks, ruqyah dalam Islam dengan tinjauan pskologi dan manajemen.
JASMANI Pertumbuhan fisik yang sangat cepat tetapi di lain sisi berakibat terjadinya disharmonisasi antar pertumbuhan fisik, pertumbuhan alat kelamin, mengalami gangguan kesehatan
6. Aktif dalam atau mengorganisir klub olah raga, disiplin dalam kesadaran pengaturan gizi dan makanan, pakaian yang menutup aurat, gaya hidup muslim, organisasi aktivitas dan teman bermain dan lain, pemeriksaan kesehatan, berbekam.
Dengan program pembinaan yang menempatkan remaja sebagai subyek pembinaan melalui pembelajaran dialogis dan pemberian kepercayaan, keleluasaan ekspresi, kreatifitas, dan pada pemberian beban tanggungjawab dalam bingkai kurikulum pembinaan remaja terpadu. Insya Allah program ini akan diminati oleh remaja itu sendiri dan akan mengembangkan potensi serta kemampuan remaja sebagai generasi muslim yang berkualitas, dapat terlaksana secara optimal, di samping meredam gejolak jiwa negatif remaja. Wallahu A'lamu Bish-Showab.
Sumber: 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis: Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI