Senin, November 09, 2009

MENCARI KEADILAN DEMI SI BUAH HATI

SUMBER: http://riaupos.com/berita.php?act=full&id=7233&kat=7

Mencari Keadilan untuk 35 cm Usus yang Hilang
Dari Air Molek ke Jakarta Mengendarai Sepeda Motor
9 November 2009
16 klik Beritahu Teman

Laporan M FATHRA NAZRUL ISLAM, Rengat mfathranazrulislam@riaupos.com
Ide Syamsuddin, orangtua dari Ellyna Fitri (10), yang merasa menjadi korban dugaan malapraktik di rumah sakit di Rengat, akhirnya memperjuangkan nasib anaknya ke Komnas Anak, KPAID Pusat, Menkes RI, dan Mabes Polri. Berikut penuturannya.

Profesionalitas seorang dokter dalam menjalankan profesinya kembali dipertanyakan dalam kasus dugaan malpraktik, terhadap Ellyna Fitri, anak pasangan Ide Syamsuddin dan Sulastri, warga Candirejo, Air Molek, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), pada bulan Juli 2008 silam.

Pada suatu Jumat, di bulan Juli itu, Ellyna Fitri yang merupakan anak pertama dari tiga bersudara masih duduk di bangku kelas V salah satu sekolah dasar di Air Molek, pulang ke rumah dalam keadaan sakit dan mukanya pucat. Kepada neneknya, Muntamah, Ellyna mengeluh sakit perut. Keluarga yang tidak tahan melihat penderitaan Ellyna, akhirnya membawanya ke Klinik Ibnu Sina, Air Molek, tepatnya tanggal 27 Juli 2008.

Dokter yang bertugas di Ibnu Sina waktu itu mendiagnosa Ellyna sakit tifus. Tanggal 28 Juli 2008 dibawa ke RSUD Indrasari Rengat. Oleh dokter yang menangani Ellyna langsung didiagnosa usus buntu, dan harus segera dioperasi malam itu juga. Namun operasi pertama itu baru bisa dilakukan tanggal 29 Juli, dan Ellyna menjalani perawatan kembali di Ibnu Sina.

Karena tidak ada perubahan dan Ellyna muntah-muntah, pihak keluarga kembali membawanya ke RSUD Indrasari, serta menjalani perawatan selama satu pekan. ‘’Waktu itu dirawat di ICU, tapi tetap tidak membaik dan perutnya malah makin menggembung,’’ kenang nenek Ellyna, Muntamah, yang ditemui Riau Pos di rumahnya, Air Molek, Sabtu (7/11).

Pihak keluarga dan RSUD Indrasari akhirnya memutuskan membawa anak itu ke RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, tanggal 11 Agustus 2008. Ellyna kemudian di rontgen, tapi pihak rumah sakit tidak mengatakan apa-apa. Berikutnya 12 Agustus Ellyna dibawa ke RS Awal Bros, Pekanbaru dan 13 Agustus dilakukanlah operasi, sebab usus Ellyna sepanjang 22 sentimeter telah infeksi. Di rumah sakit ini Ellyna menjalani perawatan selama 2 bulan 1 pekan. Operasi terakhir di Awal Bros tanggal 11 September 2008.

Selama tahun 2009, Ellyna kembali dirawat di RS Awal Bros tanggal 23 Juli dalam keadaan koma. ‘’Operasi pertama di RSUD Indrasari, 7 centimeter usus anak saya dipotong, operasi kedua dan ketiga di Awal Bros masing-masing dipotong 22 centimeter, dan 6 centimeter, jadi selama 45 hari perawatan, sudah 35 sentimeter usus anak saya yang hilang,’’ ungkap Ide Syamsuddin, saat dihubungi Riau Pos, Ahad (8/11) saat masih berada di Jakarta. Dia menyesalkan sampai saat ini anaknya masih menderita mual dan muntah, bahkan untuk makan sepiring nasi, Ellyna butuh waktu berjam-jam menghabiskannya.

Ide mengaku sudah meminta pertanggung jawaban dokter di RSUD Indrasari, mengadu ke IDI Inhu, RSUD Indrasari, KPAID Inhu dan Provinsi, Pemkab Inhu, dan Diskes Inhu, tapi semuanya seakan tidak peduli dengan keadaan anaknya. Kepada Pemkab Inhu, IDI, RSUD dan Diskes yang pernah datang ke rumahnya di Candirejo, Ide meminta dilakukan pemeriksaan akhir pada anaknya.

‘’Waktu itu saya minta dibawa ke Malaka (Malaysia, red), tapi hanya disepakati ke RSCM Jakarta, tiga bulan saya tunggu janji itu, tidak juga terealisasi,’’ keluh Ide. Kemudian Kadiskes Inhu Helmi A Manaf menyarankan Ide minta bantuan biaya ke Bupati. ‘’Tiga pekan saya bolak balik ke kantor bupati, sudah seperti pengemis saya, tapi dari total biaya yang diperlukan untuk ke RSCM Jakarta sebesar Rp22 juta, Pemkab hanya membantu Rp5 juta,’’ ungkap Ide.

Atas kesepakatan keluarga, Ide akhirnya memanfaatkan dana Rp5 juta dari Pemkab Inhu itu untuk biaya berangkat ke Jakarta, guna mencari keadilan untuk 35 centimeter usus anaknya yang hilang. Ide berangkat ke Jakarta 22 Oktober lalu untuk melakukan survei tempat-tempat yang akan dia tuju, di antaranya Komnas Anak, Menkes RI, KPAID Pusat, Mabes Polri dan beberapa lembaga lain. Dari Air Molek ke Jakarta Ide mengendarai sendiri sepeda motornya, dan menempuh perjalanan lebih seribu kilometer itu dalam waktu lebih kurang selama 34 jam. Kemudian tanggal 3 November, Istri Ide, Sulastri dan anaknya Ellyna menyusul menggunakan pesawat ke Jakarta.

Selama di Jakarta, Ide sudah menemui Ketua Komisi Perlindungan Anak, Kak Seto, dan mantan Menteri Kesehatan Sitti Fadhilah Supari. Menurut jadwal, Ide dan keluarganya akan bertemu langsung dengan Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu, pada Senin (9/11) pagi ini. ‘’Saya sudah komunikasi melalui SMS dengan ibu menteri, dan sudah menceritakan tentang penderitaan anak saya,’’ kata Ide, yang kini berjuang hidup di Jakarta dengan dana sangat terbatas, menunggu keadilan untuk anaknya.

‘’Bukan hanya anak saya yang sudah menjadi korban, saya juga menemukan ada 12 korban lain yang nasibnya sama dengan anak saya, dan semuanya usus buntu,’’ pungkas Ide yang berharap tidak ada lagi Ellyna, Ellyna lainnya di Kabupaten Indragiri Hulu, Rengat.***

Tidak ada komentar: