Sabtu, November 21, 2009

ANJURAN MENINGKATKAN IBADAH PADA SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN SHALAT IDUL ADHA

BAYAN DEWAN SYARI’AH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
NOMOR : 31/B/K/DSP-PKS/1430
TENTANG
ANJURAN MENINGKATKAN IBADAH
PADA SEPULUH HARI PERTAMA
BULAN DZULHIJJAH DAN SHALAT IDUL ADHA
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci)
dimana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga
merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah
suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima.
Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan
dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan
malam bila berlalu” (QS Al-Fajr : 1-4)
Allah SWT. bersumpah dengan lima makhluk-Nya, bersumpah dengan waktu fajar,
malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil dan malam ketika berlalu. Dan para
ulama tafsir seperti, Ibnu Abbas ra, Ibnu Zubair ra, Mujahid ra, As-Sudy ra, Al-
Kalby ra. menafsirkan maksud malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama
bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
karena keutamaan beribadah pada hari tersebut, sebagaimana hadits Rasul saw, :

2
Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal
shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama
Dzulhijjjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya Rasulallah saw, tidak juga jika dibandingkan
dengan jihad di jalan Allah?“ Rasul saw. menjawab, ”Tidak juga dengan jihad,
kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali
(gugur sebagai syahid).” (HR Bukhari)
AMAL SHALIH DI SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH
1. Takbir, Tahlil dan Tahmid

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”
(QS Al-Baqarah: 203)
Jumhur ulama sepakat bahwa beberapa hari berbilang adalah hari Tasyriq, yaitu
tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Imam Al-Bukhari memasukan hari Tasyriq pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah,
dan memiliki keutamaan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani memberikan komentar dalam kitabnya Fathul Bari:
pertama, bahwa kemuliaan hari Tasyriq mengiringi kemuliaan Ayyamul ‘Asyr;
kedua, keduanya terkait dengan amal ibadah haji; ketiga, bahwa sebagian hari
Tasyriq adalah sebagian hari ‘Ayyamul ‘Asyr yaitu hari raya Idul Adha.

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari-hari dimana amal
shalih paling utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari
pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah pada hari itu dengan Tahlil, Takbir dan
Tahmid.” (HR Ahmad dan Al-Baihaqi)
Berkata Imam al-Bukhari, ”Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra pada hari sepuluh
pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir
keduanya.”
2. Puasa sunnah, khususnya puasa sunnah ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah

Dari Abu Qatadah ra berkata, Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Arafah.
Rasul saw menjawab, ”Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang
akan datang.” (HR Muslim)
3. Memperbanyak amal ibadah, karena pahalanya dilipatgandakan, seperti shalat,
dzikir, takbir, tahlil, tahmid, shalawat, puasa infak dll.
3
Dari Jabir ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baiknya hari dunia
adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad di jalan
Allah tidak sebaik itu?” Rasul saw. menjawab, ”Tidak akan sama jika
dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan
wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).” (HR Al-Bazzar dengan sanad
yang hasan dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih)
4. Shalat ‘Idul Adha pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah)
Allah Ta’ala berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS al-Kautsar :
2)
Di antara makna perintah shalat disini adalah shalat Idul Adha. Berkata Ar-Rabi’,
“Jika engkau selesai shalat di hari Idul Adha, maka berkurbanlah.” Rasulullah
bersabda:

Dari Abu Said berkata, “Rasulullah saw. keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha ke
musholla. Yang pertama dilakukan adalah shalat, kemudian menghadap manusia –
sedang mereka tetap pada shafnya- Rasul saw berkhutbah memberi nasehat dan
menyuruh mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dari Ummi ‘Athiyah berkata, ”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan
yang sedang haidh keluar pada dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan
khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi musholla.”
(Muttafaq ‘alaihi)
Dalam menetapkan shalat Idul Adha (Hari Nahar) DSP mengacu pada semangat
kebersamaan dengan seluruh komponen umat Islam di Indonesia dan merujuk pada
Keputusan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan,
Syawal dan Dzulhijjah serta ketetapan/sidang itsbat Depag RI bersama ormas Islam.
5. Takbir dan berkurban di hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”
(QS Al-Baqarah: 203)

Dari Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Tidak ada amal anak Adam di hari
Nahr yang lebih dicintai Allah Azza wajalla dari menumpahkan darah.
Sesungguhnya kurban datang di hari kiamat dengan tanduk, kakinya dan bulunya.
Dan sesungguhnya darah sampai kepada Allah Azza wajalla di suatu tempat
sebelum jatuh ke bumi, maka perbaikilah jiwa.” (HR Ibnu Majah)
Pada hari Tasyriq juga masih disunnahkan untuk berkurban. Rasulullah saw.
bersabda,

“Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR Ahmad)
Demikian Bayan Dewan Syari’ah Pusat Partai Keadilan Sejahtera sebagai panduan
di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, semoga Allah memberikan keberkahan
kepada kita semua.
H 1 Dzulhijjah 1430 Jakarta,
17 November 2009 M
DEWAN SYARI’AH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, MA
KETUA

sumber: http://pk-sejahtera.org/v2/download/pdf/31-Bayan%20sepuluh%20hari%20awal%20Dzulhijjah.pdf

Tidak ada komentar: